
Faza terkejut di depannya saat ini tengah Thea terikat di sana. Thea sudah dipaksa dan diperintahkan untuk jujur dan meminta maaf kepada Faza sendiri.
Awalnya ia tidak mau, bahkan saat ini pun ia enggan untuk melakukannya. Tetapi itu semua ia lakukan agar tidak mendapat hukuman dan siksaan dari Avan.
"Kak Thea?" Heran Faza karena memang wajah Thea yang sulit dikenali dengan oakaian dan tubuh yang sudah berkecamuk kotor.
Faza pun menoleh kearah suaminya yang menganggukkan kepalanya. Dan ia pun mendekat dimana Thea diikat.
"Ada yang ingin kak Thea bicarakan?" Tanya Faza karena ia tau bahwa Avan tidak mungkin membawanya hanya untuk melihat menyiksa Thea.
"Hahaha! Aku memang ingin bicara padamu?" Tukas Thea.
"Aku yang hampir membunuhmu! Jika saja dokter sialan itu tidak datang kau pasti sudah mati!" Teriak Thea.
"Kenapa kak Thea melakukannya! Aku ini adikmu dan kau adalah kakakku. Selalu dan akan selalu seperti itu kak!" Ujar Faza.
Namun perkataan Faza sama sekali tidak membuat Thea bimbang sedikitpun.
"Never!" Sahut Thea.
"Dan aku tidak akan meminta maaf kepada siapapun!" Timpal Thea.
Dan salah satu orang Avan tengah mencengkeram mulut Thea dan itu juga atas perintah Avan.
"Suamiku!" Ujar Faza sembari memggelengkan kepalanya.
Namun tetap saja Avan tidak akan menurutinya. Ia pun juga memilih untuk agar Thea mengucapkan maaf kepada istrinya.
__ADS_1
Dan tetap saja begitu dengan Thea yang bersikeras untuk tidak mau meminta maaf kepada Faza.
Avan pun membawa Faza.pergi dari sana. Ia ingin memberikan sedikit pelajaran kepada Thea sebelum ia mencebloskannya ke dalam penjara.
"Kalian lakukan untuk membuatnya menderita!" Ujar Avan dan melihat jam tangannya.
"5 jam!" Timpal Avan dan segera pergi dari sana.
...🍀🍀🍀...
Silih waktu berganti, berlalu diikuti dengan hembusan angin. Setelah mencebloskan Thea beberapa bulan yang lalu kini Avan dan yang lainnya hidup dengan tenang.
Just happy and funny moments.
Kini tengah diadakannya tiga bulannya kelahiran bayi kembar Michele dan Marcel.
Ia tidak menyangka dari banyaknya peristiwa dari kehilangan orang tuanya dapat membawanya kepada keluarga yang memperlakuknnya tidak adil.
Dan itu juga membuatnya menuju ke Avan. Jalan yang sama sekali tidak ia pikir kan sekarang menjadi kebahagiannya sendiri.
Acara tiga bulannya baby Michele dan Marcel diisi doa dan ucapan rasa syukur.
"Michele sangat cantik! Matanya seperti kak Avan dan wajah mirip dengan kak Faza!" Seru Anggi.
"Tentu saja Anggi! Pastilah mendominan!" Seloroh Faza.
Anggi hanya tersenyum kecil. Ia pun mentoel toel pipi Michele. Bayi kecil Marcel pun demikian.
__ADS_1
Ia lebih cenderung sangat mirip dengan Avan. Dari semuanya dan hanya bibir Marchel yang terlihat seksi seperti milik Faza.
Acaranya diiringi dengan kebahagiaan. Semua diberkahi dan diberikan kenikmatan yang dapat dibilang lebih dari cukup.
...🍀🍀🍀...
Di dalam kamar kini Avan masih juga tersiksa seperti biasanya. Karena walaupun ini sudah tiga bulan atau lebih dari 40 hari dari masa nifas Faza, kondisi Faza masij tidak di sarankan untuk melakukannya.
Karena seperti yang dikatakan dokter waktu kehamilan Faza, bahwa usia dan semua kerentanan di usia Faza masih sangat berbahaya jadi Avan harus menambah jadwal puasanya menjadi 4 bulan.
Not 40th Day, not weeks, not 1st month but 4th months. Long time right?
"Bisakah kita ke dokter besok?" Rengek Avan.
Faza pun menoleh dan ia mengerti pun mendekat ke arah suaminya dan memeluknya.
"Maaf!" Lirih Faza.
"No sayang!" Ujar Avan.
"Besok kita ke dokter!" Ujar Faza tersenyum.
"Tapi Avan kenapa tidak dokternya saja yang datang? Aku sangat malas!" Tukan Faza yang diangguki Avan.
"Tidurlah! Michele dan Marcel sudah sama yang lain!" Saran Avan karena tau bahwa Faza kini tengah kecapekan.
"Iya aku tau!" Ketus Faza dan tertidur di samping Avan.
__ADS_1
Dan Avan pun hanya bisa terkekeh. Ternyata keluguan Faza hanya terjadi saat dirinya hamil saja. Batin Avan.