
Hari ini Avan mengajak istrinya untuk makan malam romantis di salah satu taman. Ia ingin menunjukkan cintanya dan bagaimana rasa senangnya karena telah memiliki kebahagiaan.
"Suamiku kau itu ternyata pria yang romantis juga!" Seloroh Faza.
"Aww!" Pekik Faza tiba tiba.
"Ada apa sayang! Kau tidak apa apa? Apa anaknya mau keluar?" Tanya Avan antusias.
Faza hanya menggeleng. Ia pun menarik tangan suaminya dan menyuruhnya untuk memeluknya dari belakang sembari menatap indahnya taman yang sudah dihiasi sedemikian rupa oleh Avan.
Faza pun menaruh kedua telapak tangan Avan di perutnya. Ia ingin Avan merasakan bahwa baby mereka sudah dapat bergerak di dalam sana yang berarti bayinya sehat.
"Apa itu tadi anakku?" Tanya Avan seraya meraba perut istrinya.
Ia merasakan gerakan pada perut Faza. Betapa bahagianya Avan saat ternyata istri kecilnya benar benar telah hamil anaknya.
"Tentu saja! Dia menendang Avan yang berarti dede nya tau kalau daddy nya itu kasih kejutan ke mommy nya!" Seru Faza tersenyum.
Avan pun mempererat pelukannya dan menaruh dagunya di bahu Faza. Ia juga sesekali meraba perut buncit istrinya.
"Avan! Kau itu kenapa jarang sekali mengatakan aku cinta kamu atau I love you Faza atau istriku aku cinta padamu! Avan kau itu sebenarnya cinta gak sih!" Gerutu Faza mengerucutkan bibirnya.
"Tentu saja aku mencintaimu dasar wanita heboh!" Seloroh Avan terkekeh.
"Coba katakan!" Ujar Faza.
"I love you!" Singkat Avan yang langsung membalikkan tubuhnya dan membungkam bibir istrinya dengan bibirnya sendiri. Mereka sama sama menikmati indahnya malam hari di taman.
__ADS_1
"Kau itu! Dasar laki laki arogan!" Kesal Faza.
"Kau mau makan atau tidak jangan banyak bicara!" Ujar Avan.
"Astaga suamiku kau itu merusak suasana hatiku yang sedang senang!" Geram Faza
"Kucabut kata kata ku kau itu bukan pria romantis!" Timpal Faza.
Avan pun hanya terkekeh mendengar gerutuan istrinya.
"Aku akan romantis nanti kalau sudah di kamar!" Seloroh Avan diiringi tawanya.
"Avan!!!" Pekik Faza.
...🍀🍀🍀...
Kandungan Faza juga sudah memasuki 9 bulan. Hanya tinggal persiapan menunggu sepuluh hari. Faza dan Avan tidak ingin melihat jenis kelamin anak anak mereka.
Mereka ingin semua menjadi kejutan. Bahkan mereka belum sama sekali membelikan peralatan bayi. Hanya membeli kasur yang mereka siapkan untuk tidurnya sang bayi.
"Kenapa sepuluh hari itu lama sekali!" Kesal Faza dihadapan dokter kandungan yang merawatnya.
Avan hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat istrinya. Padahal beberapa hari sebelumnya Faza sangat takut untuk segera melahirkan. Bahkan ia mengira bahwa sembilan bulan ini sangatlah cepat.
Dan sekarang dirinya malah ingin segera melahirkan.
"Semua kehendak yang di atas. Tidak memungkinkan sepuluh hari lagi bisa jadi akan lebih awal ataupun melebihi!" Jelas sang dokter.
__ADS_1
"Begitu ya!" Ujar Faza yang dijawab anggukan kepala oleh dokter.
"Suami harus siap siaga ya! Dan seringlah melakukan hubungan suami istri dan keluarkan di dalam agar lebih cepat berkontraksi. Karena jika sudah sembilan bulan ini tuan harus mengeluarkan di dalam tidak apa karena akan membantu untuk proses kelahiran lebih cepat!" Timpal dokter.
"Tentu saja!" Gumam Avan yang mendapat pelototan mata oleh Faza.
"Pastikan nyonya Faza menjaga kesehatan ya!" Seru dokter.
"Baik dok!" Jawab Faza.
"Dan jangan membuat aliran darah berhenti karena akan membuat pembengkakan. Jangan terlalu lelah. Dan pastikan memakai pakaian yang longgar saja dan maaf tidak usah memakai bra dan cd agar peredaran darah lebih lancar. Banyak minum air putih dan sayuran!" Jelas sang dokter kembali.
"Jadi saya tidur tidak memakai apapun gitu dok?" Tanya Faza tersulut kesal.
Bagaimana tidak jika ia tidak memakai apapun sama saja Faza memberikan celah kesempatan pada Avan.
"Hanya bra dan cd yang terlihat terlalu ketat. Nyonya Faza bisa menggunakan daster saja atau pakaian yang tidak terlalu ketat!" Jawab sang dokter.
"Ikuti saja apa kata dokter itu demi kebaikan anak anak kita!" Timpal Avan tiba tiba.
"Alasan! Bilang saja itu maumu! aku tau Avan kalau hatimu saat ini tengah berbunga karena setiap saat kau bisa menghabisi istrimu ini!" Seloroh Faza tanpa malu di depan dokter.
Dokter kandungan itu hanya tersenyum sedangkan Avan sendiri harus menahan malu.
ehem
Avan pun berdehem untuk menghilangkan malunya.
__ADS_1