
Winson mengerutkan keningnya, ia merasa terhina hanya karena satu kalimat pertanyaan dari Milaine. Tiada rasa takut tergambar dari guratan ekspresi Milaine, yang ada hanyalah segelintir rasa ingin membunuh seisi ruangan ini.
“Para sampah? Keterlaluan! Menghina keluarga Royin merupakan sebuah—”
“Sebuah apa?! Anak kalian telah mengusik hidup Adikku. Lalu apa lagi yang mau kalian proteskan? Anak kalian terluka? Kakinya patah? Atau kakinya sudah tidak berfungsi lagi? Aku tidak peduli!” sergah Milaine berteriak marah.
Keberanian kedua orang tua Kevin sontak menyurut. Bahkan, untuk sekedar menatap mata Milaine membuat bulu kuduk mereka merinding.
“Apa yang dikatakan gadis gila ini?! Apa kau tidak merasa bersalah sama sekali karena sudah mencelakai anak CEO Royin Group?!” bentak Winson.
“Hahaha.” Milaine tertawa kencang. “Merasa bersalah? Untuk apa? Meski dia mati sekali pun, aku takkan memperoleh dosa karena membunuhnya. Sejujurnya, dia lebih pantas untuk mati daripada dibiarkan hidup.”
Ibu Kevin tidak terima, ia lekas bergerak dari tempat duduknya lalu mencengkram kuat kerah seragam Milaine.
“Anakku menderita karena ulahmu. Sekarang dia masih dirawat di rumah sakit. Nyaris saja Dokter tidak bisa menyelamatkan nyawanya. Apa yang ada di pikiranmu?! Dasar gadis gila sialan! Bisa-bisanya anak pelayan rendahan sepertimu terlahir di keluarga Lysander,” cecar wanita itu.
“Baguslah anakmu menderita di rumah sakit. Seharusnya kemarin aku gorok saja lehernya supaya dia langsung mati. Aku terlalu lembut menghajarnya. Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa kau menuntut ganti rugi? Ataukah kau mau menukar nyawa anakmu dengan uangku?”
PLAK!
Mendadak Milaine mendapat tamparan keras dari Ibu Kevin. Dia marah mendengar respon Milaine yang merendahkan nyawa putranya. Akan tetapi, Milaine tak terlihat kesakitan sedikit pun.
“Ya ampun, tamparanmu tidak ada rasanya. Seharusnya, tanganmu digunakan untuk membuat kue saja di dapur. Tidak cocok untukmu menampar gadis sepertiku.”
Milaine menangkap pergelangan tangan wanita itu. Setelahnya, ia menghempaskan tubuh Ibu Kevin hingga kepalanya membentur sudut meja. Suasana ruang kerja Winson tiba-tiba berubah riuh. Ayah Kevin nampak syok menyaksikan darah mengucur dari kepala istrinya.
“Perempuan gila! Kau—”
“Ya, aku memang gila. Oleh karena itulah, Ayahku mengurungku di rumah sakit jiwa selama lima tahun.”
“Dasar anak kurang ajar—”
__ADS_1
“Ya, aku memang kurang ajar. Lalu kenapa? Apa masalahnya dengan kalian? Aku di sini hanya membela Adikku yang menderita akibat penindasan. Sekarang mengapa kalian malah menyerangku dan berlagak seolah-olah semuanya adalah salahku?”
Emosi Milaine melebihi emosi kedua orang tua Kevin. Terdengar deruan napas Milaine tak beraturan, ia mengepalkan kedua tangan sambil menekan keinginannya untuk memukul mereka sampai mati.
“Kepala Akademi.” Milaine mengarahkan fokus kepada Winson.
“Y-Ya?” Winson terlonjak kaget saat Milaine memanggilnya.
“Aku tidak mau dihukum dan lupakan saja mengenai kejadian hari ini. Apabila kau bersikers menghukumku, maka kau akan tanggung akibatnya sendiri. Mengerti?!” tekan Milaine.
Seusai mengancam Winson, tanpa rasa bersalah Milaine pergi begitu saja meninggalkan kedua orang tua Kevin. Mereka tidak habis pikir ternyata Milaine jauh lebih gila dari rumornya. Bila mereka berurusan lebih lama lagi dengan Milaine, mungkin mereka akan kehilangan nyawa di tempat.
Kemudian Milaine membelokkan langkahnya menuju kelas. Sebenarnya, dia masih belum puas menghajar orang tua Kevin. Namun, apa daya, dia tidak mau masalah ini menjadi lebih runyam lagi.
***
“Pasien di ruang VIP 3 lantai empat menghilang! Kabarkan kepada seluruh petugas keamanan rumah sakit!”
Sementara pihak rumah sakit sibuk mencari Kevin, saat itu pemuda tersebut berada di sebuah gedung kosong terbengkalai. Kaki dan tangan Kevin terjerat sebuah lantai, bahkan matanya ditutup kain hitam.
“Ada di mana aku? Apakah ada seseorang di sini? Tolong jawab aku!” teriak Kevin seraya meronta-ronta.
Kemudian datanglah seorang pria bersurai coklat yang diiringi oleh segerombol pria berbadan besar. Pria itu mendudukkan diri di atas kursi menghadap langsung ke arah Kevin.
“Buka penutup matanya,” titah pria itu berekspresi dingin.
Seorang bawahannya menyingkap penutup mata Kevin. Seketika bola mata Kevin membulat sempurna kala menemukan seseorang yang dia kenal di sana.
“Tuan Muda Eron Vins! Apakah Anda yang membawa saya kemari?!”
Benar! Pria itu adalah Eron Vins – putra kedua dari CEO Vins Group. Dia dikenal sebagai pria yang tidak pernah ramah dan tersenyum kepada siapa pun. Terlebih lagi, reputasinya sangat buruk di kalangan wanita. Namun, hari ini dia datang langsung menyekap Kevin atas dasar alasan yang belum diketahui.
__ADS_1
“Iya, akulah yang membawamu kemari. Apakah ada masalah?” jawab Eron.
Kevin menggertakkan giginya. Selama ini dia tidak pernah mengusik Eron, sekali pun dia tidak pernah terlibat percakapan apa pun dengan pria super dingin itu.
“Apa saya berbuat salah kepada Anda? Seingat saya, saya tidak pernah membuat kontak dengan Anda.”
“Kau membuat kesalahan yang tidak terampuni.”
“Apa maksud Anda? Memangnya kesalahan apa yang telah saya perbuat sampai Anda berani menyekap saya?!”
Kevin tanpa sadar meninggikan nada suaranya. Sontak Eron mempertajam pandangannya untuk memberi gertakan halus kepada Kevin. Refleks Kevin menundukkan wajahnya, dia telah membuat Eron jengkel.
“Apa kau tidak ingat? Kau sudah mengusik sosok gadis impianku. Sebelumnya, kau dengan lancang menyentuh tubuh indahnya,” ujar Eron.
Kevin mengingat-ingat jelas siapa gadis yang akhir-akhir ini berurusan dengannya. Lalu wajah Milaine pun terlintas di kepalanya.
“Maksud Anda Milaine?” tanya Kevin.
“Oh, akhirnya kau mengingatnya. Benar, maksudku adalah Milaine. Aku tidak masalah jika kau langsung mengusikku, tetapi lain cerita bila kau mengusik Milaine.”
Eron meminta sebilah pedang ke bawahannya. Apa yang telah dilakukan Kevin terhadap Milaine tidak bisa diampuni lagi. Baginya, Milaine adalah sosok wanita yang harus dia lindungi bagaimana pun caranya.
“Tetapi, gadis gila itu yang memulainya lebih dulu! Dia hampir membuat saya cacat. Apakah Anda tidak bisa melihat kaki saya? Milaine yang—”
DOR!
Eron menembakkan pistol ke langit-langit gedung.
“Diam! Kau seharusnya bersyukur Milaine tidak membunuhmu. Aku tahu, kau sering mengganggu Adiknya saat di akademi. Milaine hanya melakukan tugasnya sebagai Kakak yang baik. Keterlaluan sekali kau menyalahkan Milaine karena tindakan bodohmu itu,” tekan Eron.
Sekujur badan Kevin bergetar hebat. Sesaat perasaan menyesal meliputi hati Kevin. Dia menyesal sudah merisak Nigel dan menyentuh Milaine seenaknya. Apabila dia tahu akibatnya akan seperti ini, dia takkan pernah mengganggu Nigel.
__ADS_1
“Nah, katakan padaku sekarang. Tangan mana yang kau gunakan untuk menyentuh tubuh Milaine?”