
Setelah selesai dengan kegiatan panas mereka. Avan dan Faza memilih untuk makan siang di salah satu restoran di jalan XXX. Seperti biasa Avan selalu membooking lebih dulu restoran itu. Ia tidak mau banyak media menyorot istri dan dirinya.
Avan juga sengaja untuk memancing Kia agar mau datang ke restoran. Dan itu semua adalah permintaan dari rubahnya. Siapa lagi jika bukan Faza. Entah Avan harus pusing atau bahagia mendapat istri seperti Faza. Mungkin dua duanya semua dirasakan oleh Avan.
"Kia akan jalan lewat sini. Kau makanlah dulu!" Seru Avan.
"Hish aku itu ingin segera bertemu kekasihmu itu!" Gerutu Faza
"Dia bukan kekasihku!" Ujar Avan.
"Ya terserah bagaimana maumu!" Gumam Faza.
"Kau yakin tidak mau makan dulu?" Goda Avan yang memakan makanannya sembari memamerkan makanannya ke arah Faza.
Kress.
Suara kriukan dari ayam goreng terdengar ditelinga Faza. Faza meneguk kasar ludahnya. Ia pun menatap ke arah meja makannya. Sudah lengkap dengan masakan yang enak dan menggugah selera di sana.
Lobster, ayam goreng, udang goreng, dan juga lemon jus sudah berada di depannya. Ditambah nasi di sampingnya membuat perut Faza mendemo.
makan! makan! makan! makan! makan!
"Apa itu enak?" Tanya Faza dengan air liurnya yang siap untuk menetes.
"Hei lap air liurmu!" Ujar Avan.
Makan tidak ya? Akh makan sajalah aku sudah lapar!.
Faza mengambil nasinya dan mulai menyendokkan semua lauk kepiringnya. Avan yang melihatnya tertawa kecil. Baru saja Faza menolak makan dan sekarang malah Faza lah yang hampir menghabiskan semua makanan di depan mereka.
__ADS_1
Faza tidak menghiraukan suaminya yang tengah tertawa itu. Di saat ia akan menyuapkan pertamanya ke mulutnya tiba tiba sebuah suara menghentikan kegiatan Faza.
"Avan!?" Panggil Kia.
Faza yang sudah merasa lapar hanya bisa mendengus. Baru saja ia akan memakan makanannya namun si kintilan di depannya ini mengganggunya.
"Kenapa kau kesini?" Ketus Avan.
"Aku hanya jalan jalan dan aku melihat kau dan adikmu! Tapi Avan dimana istrimu kenapa kau malah mengajak adikmu?" Heran Kia.
'Sial! Dia menganggapku adik Avan.? Dasar kintilan!" Gumam Faza di dalam hatinya.
"Halo kintilan!" Seru Faza menunjukkan senyum Pepsodent nya.
"Kintilan? Namaku Kia bukan kintilan!" Pekik Kia.
'Ya karena kau selalu ngintil dengan suamiku!' Gerutu Faza dalam hati.
"Tidak apa apa!" Seru Faza dengan cuek.
"Kau adik Avan dari mana karena sebelumnya Avan tidak pernah mengenalkanmu!" Ujar Kia.
"Kenapa Avan harus mengenalkanku padamu? Memang kau siapanya?" Tanya Faza dengan pedas.
Deg.
Kia diam membisu. Bagaimana wanita kecil ini bisa berkata seperti itu. Bahkan di saat ia memanggil Avan hanya memanggil dengan sebutan namanya saja.
"Aku ini kekasihnya!" Jawab Kia dengan gugup.
__ADS_1
"Aku sudah memiliki istri!" Sahut Avan dengan dingin.
"Avan!" Panggil Kia.
"Mungkin Avan menganggapmu kintilan!" Timpal Faza membuat Avan terkekeh kecil.
"Kau kenapa memanggil kakakmu dengan namanya saja! Kau itu adiknya tapi kurang ajar!" Ketus Kia.
Faza hanya memakan makanannya sembari mengangkat bahunya. Ternyata sangat seru bermain mulut dengan si kintilan. Faza pun memakan makanannya dan segera minum. Ia harus mengisi tenaga untuk beradu mulut dengan si kintilan.
"Kenapa kau berpikir aku ini adiknya?" Tanya Faza setelah selesai dengan acara makan singkatnya.
"Memang kau siapa nya Avan?" Tanya Kia.
"Bodoh! Aku tanya kenapa kau ganti tanya? Paham tidak sih!" Kesal Faza membuat Kia terjengkit.
Avan hanya diam walau sebenarnya ia ingin sekali merengkuh tubuh istrinya karena yang dilakukannya hari ini benar benar luar biasa bahkan super super luar biasa.
"Karena...karena--"
"Karena apa ya! Kenapa aku bisa menganggap dia adiknya Avan!" Gumam Kia dalam hati.
"Sudahlah bicara denganmu seperti bicara dengan bebek! Enggak nyambung!" Tekan Faza.
"Memang kau siapanya Avan?" Tanya Kia kembali.
"Astaga! Kenapa kau tidak menebakku pembantu? sekretaris? pengasuh? Atau kau bisa menebakku istrinya mungkin!" Seloroh Faza.
Ha? istri?
__ADS_1