Milaine Sang Gadis Pewaris

Milaine Sang Gadis Pewaris
Berkunjung ke Rumah Sakit Jiwa


__ADS_3

Sekembalinya Milaine dari luar bersama Gazelle, mereka memutuskan untuk berpisah di tengah jalan sebab keduanya sama-sama punya kepentingan mendadak.


Milaine membelokkan stir mobil menuju ke sebuah jalan rahasia. Jalan itu mengarah pada rumah sakit jiwa yang pernah dia tinggali.


Milaine menyusuri lorong rumah sakit. Di sisi kiri dan kanan sepanjang lorong, ada banyak sekali pasien, perawat, serta Dokter yang berlalu lalang. Milaine sudah terbiasa menyaksikan pemandangan tersebut.


Hingga tibalah ia di sebuah tempat yang sangat besar dan tampak terawat. Tempat itu ialah tempat di mana dia tinggal selama di sini. Di tempat itu pula Milaine menemukan banyak hal baru yang mungkin saja takkan dia dapatkan dari luar rumah sakit.


"Nona, apa yang Anda lakukan di sini?" Rin, perawat yang sangat baik hati merawatnya dahulu tiba-tiba datang menghampirinya.


"Aku ingin bertemu Paman, Bibi, Nenek, dan Kakek. Apakah mereka sehat?"


Rin mengulas senyum tipis seraya mengangguk pelan.


"Mereka sangat sehat. Mari saya bawa Anda ke dalam."


Rin menuntun Milaine masuk ke tempat yang merupakan sebuah bangunan kecil. Meski terlihat kecil, tetapi bangunan itu cenderung lebih mewah dari kelihatannya.

__ADS_1


"Bagaimana kabarmu selama aku tidak ada?" tanya Milaine.


"Saya baik-baik saja. Walau saya merasa sedikit kesepian karena tidak mendengar suara Anda lagi," jawab Rin.


"Oh benarkah itu? Artinya kau rindu padaku?"


Milaine menggoda Rin. Ekspresi sumringah yang tidak pernah tampak oleh orang luar. Hal ini merupakan sesuatu yang mungkin saja dianggap asing bagi siapa saja yang menyaksikannya. Hanya mereka yang dulu berada di rumah sakit ini bersama Milaine dapat melihat senyum polos penuh kegembiraan milik Milaine.


"Kami semua merindukan Anda, Nona. Bagaimana bisa Anda tidak mengunjungi kami setelah keluar dari rumah sakit? Apakah Anda begitu sibuknya sampai melupakan kami?"


"Sebagai salah satu calon ahli waris, wajar jika Anda sibuk."


Sementara pembicaraan mereka terus berlangsung, tanpa sadar keduanya akhirnya tiba di tempat tujuan.


Rin membukakan pintu ke sebuah ruangan. Begitu daun-daun pintu terbuka lebar, ada empat orang yang dirindukan Milaine menanti di sana.


Tatkala Milaine baru tiba di ambang pintu, sesosok wanita cantik menghambur ke pelukannya.

__ADS_1


"Milaine! Astaga, anak ini. Bisa-bisanya kau baru mengunjungiku."


Wanita itu adalah Beatrice — mantan pemimpin organisasi Birdella. Kemudian diikuti oleh Hidary, pria yang kerap dibicarakan sebagai desainer kelas atas sekaligus suami dari Beatrice.


"Bagaimana kabarmu, Milaine? Apa kau baik-baik saja tanpa kami?" Hidary tampak bergembira seperti biasa.


"Paman, Bibi, lama tidak berjumpa. Maaf aku baru sempat datang karena aku selalu saja mengurusi masalah yang tiada hentinya menerjang," tutur Milaine.


"Tidak masalah. Kami tahu, kau pasti mendapatkan musuh merepotkan di luar sana. Syukurlah kau baik-baik saja."


Tatapan Beatrice dan Hidary berselimut kasih sayang. Milaine selalu mendapatkan kehangatan dari mereka berdua.


"Oh lihat, siapa ini yang datang? Anak kecil menggemaskan ini sudah lebih dewasa dari terakhir kali kita bertemu."


Shin — Master racun serta istrinya, May — ahli herbal, mendekati Milaine. Mereka berdua sudah seperti Nenek dan Kakek bagi Milaine.


"Nenek, Kakek! Sudah lama rasanya tidak melihat kalian. Aku sangat merindukan kalian berdua."

__ADS_1


__ADS_2