
"Maaf menunggu lama!" Ujar Faza tersenyum ramah ke arah Rako dan juga Kia.
Avan hanya diam saja begitu juga dengan Rako. Mereka sama sama bersifat cuek dan tidak peduli satu sama lain. Yang satu menyilangkan tangannya dan yang satu menaruh tangannya di saku. Ya sama sama bersifat angkuh.
"Lama! Tapi tidak punya rasa bersalah!" Ketus Rako menyindir Avan.
Kia pun memegang lengan suaminya secara lembut namun tidak dengan Faza. Ia tanpa segan segan menginjak kaki suaminya membuat Avan sedikit menahan ringisannya.
"Silahkan!" Ujar Kia.
"Maaf ya! Tadi itu Avan lama sekali memilih bajunya padahal hanya untuk bertemu sahabatnya!" Ucap Faza tanpa berdosanya.
Avan yang dari tadi terlihat diam langsung melotot ke arah istrinya yang tidak sama sekali memiliki kesalahan. Seakan akan mulutnya tidak pernah berdosa dan berucap kesalahan. Apa yang diucapkan oleh Faza akan selalu benar.
Dan hidupnya juga seakan akan ringan tanpa beban. Ia memang hebat. Ya Avan harus mengakui jika rubahnya benar benar licik tiada dua.
"Mau apa kalian mengajak bertemu!" Ketus Avan.
"Siapa juga yang sudi!" Timpal Rako.
"Bodoh!" Ujar Avan.
"Gila!" Sahut Rako.
"Payah!" Ujar Avan kembali.
__ADS_1
"Si telat!" Rako kembali menyahut sindiran Avan.
"Diam!!" Kesal Faza dan Kia bersamaan.
Kesabaran mereka sebagai seorang istri sudah habis untuk mengurusi dua manusia itu.
"Kalian nyadar gak sih disini yang gila siapa?" Tanya Faza dengan kesal.
"Memang siapa?" Tanya Kia.
"Suamiku dan suamimu itu memang cocok jadi sahabat! Sama sama gila sudah!" Ucap Faza.
"Cuih!" Decih Avan dan Rako bersamaan.
"Ciyeeee!"
Satpam yang menjaga apartemen Aven terheran karena melihat pemilik apartemen yang tengah berlari histeris sembari meneriaki kata hantu. Dengan sedikit ragu satpam bernama Pak Prianto menghampiri Aven.
"Tuan anda kenapa?" Tanya Pak Pri.
"Tolong saya pak istri saya saat ini di santet karena sikapnya sangat aneh!" Jelas Aven dengan ngos ngos an.
Pak Prianto menautkan alisnya. Memang jaman sekarang masih ada yang menggunakan hal hal seperti itu. Pikir Pak Pri. Dengan rasa penasaran pun Pak Priyanto memasuki apartemen dan memasuki kamar Aven.
Sedangkan Aven sendiri bersembunyi dibalik Pak Pria sembari memegang baju yang dikenakan Pak Pri. Pak Pri sendiri sampai menahan tawanya saat melihat Aven yang benar benar ketakutan. Padahal Aven sangat terkenal dengan gaya kerennya
__ADS_1
"Loh? Ada apa?" Tanya Lola saat melihat Pak Pri dan Aven masuk dengan sedikit gelisah.
"Nyonya tidak ada yang aneh tuan!" Ujar Pak Pri.
"Aneh? Jadi kau menganggap ku gila atau menganggap ku kena santet?" Kesal Lola berkacak pinggang.
"Lihatlah Pak Pri! Itu aneh bukan. Istriku tidak pernah marah padaku!" Tukas Aven menunjuk ke arah Lola.
"By!!!!" Teriak Lola karena tidak terima dengan ejekan yang diucapkan suaminya.
"Memang apa salahnya Tuan Aven!?" Tanya Pak Pri kembali karena dirinya masih bingung dengan Aven yang mengira istrinya itu kerasukan hantu.
"Dia setan! Pasti bukan Lola!" Tetap saja Aven bersikukuh mengira bahwa Lola bukanlah Lola. Melainkan Lola yang tengah di santet dan di rasuki setan.
"Tuan memang apa yang aneh!?" Tanya Pak Pri lagi dan lagi.
"Sudahlah Pak Pri. Bukan saya yang aneh tapi dia. Lebih baik Pak Pri kembali jangan hiraukan suami saya yang sudah kesurupan itu!" Ucap Lola dengan santainya dan kembali masuk ke dalam kamarnya.
'Sepertinya benar bukan Nyonya Lola yang seperti biasanya!' Gumam Pak Pri.
Ia juga merasa aneh dengan sifat Lola.
"Lihatkan? Bahkan dia tidak peduli dengan ku!" Ujar Aven.
"Tadi pagi saja ia makan itu rujak kecut!" Gidik Aven.
__ADS_1
"Rujak kecut? Maksudnya buahnya masih mentah gitu?" Tanya Pak Pri yang dijawab anggukan kepala.
'Jangan jangan!!' Pak Pri mencoba berpikir dengan cerdik untuk menyelesaikan kasus persantetan dan perasukan setan yang terjadi di rumah tangga Aven dan Lola.