
Kini sudah tiga bulan berlalu namun sama sekali tanda tanda teror yang muncul sebelumnya sama sekali tidak memberikan langkah selanjutnya. Avan bahkan sudah memeriksa cctv tempat dimana Aven dan dirinya mendapat teror tersebut.
Namun hasilnya nihil. Sama sekali menemukan adanya kejanggalan dari setiap pergerakan seorang yang telah menerornya tiga bulan yang lalu.
Usia sembilan bulan kini sudah ditempuh oleh kandungan Faza. Tinggal menunggu beberapa hari, Avan harus bersiap sedia untuk kellahiran buah hatinya.
"Suamiku!" Panggil Faza.
Dan Avan yang baru saja pulang dari bekerja menghampiri istrinya.
"Kita gak mau lihat jenis kelaminnya?" Tanya Faza dengan lembut
"Tidak usah dulu sayang! Aku ingin menjadi kejutan dan nantinya kita tidak akan merasa kecewa! Misalnya kali ini aku ingin perempuan ternyata dilihat laki laki. Biarlah nanti saja!" Seru Avan mengecup sekilas bibir ranum milik Faza.
Faza pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Kau mau melihatnya sekarang?" Tanya Avan.
"Enggak juga! Aku akan menurut dengan suamiku!" Seru Faza membuat Avan mengelus puncak rambut istrinya.
"Aku ingin kau hamil lagi setelah anak kita lahir!" Ujar Avan dengan terkekeh.
"Hamil itu yang sulit Avan. Istri susah tapi suami bahagia!" Gerutu Faza.
"Tentu saja aku bahagia! Apalagi istriku ini saat hamil benar benar bersikap dewasa ya walaupun cengeng!" Ejek Avan.
__ADS_1
"Jadi aku sebelumnya kekanak kanakan gitu dan sekarang aku cengeng?" Tanya Faza dengan lirih seraya ingin menangis.
Dan Avan hanya terkekeh. Baru saja ia menutup mulutnya namun Faza sudah kembali menangis. Ia pun merengkuh tubuh Faza.
"Shutt! Jangan nangis. Kau bilang hamil istri yang sulit bukan?" Tanya Avan yang dijawab anggukan kepala oleh Faza.
"Sekarang aku sebagai suami akan mempermudah jalan kelahiranmu!" Seringai Avan sedikit terkekeh.
Dan Faza pun hanya tersipu malu. Sifat bar bar dan tanpa malu hilang seketika dalam diri Faza. Entahlah setidaknya Avan bisa tenang walaupun nantinya ia akan menghadapi lagi masa masa sulit jika masa kehamilan Faza berakhir.
Satu intinya. Mencintai.
Mencintai memang hal yang mudah, namun tidak semua hal mencintai juga berujung baik ataupun sebaliknya. Tetapi satu yang memang sudah tersirat makna dari mencintai, kesempurnaan memang tidak selalu ada namun kasih sayang yang akan tetap ada. Yang sulit adalah, bagaimana hati kita menetapkan kasih sayang dalam kesetiaan di dalam hati maupun raga. Mencintai tidak menyakitkan. Namun mencintai adalah anugerah. Jagalah rasa cintamu atau kau menyesal telah menghilangkan anugerah terindah.
Aduh duh lama gk up jadi bucinðŸ¤ðŸ¤£
Kehamilan Lola juga sudah menempuh kurang lebih 8 bulan. Kali ini jikaAvan yang biasanya tersiksa namun tidak untuk Aven.
Seperti saat ini, Lola tengah menyambut kedatangan suaminya setelah pulang bekerja. Namun reaksi Aven yang terlihat sangat lelah karena memang pekerjaannya yang benar benar melelahkan.
Reaksi Aven yang seperti itu membuat Lola beranggapan negatif. Dia kira jika Lola sudah tidak menjadi semangatnya lagi. Dan mau tidak mau Aven harus membujuk istrinya tersebut.
"By, maafkan aku tadi aku benar benar lelah!" Letih Aven.
Lola pun menatap intens ke arah Aven.
__ADS_1
"Tapi tetap saja kan by. Harusnya jika lelah itu istri yang disayangi menjadi penyemangat. Jadi aku sudah tidak kau sayang lagi? ha?" Kesal Lola membuat Aven menghembuskan nafas panjangnya.
"Aku tidak bermaksud by! Kau penyemangat hidupku!" Ujar Aven.
"Ah sudahlah aku memaafkanmu! Sebaiknya kamu makan! Aku sudah memasak, makanannya ada di meja aku mau mandi dulu!" Seru Lola dan Aven pun tersenyum mengiyakan.
Namun baru saja beberapa langkah Aven ingin keluar.
"By jangan minta tolong sama maid!" Tegas Lola.
"Iya by!" Jawab Aven.
"Kalau ambil minum juga ambil sendiri!"
"iya by tenang saja!"
"Kalau tidak mau ambil sendiri tunggu aku!"
"Tidak perlu! Aku akan mengambilnya sendiri by!"
"Yasudah!" Titah Lola.
Dan lagi lagi saat Aven ingin keluar,
"No no no by! Ayo makan bersama saja!" Timpal Lola membuat Aven hanya bisa tersenyum.
__ADS_1
"Nak, jika kau lahir giliranku untuk menyiksamu! Berani sekali kau menyiksa papi!" Gerutu Aven didalam hati