
"Loh!" Kaget Faza saat Kia datang ke acara resepsi pernikahannya dengan Avan.
Kia hanya tersenyum menatap Faza. Walaupun di dalam hatinya ia ingin sekali menjadi Faza diposisi saat ini. Namun takdir membalikkan keinginannya. Yang akan ia lakukan adalah mencoba ikhlas dan tidak menjadikan dendam sebagai alatnya.
"Suamiku!" Ujar Faza melirik kearah Avan dan Avan hanya mengangguk.
Faza dengan malu malu pun mendekat kepada Kia.
"Maaf waktu itu aku memukulmu!" Lirih Faza.
"Tidak apa. Pasti istri lain juga marah jika dikatai psychopat!" Kekeh Kia yang dibalas senyuman oleh Faza dan juga Avan.
"Kau tidak akan membunuhku dan anakku kan?" Tanya Faza dengan hati hati.
Avan dan Kia hanya terkekeh. Pemikiran Faza bahkan sudah diluar batas dari anak yang baru lepas seragam sepertinya. Entah Avan harus merasa bangga.
"Mana mungkin! Mana ada yang berani melawan seorang psychopat ibu hamil!" Gurau Kia.
"Suamiku!" Gerutu Faza mengadu pada Avan.
"Selamat buat kalian!" Seru Kia dengan tulus.
...🍀🍀🍀...
Disisi lain.
"Akhh apa apaan ini!" Teriak Thea.
Hermawan dan Shinta yang mendengar teriakan dari arah ruang keluarga pun segera berlari menghampiri asal suara.
"Kau itu kenapa sih bikin kaget mamah saja!" Kesal Shinta.
"Mah!" Ujar Thea dengan jari dan tatapan yang masih mengarah kearah televisi.
Hermawan dan Shinta pun menatap kearah dimana Thea melihat. Mereka terkejut saat ternyata seorang anak pungut yang di perlakukan layaknya pembantu kini berdiri di sebuah gedung mewah bersanding dengan seorang yang sangat dikenal mereka.
__ADS_1
Mereka berdua saling melamun. Bahkan untuk berkedip saja sangat sulit. Faza begitu cantik bahkan dibandingkan Thea Faza benar benar sangat cantik.
"Bagaimana bisa!" Kesal Shinta.
"Kita harus bertindak! Jangan biarkan anak itu beruntung sedangkan kau!" Geram Hermawan.
"Kau temui Rako dan hancurkan mereka!" Timpal Hermawan.
Thea hanya mengiyakan permintaan Papanya. Ia segera melangkahkan kepergiannya menuju apartemen Rako.
"Ada apa?" Tanya Rako
"Kau tau berita di tv?" Timpal Thea yang dijawab anggukan kepala oleh Rako.
"Bagaimana ini! Aku tidak mau Faza bahagia dan lebih beruntung dariku! Dan kau bukannya kau tidak terima Avan sebahagia itu!?" Ujar Thea.
"Kau benar!" Gumam Rako.
Setelah berbincang banyak dengan Rako. Mereka pada akhirnya berakhir diatas ranjang. Mereka meluapkan kekesalan dalam dosa yakni menyatu tanpa ikatan suci.
"Sayang! Bukankah Kia mantanmu itu kesini?" Tanya Thea.
"Kalau begitu kenapa kita tidak manfaatkan saja dia!?" Seringai Thea.
"Maksudmu!?" Heran Rako yang terkejut atas pemikiran dari wanita pemuasnya.
"Kita buat Kia menghancurkan mereka!" Timpal Thea.
"Bagaimana caranya?" Sahut Rako.
...🍀🍀🍀...
Sedangkan di gedung acara resepsi pernikahan Avan dan Faza sedang dalam tahap pemotretan. Faza sama sekali tidak ingin di foto. Entah karena keinginannya atau bayi yang dikandungnya. Leksa dan para wanita lainnya cukup memahami keadaan Faza yang tengah mengidam itu namun tidak dengan Avan yang sangat berniat ingin berfoto berdua dengan Faza.
Faza menolak keras dengan alasan yang sangat tidak masuk akal membuat Avan benar benar pusing tujuh keliling.
__ADS_1
"Avan! Aku tidak mau foto!" Rengek Faza.
"Kau harus mau!" Tegas Avan yang sudah lelah berdebat dengan istrinya sendiri.
"Ayolah suamiku! Foto akan menghabiskan penyimpanan!" Jelas Faza.
"What!" Pekik Avan menepuk keningnya.
Para keluarga yang melihat kekesalan Avan hanya bisa terkekeh. Apalagi Dhan dan Mahardika yang benar benar tertawa puas melihat Avan tersiksa. Setidaknya rasa kesal yang dialami para grandpa sudah terbayar lunas oleh istri dari Avan sendiri.
"Itu tidak akan menghabiskan penyimpanan ponselmu Faza. Kita foto di kamera dan akan dijadikan grid bukan disimpan di ponselmu!" Kesal Avan.
"Hish suamiku! Kau itu bodoh atau apa sih!" Geram Faza.
"Pak kamera! Kamera itu ada memorinya tidak?" Tanya Faza kepada fotografer.
"Ada nyonya!" Jawab fotografer dengan ragu.
"Nah! Suamiku kau dengar?!" Ucap Faza sedikit keras agar Avan dapat mendengarnya.
"Astaga aku harus bagaimana lagi!" Keluh Avan menjambak kasar rambutnya sendiri.
"Memori itu bisa penuh kau itu bagaimana sih!" Geram Faza.
"Tapi tapi ah Faza,istriku tercinta. Kita foto dulu okey?" Ucap Avan bersabar.
Semua terkekeh melihat adegan lucu didepan mata. Sungguh Faza benar benar hebat. Ucapan dan pemikirannya sama sekali tidak ada yang bisa menandingi bahkan seorang Avan sendiri.
"Aku nggak mau bukannya sudah aku bilang kalau akan menghabiskan penyimpanan saja!" Gerutu Faza membuat Avan menghela nafas.
Aven disana benar benar menahan tawanya kuat sekali. Seorang saudaranya yang dulu tidak dapat ia bantah kini dengan mudahnya sangat takluk dengan gadis kecil yang baru lepas seragam putih.
"Faza tenanglah setelah foto. Fotonya akan dihapus lagi jadi tidak akan menghabiskan memori!" Jelas Leksa.
"Benarkah? Ya sudah ayo!" ujar Faza.
__ADS_1
"Subhanallah!" Gumam Avan mencoba menahan kekesalan di hatinya.
"Kenapa tidak kupikirkan dari tadi jika seperti ini" Gerutu Avan dalam hati.