
Luke tidak pernah melihat Conrad marah karena masalah yang berhubungan dengan Milaine. Ini adalah kali pertama ia menyaksikan Conrad begitu peduli terhadap sang putri.
Selama ini semua orang mengetahui bahwa Conrad telah mengabaikan putrinya. Namun, hal tersebut seolah-olah terbantahkan oleh reaksi Conrad saat ini.
'Tuan marah bukan tanpa sebab, ini murni karena beliau sebenarnya menyayangi Nona. Tampaknya aku telah salah menilai Tuan besar selama ini. Dengan begini, jalan Nona menuju kursi pewaris menjadi lebih jelas,' batin Luke.
Penjelasan dari Luke cukup menjadi alasan untuk dia mengamuk esok hari di akademi.
"Veno, batalkan seluruh agendaku besok. Aku sendiri yang akan hadir ke akademi demi membela putriku," titah Conrad.
"Baik, Tuan. Saya akan membatalkan semua jadwal Anda besok."
Di hari berikutnya, akademi terdengar gaduh akibat perbuatan Milaine kemarin. Banyak mulut yang berbicara buruk soal apa yang dilakukan gadis itu. Tanpa satu pun yang membelanya, Milaine masih terlihat tidak peduli.
"Cih, mereka sepertinya perlu aku beri pelajaran sesekali." Milaine berdecih kesal.
Di balik tembok akademi, seorang pria bersurai perak mendengar berbagai cercaan yang menghujani Milaine. Mimik wajahnya kusut seketika mendengar kabar mengenai apa yang menimpa gadis impiannya. Pria muda itu bernama Lloyd Velmilish, salah satu calon ahli waris Velmilish Group.
"Winson dan Corner kah? Haruskah aku membantu Milaine menghabisi mereka? Ya, aku rasa aku perlu melakukannya," gumamnya mengeluarkan sebuah pisau.
Sementara itu, Milaine dipanggil ke ruangan tempat di mana biasanya para murid bermasalah disidang bersama-sama. Di sana telah hadir para Profesor serta beberapa orang yang punya jabatan penting di akademi. Winson dan Corner juga berada di sudut ruang yang sama dengan Milaine.
Milaine duduk di kursi kosong. Tatapan seisi ruangan terlihat tak bersahabat sama sekali. Sepertinya rata-rata dari mereka berpihak kepada Winson serta Corner.
"Milaine Lysander, bisakah kau menjelaskan alasan mengapa kau mencelakai Kepala Akademi dan Profesor Corner?" Seorang wanita mulai angkat bicara.
"Karena memanipulasi semua nilaiku," jawab Milaine.
"Bohong! Dia berbohong!" sergah Corner.
Milaine sontak menatap tajam Corner. Pria itu sesaat terdiam melihat netra Milaine penuh dendam.
"Apakah kau punya bukti mereka memanipulasi nilaimu?"
Milaine terdiam sejenak lalu menjawab, "Tidak. Aku tidak punya. Mereka menolak memperlihatkan lembar jawabanku. Jadi, bagaimana aku bisa mendapatkan buktinya?"
Ekspresi Milaine terlalu santai, tiada rasa takut mendera di dirinya.
__ADS_1
"Lalu kenapa Anda bisa menyimpulkan bahwa mereka memanipulasi nilai Anda?" tanya wanita itu semakin menekan Milaine.
"Lalu kenapa juga aku bisa mendapatkan nilai di bawah rata-rata? Aku bahkan bisa menjawab semua soal ujian dengan mudah. Jadi, bagaimana ceritanya tidak ada satu pun nilaiku yang berada di angka sempurna?" tanya Milaine balik.
Ruangan ini menjadi sangat panas. Di mata mereka Milaine sangatlah menjengkelkan. Bukannya menjawab, gadis itu malah melontarkan pertanyaan yang sukar dijawab.
"Itu karena kau memang bodoh! Seluruh jawabanmu melenceng dari apa yang dipelajari. Wajar saja nilaimu di bawah rata-rata," celetuk Winson.
"Aku bodoh? Aku? Bodoh?" tekan Milaine. "Otak tuamu sepertinya tidak berfungsi dengan baik," cerca Milaine berwajah datar.
Winson menggertakkan gigi, urat-urat lehernya tercetak jelas di permukaan kulitnya. Mukanya merah padam menahan supaya tidak meledak.
"Kau—"
"Cukup! Jangan berdebat lagi." Wanita itu menghentikan perseteruan mereka berdua. "Milaine, kami telah mengirim surat ke kediaman Lysander. Apakah tak ada satu pun orang yang datang sebagai walimu?" lanjutnya bertanya.
Milaine menggeleng pelan. "Tidak ada," jawab Milaine, singkat.
Sesaat seisi ruangan pun tertawa sembari berbisik. Wanita yang sedari tadi menginterogasi Milaine pun ikut tertawa. Mereka menyayangkan kehidupan Milaine di mansion Lysander tanpa ada satu pun orang yang peduli.
"Kalau begitu, dapat diputuskan sekarang. Milaine Lysander, kau telah mengakui apa yang kau perbuat terhadap Kepala Akademi dan Profesor Corner. Kau harus meminta maaf kepada mereka berdua—"
"Kau keterlaluan sekali. Jangan menudingkan hal yang tidak-tidak."
"Cepat kita akhiri ini sekarang. Keluarkan saja si pembuat masalah ini dari akademi."
"Dasar gadis gila! Memang seharusnya sejak awal Eleutheria tidak usah menerimamu di sini."
Mereka mencaci maki dan mencerca Milaine hingga menyalahkan segalanya kepada gadis itu. Milaine tidak diberi kesempatan untuk berbicara sedikit pun.
"Siapa yang memperbolehkan kalian mengusir putriku dari akademi ini?"
Seketika situasi berubah drastis. Conrad mendadak masuk dari pintu ruangan yang tertutup rapat. Refleks semua orang berdiri dan membungkuk menyambut kedatangan Conrad.
Milaine kaget bukan main. Sulit dipercaya sang Ayah menghadiri pertemuan tak berguna ini. Padahal selama ini, Conrad tidak pernah mempedulikan apa yang dialami Milaine.
"Tuan, suatu kehormatan bisa bertemu dengan Anda. Apa yang membawa Anda kemari?" tanya Winson, menghampiri Conrad seraya menunjukkan rasa hormat.
__ADS_1
"Bukankah kemarin kalian mengirimiku surat panggilan? Tentu saja aku kemarin untuk memenuhi panggilan itu. Tidak mungkin aku membiarkan Milaine disalahkan seenaknya oleh orang-orang seperti kalian."
Aura Conrad penuh intimidasi hingga membuat Winson sontak terbungkam.
"Kenapa kalian diam?! Cepat selesaikan masalah ini. Bukankah tadi kalian semena-mena menyuruh Milaine keluar dari akademi?!"
Conrad duduk di kursi kosong sebelah Milaine. Putrinya kebingungan melihat Ayahnya datang memenuhi panggilan tersebut.
"Maafkan kami, Tuan. Kami tidak bermaksud untuk—"
"Tidak perlu membuat alasan lagi. Cepat keluarkan lembar jawaban ujian putriku! Aku sendiri yang akan memeriksa jawabannya," perintah Conrad kian emosi.
Mereka tidak punya pilihan lain selain menuruti perintah Conrad. Lekas mereka meminta Corner membawa lembar jawaban ujian milik Milaine. Tergurat rasa takut sekaligus panik saat Corner menyerahkan lembar jawabannya kepada Conrad.
Lalu Conrad membaca jawaban Milaine dengan seksama. Kemarahannya memuncak begitu memastikan bahwa seluruh jawaban Milaine sempurna tanpa ada kesalahan.
"Apakah ini jawaban yang kalian sebut salah?! Dasar sampah!" teriak Conrad menghempaskan seluruh lembar jawaban Milaine.
Conrad pun bangkit dari tempat duduk.
"Benar-benar mengecewakan. Kalian tidak pantas menduduki akademi ini lagi. Sebagai penyumbang terbesar Akademi Eleutheria, kalian tidak diperbolehkan menginjakkan kaki di akademi ini mulai sekarang."
"Seluruh hak istimewa akan dicabut. Kalian akan diblacklist dari semua pekerjaan di negara ini. Nikmatilah kesengsaraan kalian yang telah mencoreng kehormatan keluarga Lysander. Setidaknya, bersyukurlah kalian tidak mati di tanganku."
Mereka tamat! Jika Conrad telah memutuskannya, maka takkan ada satu pun di negara ini yang dapat mengganggu gugat keputusannya. Hanya tersisa ratapan penyesalan terhadap apa yang mereka lakukan kepada Milaine.
Lalu tiba-tiba Winson mendekati Conrad. Dia mengajukan protes mengenai keputusan yang diambil Conrad demi membela Milaine.
"Tidak, Tuan! Jangan singkirkan saya dari akademi ini. Apakah Anda lupa? Saya adalah orang yang membawa akademi ini ke masa kejayaannya. Saya tidak dapat menerimanya begitu saja. Lagi pula keputusan saya mengeluarkan Milaine dari Eleutheria sudah benar. Dia hanyalah pembuat masal—"
Tepat menjelang Winson menyelesaikan omong kosongnya, Conrad mencekik lehernya.
"Bajing*n tak beradab! Lancang sekali kau menentang keputusanku. Aku tahu, kau adalah akar dari permasalahan ini. Haruskah aku menyiksamu supaya kau bisa lebih sadar diri?"
Conrad membenturkan kepala Winson berkali-kali ke permukaan meja. Pria itu sangat mengerikan, sama seperti Milaine ketika sedang mengamuk.
Tatkala benturan ke dua belas, Winson tidak lagi sadarkan diri. Conrad mencampakkan tubuh Winson ke lantai.
__ADS_1
"Lempar sampah ini ke luar! Jangan biarkan dia mengusik Lysander Group lagi," titah Conrad kepada beberapa penjaga di sana.