
Aven memasuki kamarnya dan terlihatlah seorang wanita yang tengah menjadi istrinya itu terbaring lelap di sofa. Aven hanya menatap Lola sekilas dan melangkahkan kakinya untuk ke kamar mandi membersihkan diri.
"Mau ditaruh mana mukaku jika aku menikahi wanita culun sepertinya!" Gumam Aven.
Ia pun langsung merebahkan tubuhnya di ranjang sama sekali tidak memperdulikan seorang wanita yang tengah menjadi istrinya itu. Ia berharap istrinya tidak ada di kamarnya karena sungguh Aven sangat membenci itu.
...🍀🍀🍀...
Keesokan paginya. Faza lebih dulu bangun dari tidurnya. Menatap sekilas ke arah suaminya yang tengah terbaring setelah aktivitas panjang malam mereka.
'Andai aja jika Suamiku ini mencintaiku, aku tidak akan melakukan ini!' Gumam Faza.
Sampai Faza tersadar jika ia memiliki black card. Faza pun segera berlari menuju kamar mandi dan bersiap untuk pergi ke sekolah. Setelah selesai ternyata Avan sudah bangun di sana.
Avan pun segera membersihkan dirinya. Faza juga sudah siap dengan pakaian seragamnya. Avan pun demikian. Namun saat Faza akan keluar lebih dulu ia di cegah oleh Avan.
"Nanti pulang kau jangan lupa beli gaun untuk nanti malam. Gunakan kartu yang kuberikan!" Seru Avan.
"Baik pak bos!" Sahut Faza.
Faza pun menatap ke arah suaminya. Benar benar tampan dengan setelan jas berwarna biru dongker. Membuat Faza entah berpikir antara keberuntungan atau takdir.
Avan.
"Tapi aku harus cari gaun yang seperti apa?" Heran Faza.
"Jangan terlalu terbuka, bahkan jangan terbuka!" Jelas Avan
"Jika semua tidak terbuka itu namanya kain bukan gaun. Jika tidak terbuka kepalaku tanganku kakiku masuknya lewat mana!" Kesal Faza.
"Terserah asal jangan memperlihatkan ketiakmu, punggungmu, dan jangan diatas lutut titik!" Tekan Avan.
"Suamiku kau sudah mengejekku!" Geram Faza.
Avan menyatukan alisnya. Apa yang diucapkannya sehingga membuat Faza berpikir dirinya sedang mengejeknya.
"Apa kulitku tidak bagus sehingga harus ditutupi. Apa ketiakku juga bau!" Kesal Faza.
__ADS_1
Avan pun menghela nafas. Entah rasanya ingin sekali menarik istri kecilnya itu dan menghukum kebodohannya di ranjang tanpa ampun. Benar Avan kali ini harus ekstra sabar sesabar sabarnya.
Faza
...🍀🍀🍀...
Lola juga sudah bersiap namun ia melihat ranjang dan Aven masih meringkuk di dalam selimut. Apa ia harus membangunkannya? Atau membiarkannya.
Lola pun memberanikan diri dan mulai mengguncangkan tubuh Aven.
"Tuan bangunlah ini sudah siang!" Seru Lola.
Aven hanya menggeliat. Ia tidak sadar jika ia bukan lagi di apartemennya. Ia sudah memiliki penghuni baru untuk kamarnya. Aven pun menarik tangan Lola dan menjadikannya guling. Kaki dan tangannya yang mengapit rapat tubuh Lola membuat Lola merasa sesak.
"Tuan bangunlah!" Teriak Lola yang sama sekali tidak berpengaruh pada Aven.
Kenapa jamannya ganteng ganteng tapi kebo!!
Lola pun melepas kacamatanya agar tidak pecah saat membangunkan Aven.
Aven pun mulai meraba gulingnya.
Kenapa bentuknya tidak rata? Kenapa tidak empuk tetapi malah kenyal?
Aven pun membatin dan mulai membuka matanya. Ia terkejut saat tubuhnya itu sedang mengapit tubuh Lola.
Sejenak Aven melihat manik mata milik Lola tanpa kaca mata. Sungguh indah dipandang. Hanya sesaat Aven pun mendorong tubuh Lola sehingga Lola jatuh ke lantai.
"Berani sekali kau!" Bentak Aven.
"Maaf tuan! Tadi saya hanya ingin membangunkan tuan tapi tuan masih tidur!" Lirih Lola mencoba berdiri.
"Cih alasan. Bilang saja kau mau kusentuh!" Tekan Aven.
"Tidak tuan!" Timpal Lola.
"Kau camkan ini sampai kapanpun jangan berharap aku menyentuhmu apalagi mencintaimu!" Geram Aven.
__ADS_1
"Saya tau tuan!"
"Kau sangat jelek! bukan seleraku! Jika.bukan karena mamah kita tidak akan menikah!" Kesal Aven
"Ini semua tidak akan terjadi!" Lanjut Aven.
"Saya tau tuan. Yang terpenting saya masih sekolah dan tuan tidak menyentuhku!" Seru Lola.
"Baguslah jika kau sadar! Jam berapa sekarang?" Tanya Aven.
"Jam enam tuan!"
"Kau bersihkan kasurku dan jangan keluar dari kamar ini sebelum diriku!" Tekan Aven yang diangguki kepala oleh Lola.
Aven pun memasuki kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Sedangkan Lola membereskan tempat tidur Aven. Setelah selesai ia pun hanya duduk di sofa sembari memainkan ponselnya.
"Wah wah wah. Apa tugasmu hanya bisa bermain handphone?" Ejek Aven.
Lola pun mendongakkan kepalanya dan terkejut Aven yang hanya mengenakan handuk. Ia pun memilih untuk kembali menundukkan kepalanya Padahal ia hanya membaca materi untuk nanti. Tapi kenapa Aven menuduhnya.
Ah lupakan aku tidak masalah dengan semua itu!
Lola pun mengembalikan ponselnya dan menaruhnya kembali ke tasnya.
"Ambilkan pakaianku dan sepatuku! Aku tidak punya waktu untuk meladeni orang pemalas yang suka bermain handphone sepertimu!" Seloroh Aven.
Lola hanya diam tak menjawab. Ia bahkan tidak merasa bersalah jadi ia lebih baik diam. Jika dipikir pikir Aven lah yang malas dan bangun kesiangan.
"Ini tuan!" Ujar Lola memberikan setelan jas kerja untuk Aven.
"Apa aku harus memakai ini tanpa CD?" Tanya Aven.
"Bisakah tuan mengambilnya sendiri dan memakainya di ruangan ganti?" Lola pun berucap memberanikan diri.
"Kenapa kau mengatur hidupku? Cepat ambilkan CD ku!" Teriak Aven.
Lola menghela nafasnya. Ia pun melangkahkan kakinya dan mengambil sesuatu keinginan suaminya. Aven pun tanpa malunya memakai di depan Lola. Lola memerah dan lebih memilih untuk memejamkan matanya.
Aven pun menatap kedepan ia sadar jika Lola tengah malu. Tapi apa pedulinya. Ini kamarnya dan terserah Aven yang ingin melakukan apapun dan dimana pun sesuai kehendaknya.
__ADS_1
...Follow ig:@Fatmass.s...