
"Bagaimana sayang? Apa dia mau bekerja sama?" Seru Thea yang langsung saja duduk dipangkuan Rako.
"Dia tidak mau!" Jawab Rako.
"Lalu dimana dia sekarang?" Heran Thea karena sedari masuk ia sama sekali tidak melihat seluk beluk keberadaan Kia.
Rako hanya mengangkat bahunya. Sedangkan Thea sudah sangat menginginkan Rako. Dan di ruangan kerja itu terjadilah sesuatu yang terjadi. Namun ada yang berbeda dari diri Rako. Seakan akan yang ia rasakan sekarang dengan Thea dibandingkan dengan Kia. Rasanya sangat beda bagaimana Kia yang memberontak dibawah kungkungannya bukannya Thea yang selalu memimpin di atasnya.
...🍀🍀🍀...
Kia sudah mulai membuka matanya. Rasanya sangat perih mungkin karena kebanyakan menangis. Ia pun melihat sekitar dan benar saja. Semua bukan mimpi. Ia masih berada di kamar yang menurutnya sudah menjadi neraka.
Ia pun beranjak untuk membersihkan diri. Setelah selesai ia melihat sekeliling. Bajunya sudah terayak tidak layak pakai. Handphone nya juga sudah disita oleh Rako membuat Kia kembali meratapi nasibnya.
Kenapa disaat ia berbuat baik dan mengikhlaskan seseorang kini dirinyalah yang tersiksa. Pantaskah Kia menyalahkan seseorang untuk ini? Sepertinya tidak. Mungkin inilah karmanya yang telah menyakiti banyak hati orang lain.
Kia pun mencoba melihat lemari dan hanya ada kemeja, jas dan celana milik pria. Siapa lagi jika semua bukan milik Rako. Kia pun mengambil kemeja yang menurutnya kecil dan dipakainya.
Ia mencoba keluar ternyata kamarnya tidak terkunci. Saat ia ingin mencoba kabur tiba tiba ia mendengar suara yang sakit didengarnya. Ia menutup mulutnya saat tau siapa suara erangan dibalik ruangan yang merupakan ruang kerja Rako.
Ia tidak menyangka Rako berbuat sebengis ini. Dengan rasa sakit saat ia berlari Kia pun terus berlari dan keluar dari tempat yang menurutnya terkutuk itu. Namun sia sia perjuangannya karena tempat itu sudah dikelilingi para bodyguard Rako.
"Biarkan aku pergi!!" Teriak Kia kepada para bodyguard yang menjaga.
"Maaf nyonya kami harus mengikuti perintah tuan kami!" Seru bodyguard tersebut.
"Tuan? Laki gila itu kalian sebut Tuan? Apa kalian sudah gila?" Teriak Kia kembali.
Sedangkan Rako dan Thea yang mendengar keributan pun menghentikan aktivitas mereka. Dan dengan segera Rako memakai pakaiannya dan berlari kearah sumber suara.
"Sayang kau mau kemana kita belum selesai!" Rengek Thea yang sama sekali tidak digubris oleh Rako.
__ADS_1
"Kumohon biarkan aku bebas!" Pinta Kia.
"Maaf nyonya kami tidak bisa!" Teguh para bodyguard.
"Kalian benar benar sudah gila. Tuan kalian sudah benar benar gila dan kalian ternyata sama sama gilanya." Timpal Kia terduduk lemas didepan para bodyguard.
Para bodyguard yang melihatnya merasa kasihan. Namun mereka tidak dapat berbuat apapun. Bagaimanapun uang masih saja dipihak mereka untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka.
"Dia sudah menodaiku tapi dia dengan tanpa berdosanya melakukan dengan orang lain!" Lirih Kia.
"Dia seorang manusia terkejam yang pernah kutemui!" Timpal Kia.
"Siapa yang kau bilang manusia terkejam?" Tegas Rako tiba tiba.
Kia pun menoleh kebelakang. Dengan segera ia mengusap kasar air matanya dan mendekat ke arah Rako.
Plak.
"Apa yang kau lakukan!" Teriak Thea.
Kia pun menatap ke arah Thea dengan tatapan menjijikkan. Ia bahkan membayangkan bagaimana Thea dapat melakukan cumbuan dengan Rako seperti yang Rako lakukan padanya. Bukankah menjijikkan.
Thea terkejut saat melihat bagaimana keadaan Kia. Pakaiannya kemeja yang kebesaran dan banyak sekali tanda merah di dada, leher dan juga kakinya.
"Kenapa kau bisa jadi seperti ini!?" Heran Thea.
"Aku mohon lepaskan aku! Aku ingin pergi dari sini! Bukankah kau sudah menyiksaku? Lalu kurang apalagi? Kau sudah memilikinya dan kalian sangat pantas!" Seru Kia berteriak ke arah Rako.
"Pergilah!" Ujar Rako.
Kia dengan segera berbalik dan hendak berlari dari sana. Ia benar benar tidak kuat menahan rasa sakit, kesal, marah dan kecewa di hatinya. Namun tiba tiba sebuah tangan kekar menggenggam lengannya membuat ia berhenti.
__ADS_1
"Bukan kau tapi kau Thea pergilah!" Seru Rako.
Thea dan Kia sama sama terkejut mendengarnya.
"Kenapa kau mengusirku!" Kesal Thea.
"Kalian bawa Thea pergi dari sini!" Ujar Rako yang dikerjakan tugasnya oleh para bodyguard.
"Rako! Sayang apa yang kau lakukan!" Teriak Thea saat ia dibawa oleh sang bodyguard.
"Sial!" Umpat Thea.
Sedangkan di sisi lain Kia terus saja memberontak dan bersikeras untuk pergi dari sana. Namun Rako tidak sekalipun mengijinkannya.
"Apa yang kau inginkan lagi? Ha?" Bentak Kia.
"Masuklah kedalam kamar Kia!" Ucap Rako.
"Aku tidak mau! Aku mau pergi dari sini!" Timpal Kia.
"Jangan membantahku, Ki!" Seru Rako.
Namun tetap saja Kia masih saja sibuk untuk keluar dari sana. Rako pun pada akhirnya menggendong tubuh Kia dan membawanya kedalam kamarnya.
"Kau mau apa lagi!" Lirih Kia dengan terisak.
"Kau sudah menjadi wanitaku! Jangan sekalipun berniat untuk meninggalkanku!" Tukas Rako
"Kau membuatku jadi wanitamu tapi ingatlah, seorang wanita tidak selalu membutuhkan pria apalagi pria sepertimu!" Teriak Kia.
"Rumahmu disini mulai sekarang! Jangan membantahku atau kau sendiri yang akan tau akibatnya!" Ancam Rako.
__ADS_1
Kia hanya bisa terduduk lemas menangis meratapi nasibnya yang jauh dari kata beruntung untuk saat ini. Hanya saat ini. Ia tidak tau bagaimana masa depannya untuk saat nanti.