Milaine Sang Gadis Pewaris

Milaine Sang Gadis Pewaris
Menghabisi Nyawa Deon


__ADS_3

Mayra menjerit kesakitan. Dari kepalanya mengucur darah segar. Pandangan Mayra seketika buyar, dia seolah-olah sedang berhadapan dengan malaikat maut. Kemudian perlahan tangan Milaine menarik kerah bajunya dan menyeret dia keluar dari ruangan.


"T-Tolong aku ...." Di tengah kesadaran yang nyaris menghilang, Mayra masih berusaha meminta tolong kepada Milaine. Namun, Milaine menutup rapat pendengarannya sehingga ia bisa mengabaikan setiap suara yang mengarah padanya.


"Tenang saja, aku takkan membunuhmu. Orang yang akan membunuhmu adalah Ayah. Dengan begitu, aku bisa terbebas dari tuduhan pembunuhan terkait dirimu."


Kesadaran Mayra pun terenggut sepenuhnya. Milaine langsung melempat tubuh Mayra ke atas mobil. Sekarang dia harus menemui Deon lalu membunuh saudaranya itu.


Milaine masuk ke dalam ruangan tempat Deon berbaring. Kehadiran Milaine di sana membuat Deon ketakutan.


"Kenapa kau bisa ada di sini? Di mana Ibuku?!" Deon masih lancar dalam berbicara sebab yang lumpuh hanya tubuhnya saja, tetapi lidahnya masih berfungsi dengan baik.


"Ibumu? Ada di luar. Aku baru saja menyeret Ibumu ke dalam mobil. Kenapa? Apa kau takut melihatku di sini?"


Bibir Milaine membentuk lengkungan senyum menyeramkan. Ingin rasanya Deon pergi dari sana, tetapi apa daya tubuhnya tak bisa digerakkan.


"Apa yang kau lakukan kepada Ibuku?"


"Tidak ada, aku hanya membuatnya pingsan. Mungkin nanti ketika tiba di mansion, nyawa Ibumu langsung dihabisi oleh Ayah."


Kedua bola mata Deon melebar. Nyawa sang Ibu sedang terancam akibat pengkhianatan yang dia lakukan secara sadar.


"Apa maksudmu? Memangnya apa yang sudah dilakukan oleh Ibu?!" Nada suara Deon semakin tinggi.


"Ibumu telah membuat kesalahan paling fatal. Kau tahu? Dia mencoba untuk berkhianat dan bersekongkol dengan orang lain untuk menjatuhkan Lysander Group. Kesalahan Ibumu tak termaafkan oleh Ayah," bisik Milaine di samping telinga Deon.


Deon menggeleng pelan, dia tidak percaya apa yang dikatakan Milaine. Padahal dia tahu seberapa besar keinginan Mayra menjadi Nyonya satu-satunya di kediaman Lysander. Akan tetapi, keinginan itu hanyalah kebohongan belaka.

__ADS_1


"Bohong! Tidak mungkin Ibuku—"


"Sayangnya, itu bukan kebohongan. Ibumu memang melakukannya. Makanya aku menangkap Ibumu supaya dia tidak kabur. Sekarang giliranmu, Deon. Kau harus mati atas dosa yang telah kau perbuat."


Milaine mengelus muka Deon. Pikiran Deon tidak lagi tenang. Kegelisahan serta kepanikan melanda dirinya. Dia tidak punya celah untuk kabur dari genggaman Milaine.


"Tidak, tolong jangan bunuh aku. Aku tidak mau mati. Aku mohon, kalau kau membiarkanku hidup, aku akan menyerah dari bangku calon ahli waris. Tolong, Milaine ... aku memohon teramat sangat padamu ...," lirih Deon dengan suara gemetar.


"Permintaanmu ditolak. Kau tetap harus mati. Tenang saja, aku takkan menggoreskan senjata ke tubuhmu. Anggap saja ini sebagai balasan karena kau dulunya selalu merundung Nigel."


Milaine mengeluarkan sebuah jarum suntik dan satu botol cairan bening. Deon tidak tahu apa itu, tetapi dia berfirasat bahwa cairan itu akan membunuhnya.


"Maafkan aku, Milaine. Maafkan aku ... aku tidak akan melakukannya lagi."


"Deon, kau masih ingat? Adikku hampir mati karena ulahmu. Waktu dia tercebur ke dalam danau, waktu dia hampir tertabrak mobil, waktu dia terluka setelah jatuh dari pohon, atau waktu kau menyiksanya di gudang mansion. Apa kau pikir aku masih bisa memaafkanmu setelah apa yang kau lakukan di masa lalu?"


Segala dosa Deon terhadap Nigel masih membekas jelas di ruang memori Milaine. Sedetik pun tidak pernah dia lupakan seberapa menderitanya Nigel karena Deon. Bahkan, Milaine juga mendapat laporan bahwasanya selama dia berada di rumah sakit jiwa, Deon tiada henti mengusik hidup Nigel.


"Tidak, Deon. Kau harus mati demi ketenangan hidup Adikku. Tidak hanya kau, tetapi semua saudara yang lain harus mati! Aku akan membunuh kalian satu persatu secara perlahan. Tolong tunggulah saudaramu yang lain di neraka. Semoga kalian bertemu nantinya."


Milaine menusuk ujung jarum suntik ke leher Deon. Pria itu hanya menangis kala merasakan cairan asing perlahan memasuki tubuhnya. Cairan yang mengandung zat mematikan itu perlahan mengambil nyawa Deon.


"Selamat tinggal, Deon. Kematianmu akan menjadi pukulan hebat untuk Mayra."


Hal terakhir yang dilihat Deon ialah bibir tersenyum Milaine. Pada akhirnya, dia tidak bisa mencapai puncak tertinggi sebagai keturunan CEO Lysander. Kematianlah yang menjadi takdir akhir dari hidupnya.


"Satu masalah teratasi. Aku masih harus menghabisi tiga orang lain untuk menjadi ahli waris resmi Lysander Group. Mari kita lihat bagaimana respon mereka nanti ketika tahu Deon mati di tanganku."

__ADS_1


***


Conrad baru saja tiba di mansion setelah beberapa hari di rumah sakit. Veno senantiasa mendampingi Conrad. Namun, ketika ia baru menginjakkan kaki di mansion, suasananya terasa sangat berbeda. Paviliun kediaman Milaine, Mayra, dan Fiona sangat sunyi.


"Ke mana mereka? Apakah mereka sengaja tidak menyambutku?" tanya Conrad kepada Veno.


"Sekarang sudah lewat tengah malam, mungkin saja mereka juga sedang beristirahat," jawab Veno menerka-nerka.


"Sepertinya bukan begitu. Mungkin mereka memang tidak ada di paviliun masing-masing saat ini. Coba kau cari tahu dulu melalui para pelayan."


"Baik, Tuan."


Veno segera bergerak mencari seorang pelayan untuk ditanyakan perihal ke mana penghuni kediaman ini pergi. Setelah mengetahuinya, Veno pun langsung memberi tahu Conrad.


"Tuan, sepertinya ada masalah serius terjadi akhir-akhir ini. Tuan Muda Nigel tengah dirawat di rumah sakit karena kecelakaan, Nona Milaine sepertinya sedang pergi ke luar, Nyonya Mayra dan Tuan Muda Deon menghilang setelah melawan Nona Milaine hingga mengalami kekalahan," jelas Veno.


Conrad tidak terlihat terkejut. Hal-hal seperti ini sudah sering kali terjadi di kediaman Lysander.


"Aneh sekali, kenapa tidak ada laporan yang masuk perihal situasi ini?" Conrad bertanya-tanya, ia bingung dengan laporan yang tidak pernah sampai ke telinganya.


"Kemungkinan ini memang sengaja ditutupi, Tuan. Mungkin Nona Milaine mencegah menyebarnya informasi tentang kondisi kediaman ini ke orang luar."


Ya, itu memang ulah Milaine. Gadis itu sengaja menyumbat celah informasi di kediaman ini demi menjaga keamanan mansion dari serangan musuh. Ini merupakan langkah yang tepat supaya terhindar dari bahaya besar yang menghadang.


Kemudian tiba-tiba sesosok pengawal datang menghampiri Conrad.


"Tuan, akhirnya Anda kembali! Nona Milaine ... beliau telah pulang. Namun, saat ini beliau membawa mayat Tuan Muda Deon dan Nyonya Mayra yang sedang pingsan!"

__ADS_1


Conrad terkejut bukan main. Dia tidak tahu pasti apa yang sebenarnya dilakukan sang putri ketika dia berada di rumah sakit.


"Apa itu artinya Milaine berhasil menghabisi nyawa Deon?!"


__ADS_2