
"Kalian ingin makan apa?" Tanya Kia pada Avan dan juga Faza.
Faza masih saja sibuk membolak balikkan buku menu. Sedangkan Rako dan Avan masih saja sibuk diam sembari saling menatap tajam. Mengisyaratkan seolah olah siap untuk bertarung.
"Aku mau steak, bakso, cumi pedas asam, lemon tea, jelly rasa coklat,es krim rasa coklat dan emm tambah kentang goreng tambah juga cake rasa coklat stoberi. Udah itu aja aku lagi diet jadi tidak makan nasi!" Seloroh Faza panjang kali lebar setelah menyebutkan makanan yang diinginkannya ia pun menutup kembali bukunya dan tersenyum seakan ia tidak salah memilih makanan.
Rako dan Avan sebagai laki yang mendengar pesanan yang dipesan Faza hanya bisa membayangkan bagaimana besarnya perut Faza jika makan semuanya.
Jika biasanya para wanita selalu menjaga pola makan mereka namun tidak dengan Faza. Semenjak awal Avan menikah dengan Faza itupun Faza juga sangat banyak makannya. Apalagi saat Faza hamil. Pasti nasi 1 kg di mansion habis terlahap dan masuk diperut Faza.
"Kau sedang hamil kembar. Ingat kata dokter jaga pola makanmu Faza!" Ujar Avan.
"Aku kan bilang aku itu diet suamiku! Kau tidak lihat aku tidak memesan nasi!" Faza menyebikkan bibirnya merasa kesal dengan Avan yang melarang untuk makan sesuai keinginannya.
Rako sampai menggelengkan kepalanya. Ia tidak bisa membayangkan jika nantinya Kia juga hamil dan mengidam. Sedangkan Kia sendiri terkekeh. Ia menahan tawanya melihat bagaimana porsi makan Faza dan kekesalan Avan saat istrinya tidak menjaga pola makannya.
Ia merasa beruntung karena tidak sempat merusak rumah tangga Avan. Karena Avan sangat terlihat bahagia menikah dengan wanita yang dicintainya walaupun masih sangat muda.
"Faza kau itu diet kesamping!" Ujar Kia dengan terkekeh.
Bagaimana tidak. Benar saja Faza tidak memesan nasi tapi tetap saja ia memesan begitu banyak makanan sampai ke penutup penutupnya. Sungguh istri Avan harus diberikan jempol.
"Aku itu ingin makan itu. Lagian uang suamiku itu juga banyak dia sendiri saja tidak bisa menghabiskan tugas istri kan membantu!" Jelas Faza membuat Avan menggelengkan kepalanya.
"Jika aku menikah dengan orang lain aku tidak akan memesan sebanyak itu!" Timpal Faza membuat Avan mendelik.
Kia dan Rako hanya diam merasa terhibur melihat bagaimana Avan menghadapi istrinya.
"Tidak ada! Cepat pilih satu jenis makanan dan satu jenis minuman" Pinta Avan.
"Avan aku mau makan itu semua!" Rengek Faza.
__ADS_1
"Kau itu turuti saja istrimu! Suami durhaka!" Ketus Rako.
"Aku melakukannya demi menjaga istri dan anakku karena aku setia dengan satu wanita!" Sindir Avan.
"Kau bilang apa!" Bentak Rako.
"Rako!" Panggil Kia menggelengkan kepalanya.
"Dia yang mengejekku sayang! Kau tidak dengar!" Kesal Rako.
"Memang apa salahnya kau kan memang memiliki banyak wanita!" Sungut Kia.
"Sayang itukan dulu!" Keluh Rako.
"Ayo Kia suamimu itu alasan! Sudah hajar saja! Kalau perlu biar saja dia tidur di kandang kambing!" Seloroh Faza menyoraki pertengkaran antara Rako dan Kia.
Rako langsung mendelik dan menatap tajam ke arah Faza. Namun bukan namanya Faza jika ia takut dengan apapun. Ia bukan takut namun harus ditakuti. Sedangkan Avan hanya diam. Mengikuti bicara itu akan membuatnya malu sendiri.
"Lihatlah, Dia melototi ku Ki. Sudah jangan kasih ampun!" Timpal Faza.
"Sayang!" Rengek Rako.
"Sudah tidak usah dibahas lagi!" Seru Kia.
"Yah ga seru!" Pekik Faza.
Kia hanya terkekeh. Sedangkan Rako benar benar ingin sekali membawa Kia pergi dari hadapan suami istri yang akan membuatnya masuk rumah sakit jiwa saja.
"Kau jadi pesan apa?" Tanya Kia kembali.
Faza pun menatap ke arah Avan. Namun tetap saja Avan harus bertindak agar istri dan anaknya tidak terjadi sesuatu. Faza harus memesan satu jenis makanan dan satu jenis minuman.
__ADS_1
"Baiklah! Aku menurut suamiku!" Pasrah Faza.
"Aku pesan 5 steak dan 5 es coklat!" Seloroh Faza.
"Apa??" Pekik Kia dan Avan bersamaan.
"Apa? Bukannya tadi satu jenis makanan sama minuman? Bukankah aku pesan steak dan es coklat!" Gerutu Faza.
"Hanya satu makanan dan minuman Faza!" Geram Avan.
"Gimana sih katanya satu jenis sekarang satu pesanan!" Kesal Faza.
"Sudahlah aku tidak mau makan! Kalian itu membuat nafsu makan ku habis!" Gumam Faza tiba tiba.
"Avan istrimu itu benar benar!" Ucap Kia menggelengkan kepalanya.
Akhirnya Avan, Rako dan Kia memesan makanannya sendiri. Namun di saat ia sudah selesai menyebutkan makanannya Faza pun beranjak untuk ke kamar kecil. Padahal niatnya bukan untuk ke kamar kecil namun untuk menyusul waiters yang tadi.
"Eh mbak!" Panggil Faza.
"Iya nyonya! Ada yang bisa saya bantu!" Ujar sang waiters.
"Tadi suamiku lupa katanya mau nambah steak 5 sama es coklat 5!" Ujar Faza.
Sang waiters mengerutkan keningnya. Bagaimana bisa Avan memesan segitu banyaknya makanan.
"Anda serius nyonya?" Tanya waiters meyakinkan.
"Iya. Aku lagi hamil nah yang ngidam itu suamiku!" Jelas Faza yang dijawab anggukan kepala oleh waiters.
"Baiklah silahkan di tunggu!" Jawab waiters.
__ADS_1
Faza pun kembali ke tempat dimana Avan berada.
'Nah! Kalau ginikan Avan tidak akan melarangku karena makanannya sudah terlanjur dipesan dan disajikan!' Gumam Faza merasa senang.