
Bagai halilintar menyambar di langit malam nan cerah, Milaine syok bukan main, fokusnya mendadak buyar seketika mendengar perkataan Gizdo soal Nigel. Rasa khawatir serta panik mendalam dia rasakan. Sontak ia mengakhiri panggilan telepon dengan Gizdo. Bagaimana pun keadannya, dia harus cepat kembali ke kediaman Lysander sebelum terlambat.
“Luke, aku sepertinya harus kembali sekarang. Kondisi Nigel menurun dan aku harus meracik obatnya sebelum terlambat,” tutur Milaine.
Suara serta sekujur badan Milaine bergetar hebat. Bayangan-bayangan buruk tentang Nigel menghantui seisi kepala.
“Bagaimana kalau aku mengantarmu pulang? Lagi pula jarak dari tempat ini ke kediaman Lysander cukup jauh,” tawar Gazelle.
Bertepatan saat itu, muncul sebuah helikopter dari atas langit. Helikopter itu milik Gazelle, ia memang senang pergi ke mana pun menggunakan helikopter.
“Yang benar saja kau membawa helikoptermu kemari,” kata Luke tak mengerjap, dia pun menatap aneh Gazelle.
“Aku selalu membawa helikopter ketika aku ingin bepergian cukup jauh. Bagaimana? Apa kau mau aku antar?”
Gazelle menunggu jawaban dari Milaine. Pada akhirnya, Milaine tidak punya pilihan lain selain menerima tawaran pertolongan dari Gazelle.
“Baiklah. Tolong antar aku ke mansion Lysander.”
Gazelle tersenyum cerah. Tanpa meminta izin dan permisi, dia langsung menggendong Milaine. Gadis itu tampak kaget seraya mencoba lepas dari Gazelle. Akan tetapi, Gazelle bergerak cepat membawanya ke atas untuk memasuki helikopter sehingga Milaine terpaksa memasrahkan diri.
“Hei, Gazelle! Kenapa kau menyentuh Nonaku tanpa seizinku?! Apa kau akan meninggalkanku di sini?” teriak Luke di sela kebisingan helikopter.
“Kau pulang saja sendiri! Aku hanya ingin mengantarkan Nona cantik ini,” sahut Gazelle, menyuruh bawahannya segera pergi dari lokasi terkini.
Setiba di kediaman Lysander, Milaine terlihat semakin kehilangan arah. Konsentrasinya terpecah belah, bahkan selama berada di helikopter dia hanya diam tak bersuara. Isi pikirannya bergelut hingga tenggelam di lautan rasa yang tak menentu.
“Terima kasih karena sudah mengantarku. Lain kali mari kita bicara lagi.”
Milaine melompat turun dari helikopter, ia tak sempat berbicara panjang lebar dengan Gazelle. Hanya ada ucapan terima kasih sambil berlari masuk ke paviliun tanpa menolehkan kepala. Gazelle hanya memaklumi seraya merekahkan senyum manis menatap punggung Milaine yang kian menghilang dari jarak pandang.
“Lain kali kah? Itu artinya dia mengharapkan pertemuan denganku lagi. Baiklah, aku akan mempersiapkan diri untuk pertemuan kita selanjutnya, Milaine,” gumam Gazelle.
Sesudah sampai di dalam paviliun, langkahnya melaju cepat menuju kamar Nigel. Di sana sudah ada Gizdo, Fiona, Veno, serta Conrad. Mereka berkumpul untuk melihat kondisi terkini Nigel.
__ADS_1
“Nona, Anda dari mana saja?” tanya Veno.
“Maafkan aku. Aku ke luar untuk mendapatkan akar pohon asoka yumelium,” jawab Milaine.
Fiona lalu mendekati Milaine dengan tatapan murka.
“Milaine, apa kau tidak tahu Adikmu sekarang sedang kesakitan? Kenapa kau sibuk dengan urusanmu sendiri tanpa memikirkan keadaan Nigel di sini?!”
“Bukan begitu, aku pergi ke luar—”
“Tidak usah beralasan lagi! Jangan kau pikir kau bisa berbuat seenaknya karena kau punya tubuh yang jauh lebih sehat dari Nigel!” bentak Fiona, kedua bola matanya memerah menahan air mata.
Conrad pun mau tidak mau harus menengahi permasalahan mereka. Situasi saat ini tidak bisa dianggap enteng begitu saja.
“Fiona, hentikan itu! Kau tidak bisa mencecar Milaine tanpa mendengar penjelasan darinya. Sekarang, Milaine, jelaskan padaku kenapa kau membawa sesuatu yang diincar banyak orang?”
Conrad menatap tajam ke arah tangan Milaine yang menggenggam akar pohon asoka yumelium. Gizdo belum menjelaskan apa pun kepadanya maupun Veno.
“Akar ini bisa menjadi penawar rasa sakit di jantung Nigel? Begitu maksudmu?”
Milaine mengangguk. “Benar, itu maksudnya. Saya pergi ke luar untuk mencari ini. Oleh sebab itulah, tolong izinkan saya untuk mengambil alih mulai dari sini.”
Conrad melihat percikan kepercayaan diri yang sangat kuat di sorot mata Milaine. Sehingga, ia tak kuasa menolak hal yang ingin dilakukan gadis itu saat ini.
“Baiklah, aku serahkan masalah Nigel kepadamu. Aku harap kau tidak membuat kesalahan yang menyebabkan kematian pada saudaramu,” tekan Conrad.
Milaine tertegun sejenak, jemarinya saling bertautan mengingat bagaimana kematian kedua saudaranya dahulu.
“Ya, Ayah. Tolong serahkan masalah ini kepada saya.”
Selepas itu, Conrad beranjak meninggalkan kamar sebab masih ada beberapa pekerjaan yang harus dia selesaikan. Sedangkan Fiona tak memberi komentar apa pun, bahkan ia enggan meminta maaf karena telah salah paham terhadap putrinya.
“Tuan, apakah mungkin Nona mempelajari soal pengobatan tradisional dari orang itu?” tanya Veno.
__ADS_1
“Kemungkinannya begitu. Milaine tampaknya mendapatkan beberapa orang guru yang luar biasa.”
Dengan bantuan Gizdo, Milaine segera meracik obat untuk Nigel. Kala itu di tubuh Nigel terpasang berbagai jenis alat medis yang biasanya membantunya untuk bertahan hidup.
“Nona, apakah segini cukup?” Gizdo menunjukkan bahan dasar meracik obatnya.
“Itu sudah lebih dari cukup. Sekarang biar aku yang mengurus sisanya.”
Milaine bergerak cepat meracik satu persatu bahan obat yang telah dia kumpulkan. Gadis itu begadang semalaman demi keberhasilan obat penawar rasa sakit untuk Nigel.
“Akhirnya selesai!”
Milaine mengusap keringat yang mengucur di kening. Tepat pukul tujuh pagi, Milaine menyelesaikan peracikan obatnya. Tanpa berlama-lama, Milaine mengangkut sekitar lebih dari sepuluh botol obat cair ke kamar Nigel.
“Tolong minggir! Aku akan menyuntikkan obatnya ke tubuh Nigel!” seru Milaine mengagetkan seisi ruangan dengan kedatangannya.
Sontak semua orang menjauh dari ranjang Nigel. Jemari Milaine gemetar saat menyentuh alat suntik. Untungnya kala itu Gizdo datang, dia langsung merebut alat suntik dari tangan Milaine.
“Biar saya yang melakukannya, Nona. Tangan Anda gemetar akan membuat Anda kesulitan menyuntikkan obat ini ke tubuh Tuan Muda,” sela Gizdo.
Milaine menghela napas lega. “Syukurlah kau di sini. Tolong suntikkan satu botol obat ini ke tubuh Nigel.”
“Baiklah. Sebaiknya, sekarang Anda beristirahat. Wajah Anda sangat pucat.”
Milaine mengangguk. Dia segera menjauh dari ranjang Nigel dan mengamati Gizdo dari kejauhan. Sesaat Gizdo selesai menyuntikkan cairan obatnya, kondisi Nigel perlahan-lahan mulai menunjukkan kestabilan. Fiona menangis haru sebab sang putra berhasil melalui detik-detik yang menegangkan.
Milaine tersenyum pilu ketika melihat Fiona mendekap Nigel. Wanita itu tak mengucapkan sepatah kata pun atau sekedar mengkhawatirkan kondisi Milaine.
‘Ah, benar. Aku hanyalah seorang pembunuh,’ batin Milaine melangkah ke luar ruangan.
Tatkala ia tiba di depan pintu masuk, tubuhnya nyaris tumbang menghantam lantai. Bertepatan saat itu, Luke datang dan langsung menyambut tubuh Milaine yang hampir terjatuh. Luke meraba wajah Milaine, ia merasakan suhu tubuh Milaine sangat tidak normal.
“Gizdo, gawat! Badan Nona sangat panas!” teriak Luke panik memanggil Gizdo
__ADS_1