
Pernyataan Milaine menyebabkan kegaduhan di seisi ruangan. Reaksi mereka menunjukkan pertentangan terhadap tudingan Milaine. Menyaksikan keributan yang diakibatkan oleh Milaine, Fiona langsung menarik tangan Milaine menjauh ke belakang. Fiona sepertinya sangat geram oleh sikap Milaine yang terkesan lancang.
“Omong kosong apa yang baru saja kau katakan?! Apa kau mau menghancurkan momen makan malam ini?!”
Fiona meninggikan suaranya, ia tak tahu lagi harus bagaimana mengatasi Milaine yang selalu suka seenaknya sendiri.
“Aku tidak berbicara sembarangan. Apabila tidak ada satu pun yang percaya, maka periksalah kandungan bubuk di botol ini,” ujar Milaine menyerahkan botolnya kepada Conrad.
Si pelayan yang dicurigai sebagai pelaku yang meracuni Conrad, sekarang dia tampak gelisah dan panik. Dia mencoba untuk merangkak keluar dari ruang makan, tetapi dia malah dicegat oleh Milaine.
“Siapa yang memberimu izin untuk bergerak? Apakah pukulanku tadi tidak cukup untuk membuatmu sadar?”
Tatapan dingin Milaine membuat sekujur badan si pelayan gemetar hebat. Rasa takut perlahan mulai menyentak bagian inti tubuhnya. Saat ini jantungnya seakan-akan melompat keluar dari sarangnya.
“Tidak, Nona. Anda salah paham, saya dijebak oleh seseorang. Tolong percaya kepada saya … saya mohon, Nona ….”
Pelayan tersebut bersimpuh sambil memegang kaki Milaine, tetapi sayangnya apa pun yang dikatakan oleh pelayan itu, Milaine menolak untuk mempercayainya.
“Hei, jangan mencoba untuk mengelak lagi.” Milaine mengangkat dagu si pelayan seraya mengapit rahangnya. “Lihat ujung kukumu! Aku melihat ada sisa racun di sana. Aku yakin, kau pasti berusaha keras untuk meraciknya. Aku benar kan? Kau ini sebenarnya sedang mengantar nyawamu ke kediaman Lysander.”
Sementara itu, Conrad mengamati bubuk racun yang ditemui Milaine barusan. Melihat dari aroma, warna, dan teksturnya, itu memang bukanlah bubuk biasa. Conrad pun menyerahkan racun tersebut kepada Veno.
“Pergi temui Gizdo. Suruh dia memeriksa kandungan apa yang ada di dalamnya. Aku beri waktu tiga puluh menit. Katakan padanya untuk cepat menyelesaikannya,” perintah Conrad.
“Baik, Tuan.”
Veno bergegas meninggalkan ruangan. Suasana di ruang makan kian memanas karena Milaine terus menerus mengintimidasi pelayan itu. Conrad pun memberi isyarat kepada pengawal untuk menutup rapat akses keluar dari ruang makan.
“Milaine, ini adalah makan malam pertamamu semenjak kembali dari rumah sakit jiwa. Namun, semuanya menjadi kacau karena kau mengatakan sesuatu yang tidak pasti. Bisakah kau membuktikan kebenaran dari penuturanmu?”
Lisbeth yang sedari tadi membungkam suara pun akhirnya berbicara. Sorot matanya seolah-olah sedang mencoba memojokkan Milaine.
“Tentu saja bisa. Aku berbicara berdasarkan apa yang telah aku pelajari selama lima tahun belakangan ini,”
__ADS_1
Milaine tidak terganggung sama sekali dengan perkataan Lisbeth, dia justru lebih percaya diri ingin memperlihatkan bukti ucapannya.
“Benarkah kau bisa membuktikannya?”
Conrad juga ikut angkat bicara, pandangannya menyuguhi sebuah tantangan untuk Milaine. Kini berbagai macam tatapan mengarah pada Milaine.
“Ya, saya bisa membuktikannya jika Ayah mengizinkannya,” ucap Milaine.
“Baiklah, aku mengizinkanmu. Tolong buktikan ke hadapan semua orang bahwa ucapanmu adalah suatu kebenaran.”
Selepas mendapat izin dari Conrad, Milaine pun langsung bergerak. Sebelumnya, ia mengambil pisau di atas meja makan. Dia menggunakan pisau itu untuk mengeruk sisa bubuk racun di sela kuku pelayan tersebut.
“Jangan takut. Aku akan perlihatkan padamu kalau aku tidaklah salah dalam mengira.”
Ujung pisaunya telah terkontaminasi racun. Kemudian Milaine menyayat tangan si pelayan yang diduga sebagai pelaku tersebut. Sontak pelayan itu memekik kesakitan, bahkan kini lukanya menunjukkan suatu perubahan.
“Luka sayatannya berubah menjadi warna hitam!” seru seseorang.
Conrad terkejut tak percaya melihat Milaine membuktikannya dengan sangat mudah. Tidak butuh waktu lama baginya untuk mengecek kandungan racunnya.
“Itu karena racunnya adalah racun mematikan. Racun ini akan membuat korbannya lumpuh secara perlahan dan mengalami kematian syaraf. Saat ini saya yakin kalau tangan pelayan ini mulai merasakan kelumpuhan. Jika dalam jumlah sedikit saja efeknya seperti ini, bagaimana kalau Ayah menyantap habis makanan yang dibubuhi banyak racun?”
Conrad sudah tahu jawabannya, tentu saja dia akan mati dengan cepat jika tidak tahu soal racun tersebut. Beruntung Milaine menyadarinya, tidak hanya Conrad saja yang menjadi korbannya, dia maupun Nigel pasti juga ikut terkena imbasnya.
“Dari mana kau tahu soal racun ini? Aku yakin kau sedang mengarang demi menarik perhatian Tuan besar,” celetuk Deysi.
“Tidak mungkin seseorang sepertimu bisa mendeteksi racun melalui pengamatan saja. Astaga, jangan-jangan kau orang yang merancang ini semua?” timpal Meyra.
Mendadak situasi semakin memburuk dan riuh. Perkataan Meyra membuat Milaine dipandang buruk oleh seisi ruangan.
“Untuk apa aku melakukannya? Lagi pula di makananku dan Nigel juga ditaruh racun serupa. Jikalau kau tidak percaya, silakan cek sendiri makanannya,” balas Milaine membuat mereka terdiam.
Beberapa menit berselang, Veno datang membawa Gizdo bersamanya. Gizdo ialah seorang Dokter pribadi kediaman Lysander.
__ADS_1
"Apa yang kau temukan?" tanya Conrad.
"Saya menemukan beberapa hal tentang racun ini, Tuan."
Gizdo mulai menjelaskan kepada Conrad. Sungguh mengagetkan, penjelasannya sama persis dengan penjelasan Milaine. Dari sinilah bisa disimpulkann bahwa Milaine tidak mengada-ada dan gadis itu berhasil menyelamatkan nyawanya.
"Baiklah, karena semua sudah jelas, tangkap pelayan itu! Jangan biarkan dia sampai lolos!"
Para pengawal bergerak cepat menyeret si pelayan itu keluar dari ruangan. Mereka langsung membawanya ke penjara mansion untuk diinterogasi nanti.
Makan malam pada akhirnya berakhir dengan sebuah kekacauan. Milaine pun dipanggil ke ruangan Conrad untuk ditanyakan beberapa hal.
"Milaine, dari mana kau belajar soal racun?" tanya Conrad penasaran.
Milaine tak langsung menjawabnya. Wajah seorang pria tua melintas seketika di pikiran Milaine. Dia masih mengingat jelas bahwa selama lima tahun ini, ia tanpa sengaja bertemu dengan orang-orang yang luar biasa hebatnya. Mereka dikurung di tempat yang sama dengan Milaine.
"Saya belajar dari seseorang. Orang itu adalah guru saya," jawab Milaine.
"Guru? Di mana kau menemuinya?"
"Di rumah sakit jiwa."
Conrad menanggapi jawabannya dengan sebuah senyum tipis. Entah apa maksud dari senyum tersebut. Hanya saja ada perasaan puas dan lega di hati Conrad kala itu.
"Baguslah kalau kau bertemu guru yang hebat. Tolong gunakan kemampuanmu itu sebaik mungkin. Aku sendiri tidak masalah kalau Lysander Group dipimpin oleh seorang perempuan."
Veno yang berdiri di samping Conrad sesaat tertegun mendengar penuturannya. Pasalnya, secara tidak langsung Conrad menunjukkan ketertarikannya terhadap Milaine.
"Baik, Ayah. Kalau begitu, saya permisi dulu."
Milaine berbalik badan dan beranjak dari ruangan. Conrad hanya menatap punggung sang putri yang kian menjauh darinya.
"Tuan, mengapa Anda mengatakan itu? Jika orang lain mendengarnya, maka mereka berpikir bahwa Anda mendukung Nona Milaine sebagai pewaris. Hal itu sangat dilarang saat pertarungan antar calon pewaris terjadi," ujar Veno bertanya.
__ADS_1
"Veno, aku tahu siapa yang lebih baik memimpin Lysander Group. Apabila Lysander Group jatuh ke tangan Milaine, maka gadis itu bisa menciptakan perubahan baru. Selama ini aku hanya mengawasinya dari jauh dan berusaha mengabaikan keberadaannya."
"Tetapi, jauh dari lubuk hatiku, aku sangat mempedulikannya. Gadis kecil itu berbeda, ia tak haus kekuasaan dan bertahan di sini demi melindungi Nigel. Ditambah lagi, dia punya kemampuan melebihi orang lain. Makanya aku menempatkannya di rumah sakit jiwa agar dia bisa bertemu orang-orang hebat yang terkurung di sana," pungkas Conrad.