
Kini Rafkan bertindak untuk menangani Faza. Sedangkan Avan tersulut kemarahan saat mengetahui dokter gadungan yang selama ini menanganinya semakin membuat Faza memburuk.
Dengan langkah yang penuh amarah ia pun mulai menghubungi Will dan mulai mencari keberadaan dokter yang hampir membunuh istrinya.
"Jadi dokter itu gadungan?" Tanya Ricko dijawab anggukan kepala oleh Avan.
"Ting!" Pekik Will tiba tiba setelah selesai mengakses semua informasi tentang dokter gadungan yang bernama Bima.
"Ini tuan! Semua yang berkaitan dengan dokter ini semuanya palsu. Ia memalsukan data bahwa ia dokter terpercaya dari Swiss. Setelah dicek ternyata ia hanya pembisnis biasa! Namanya Bima!" Jelas Will.
"Bima?" Heran Avan.
Avan mendengus. Ia tidak kenal siapa itu namun pada intinya saat ini tengah kesal karena telah berani beraninya untuk membuat istrinya diambang kematian.
"Will aku tidak mau tau kau tangkap orang itu!" Kesal Avan yang berlalu.
...🍀🍀🍀...
Kini Avan kembali ke mansion dan ingin menjenguk kedua buah hatinya.
"Halo anak daddy!" Sapa Avan.
Leksa yang melihatnya hanya tersenyum setidaknya Avan masih peduli dengan kedua buah hatinya walaupun Faza masih saja belum menunjukkan kesadarannya.
"Avan kau tidak mau memberi nama kedua anakmu?" Tanya Leksa.
__ADS_1
Sedangkan Avan hanya menatap sendu ke arah dua buah hatinya. Ia belum memikirkan bahkan memberikan sebuah nama kepada kedua anaknya. Ia ingin menunggu agar istrinya sadar lebih dahulu.
"Aku ingin menunggu Faza!" Lirih Avan membuat Leksa mengertikan keadaan anaknya.
"Mah, aku harus pergi dulu!!" Ujar Avan yang dijawab anggukan kepala oleh Leksa.
"Anak anak daddy kalian sama nenek baik baik! Dan doakan mommy kalian agar segera sembuh!" Ucap Avan sebelum pada akhirnya memberikan ciumannya kepada kedua buah hatinya.
...🍀🍀🍀...
Avan pun berlalu dan segera menujukan dirinya untuk kembali ke rumah sakit dan melihat bagaimana keadaan istrinya.
"Apa yang kau rasakan?" Tanya Rafkan saat Faza kini telah membuka matanya.
"Haus!" Lirih Faza.
Dan tiba tiba Avan masuk ke ruangan membuat dirinya dan juga Rafkan terkejut. Kini istrinya tengah membuka matanya. Dengan hati yang tidak karuan, Avan pun berlari mendekat ke arah istrinya.
"Avan!" Panggil Faza dengan sangat lirih.
"Iya sayang! Kau sudah bangun!" Isak Avan membuat Rafkan terkekeh kecil melihat seorang yang berkehidupan cuek dan dingin kini menangis dihadapannya hanya karena istri tercintanya.
"Avan dimana anak anak ku?" Tanya Faza.
"Anak kita ada dirumah sayang! Kau harus cepat pulih agar kau bisa bertemu dengan mereka!" Ujar Avan girang.
__ADS_1
"Kita tunggu untuk beberapa hari. Jika survei menunjukkan tidak ada kendala maka dalam waktu dekat istrimu akan boleh pulang!" Timpal Rafkan tiba tiba.
Bangunnya Faza dari koma sudah diterima oleh keluarga. Semua merasa senang dan tenang saat Faza masih dapat sembuh dan bertahan.
Kini, di mansion Lola tengah merasakan bahwa dirinya akan melahirkan. Leksa pun segera menyuruh Aven untuk membawa Lola ke rumah sakit. Namun kenyataannya malah Aven yang pingsan membuat Leksa sendiri yang harus membawa Lola dan juga Aven ke rumah sakit.
"Astaga! Anak ini benar benar!" Gerutu Leksa.
"Mah sakit!!!!" Teriak Lola sembari mencengkeram tangan Aven yang tengah pingsan disampingnya.
"Kau tahan dulu Lola, kita akan segera sampai!" Tukas Leksa.
Di rumah sakit kini Lola audah siap untuk melakukan lahiran. Karena saat di dalam mobil Lola sudah melengkapi pembukaannya.
"Ayo by kau bisa cepat brojolkan anak kita dan sudah selesai!" Ujar Aven
"Akhhh!" Teriak Aven tiba tiba karena Lola yang mencakar pipinya.
"Astaga wajahku!" Pekik Aven membuat para dokter yang menangani terkekeh kecil.
"Ayo By brojol! brojol! brojol! brojol!" Sorak Aven.
Sang dokter yang melihatnya pun sedikit heran dan merasa aneh dengan Aven. Karena pada umunya seharusnya memberi semangat dan dukungan kepada istri saat melahirkan.
Namun tidak dengan Aven, ia sama sekali tidak memberi dukungan dan semangat bahkan memberinya sorakan.
__ADS_1
"By setelah ini kau yang harus hamil dan melahirKANNN!!!!" Pekik Lola
"Enak saja bilang brojol sedangkan aku harus kesakitan!" Gerutu Lola sembari terus mengejan dan mengomel sembari menyiksa Aven.