Miss Heboh VS Mr Arogan

Miss Heboh VS Mr Arogan
part 96 membahayakan


__ADS_3

Kondisi Faza semakin lama semakin memburuk. Kini telah tiga jam berlalu namun para dokter tidak menunjukkan apapun tentang kondisi Faza. Avan terus saja menunggu di depan ruangan sembari terus murung dan sedih.


Ditemani Leksa dan juga Ricko, karena yang lain juga sudah harus pulang.


'Aku mohon selamatkan istriku!' Pinta Avan di dalam hati.


Beberapa menit berlalu dan lampu pun sudah menyala berwarna hijau. Dengan tergesa gesa Avan pun segera berlari ke arah dokter.


"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Alhamdulillah bayi kembarnya selamat. Namun untuk ibunya kini masih benar benar sangat kritis!" Tukas Rafkan.


Avan pun memijat kepalanya ingin sekali rasanya berteriak. Setidaknya Avan harus bersyukur ternyata dua buah hati mereka selamat. Walaupun ia juga harus merasa khawatir dengan keadaan istrinya.


"Lebih tepatnya saya jelaskan nyonya Faza sedang mengalami koma!" Timpal Rafkan.


"Kumohon lakukan apapun untuk istriku!" Pinta Avan.


Leksa pun memeluk bahu putranya. Ricko yang melihatnya pun juga merasa kasihan dengan putranya. Ini mengingatkannya dulu saat saat ia kehilangan wanita yang pernah ia cintai pula.


Avan sudah ber jam jam lamanya tertekan membuat dirinya benar benar lemas saat mengetahui istrinya koma. Setelah mendapat persetujuan pun pada akhirnya Faza boleh dihampiri namun hanya satu orang dan pastinya Avan. Ricko dan Leksa kini tau putranya harus memberi semangat untuk istrinya.


Avan kini memasuki ruangan. Dan terlihatlah kini tubuh Faza sedang terbaring dengan banyaknya alat alat medis melekat di tubuhnya. Ditambah dengan keheningan dan hanya terdengar priuk suara dentingan mesin detak jantung.

__ADS_1


Wajah yang pernah selalu membuatnya terkadang kesal dengan segala kehebohannya, wajah yang selalu ceria dan heboh kini terdiam dengan tubuh lemahnya.


Avan kini duduk disampingnya dengan tangan menggenggam erat tangan istrinya yang tidak ada pergerakan sama sekali.


"Bangunlah sayang!" Lirih Avan.


...🍀🍀🍀...


Keesokannya kini bukan Rafkan yang mengecek dan menangani Faza karena dirinya harus ke luar negeri untuk observasi lanjutan. Membuat dokter lain yang menangani.


Berhari hari Avan tiada kehidupan. Selalu hanya kehidupan bagaikan hitam putih. Semua yang menjadi warna hidupnya sedang antara hidup dan mati.


Dan lagi mau tidak mau Avan harus menuruti permintaan dokter. Ia pun hanya bisa berjalan lemas. Leksa yang melihatnya merasa kasihan.


"Kau tidak mau melihat anak anakmu? Dari kemarin kau hanya sibuk menemani Faza!" Seru Leksa.


"Benar! Dimana mereka dan apa jenis kelaminnya mah?" Tanya Avan.


"Kau lihat saja sendiri!" Ujar Leksa.


Avan pun berlalu untuk melihat dua buah hatinya. Ia merasa tersentuh saat melihat wajah kedua anaknya yang sangat mendominasi dirinya dan juga Faza. Muka bulat dan imut mereka sangatlah mirip dengan Faza. Namun bibir dan juga matanya sangat mirip dengan Avan.

__ADS_1


"Anak mu yang pertama perempuan dan yang kedua laki laki!" Seru Leksa.


Avan pun menitikkan air matanya sembari tangannya mengelus pipi putri dan putra mereka bergantian. Namun wajah Avan kembali sendu saat mengingat kembali istrinya tengah berada diantara hidup dan mati.


"Doakan semoga mommy kalian baik baik saja!" Lirih Avan menatap putri dan putra mereka.


...🍀🍀🍀...


Satu bulan berlalu,


Masih seperti sebelumnya Faza masih saja belum sadar. Kini Avan juga sudah kehilangan siapa dirinya sebenarnya. Bahkan kedua buah hatinya diurus oleh Leksa dan dibantu oleh beberapa maid. Karena Avan yang terus mendampingi istrinya.


Tubuh yang semakin tidak terurus itulah yang saat ini dilihat dari seorang Avan Fitroni Mahardika.


"Kenapa kau belum bangun sayang!" Ujar Avan.


Tiba tiba Avan dikejutkan oleh tubuh Faza yang kejang kejang. Avan yang panik pun segera memanggil dokter namun dokter yang menangani Faza saat ini tidak ada entah kemana. Untung saja Rafkan sudah kembali dan membuat dirinya memeriksa keadaan Faza.


Namun Rafkan dikejutkan oleh sesuatu yang sangat membuatnya panik.


"Kenapa keadaannya semakin memburuk dan semua cairan dan alat alat ini semakin membahayakannya!" Pekik Rafkan yang juga membuat Avan terkejut.

__ADS_1


__ADS_2