Missing You : David

Missing You : David
10 Kebetulan yang Ke-3


__ADS_3

Seminggu setelah kecelakaan hari itu, Aslan diizinkan untuk pulang. Pemulihan Aslan pun tergolong cepat. Meskipun belum lancar berjalan tapi Aslan sudah dapat berjalan setidaknya beberapa langkah.


Aslan mendapatkan izin dari kampus untuk mengikuti perkuliahan melalui online. Berbekalkan aplikasi go**le me*t, Aslan mengikuti kegiatan perkuliahan.


Ibu tidak pergi ke ladang sejak hari itu. Hanya fokus menunggu warung dan menjaga Aslan. Sementara bapak hanya pergi ke ladang ketiga sore hari saja.


Fadlan mengantarkan dan menjemput Zea setiap hari. Semenjak hari itu, Zea tidak lagi bertemu dengan David.


*****


Hari ini, kegiatan pertama kali klub panahan. Namun Zea berhalangan hadir dikarenakan dia sedang mengikuti perlombaan baca dan tulis Puisi tingkat SMA di kota Y.


"Semangat ya dik, semoga juara," ucap Fadlan sambil menyetir.


"Aamiin kak."


"Kamu kok kaya ngga semangat kenapa to?"


"Ngga kok kak, Adik full power," ucap Zea sambil menggerakkan tangannya seperti berubah ala ala Ultram*n.


"Haha, ada ada saja kamu dik."


Fadlan menurunkan Zea di depan gedung dinas Kebudayaan kota Y.


"Da kak, hati hati dijalan."


"Iya kamu semangat ya dik."


"Pulang naik bus bisa kan?"


"Jelas bisa dong, udah sana kak keburu kesiangan."


"Iya dik iya."


Zea berlari memasuki gedung. Bertanya kepada resepsionis arah gedung perlombaan. Disana banyak sekali murid SMA dari berbagai Sekolah datang. Banyak yang menggenakan tas tas mahal dan sepatu bagus. Zea hanya tersenyum ngeri melihat fenomena di depannya.


"Bahkan harga sepatunya bisa dapat satu printer baru astaga," gumam Zea.


Zea berlalu meninggalkan kerumunan murid elit yang sedang memamerkan barang barang yang melekat pada tubuh mereka. Tidak lama kemudian Zea tiba di gedung lomba menulis puisi tersebut. Seseorang memanggil Zea dari kejauhan.


"Zeze!"


Zea menoleh ke arah sumber suara tersebut dan rupanya Natalie yang memanggil.


"Nat."


Zea berlari menghampiri Natalie dan langsung memeluk Natalie.

__ADS_1


"Zeze, kamu apa kabar?"


"Aku baik, kamu gimana? Lama ngga ketemu."


"Aku baik kok, kamu sih jarang main ke rumah sekarang."


"Ya mau gimana lagi, awal masuk sekolah kan gitu. Ribet hihi."


"Oh iya kamu ikut lomba puisi juga Ze?"


"Iya, kamu juga kan?"


"Heem, tapi ya gimana kalau lawannya kamu mah mana berani mimpi menang aku."


"Kamu apaan sih Nat, jangan gitu. Ayo cari kursi buat duduk."


"Ayo, guru kamu ngga ada yang ikut?"


"Ngga ada itu Nat. Emang kamu kesini didampingi pihak sekolah?"


"Iya, aku datang bareng pak Tarto guru Seni di sekolah ku."


"Owh, enak ya. Kemarin guruku cuma bilang alamat sama ngasih undangan sama uang buat transportasi aja. Sisanya disuruh sendiri."


"Astaga, sekolah se gede itu kaya gitu sama murid. Bener bener."


"Ayo."


Zea dan Natalie menghabiskan waktu menunggu acara di mulai dengan bercerita. Natalie adalah teman SD dan SMP Zea. Rumah mereka hanya beda desa. Dulu ketika masih sekolah, Natalie sering menunggu Zea untuk berangkat ke sekolah bersama dengan sepeda. Tapi hal itu berubah ketika Zea memilih sekolah di SMA FIX.


10 menit kemudian upacara pembukaan acara lomba tersebut di pimpin oleh seorang moderator. Peserta lomba dan seluruh panitia beserta juri menyanyikan lagu kebangsaan untuk menandai dibukanya acara perlombaan tersebut.


Sambutan demi sambutan disampaikan oleh ketua panitia dan pemangku kepentingan lainnya. Hingga akhirnya lomba baca dan tulis Puisi di mulai. Satu demi satu perwakilan murid dari 10 SMA yang lolos nominasi di minta maju ke atas panggung membacakan puisi mereka. Zea mendapatkan nomor undian paling terakhir.


"Degdeg,"


Kali ini Zea merasa sedikit gugup. Ruangan perlombaan yang besar dengan AC di setiap sudutnya membuat nyalinya sedikit menciut.


"Bapak, bapak, bapak," begitu panggil Zea dalam hati sekaligus memejamkan mata.


Dia selalu memanggil bapak ketika merasa gugup, takut atau sedang tertimpa musibah. Syukurlah sedikit demi sedikit grogi yang dirasakan Zea berkurang.


"Peserta selanjutnya sekaligus peserta terakhir Lomba Baca dan Cipta Puisi Perayaan Hari Kebudayaan kepada saudari Zeana Mufshin kami persilahkan," panggil seorang MC.


Tepuk tanggan penonton dan peserta lainnya menggema di seluruh ruangan. Zea berdiri kemudian membungkuk sedikit dan beranjak dari duduknya menuju ke atas panggung.


Berbekal secarik kertas Zea berdiri ke atas panggung.

__ADS_1


Zea berdiri di atas panggung dengan tegap dan membuka dengan mengucapkan salam kepada para peserta da audience lainnya. Memberikan hormat kepada para petinggi, bapak kepala dinas, kemudian dewan juri, Bapak Ibu guru dan peserta lainnya.


Zea kemudian mulai membacakan puisi yang dibuatnya.


"Hampir Luntur oleh waktu, akan lekat jika Dijaga."


Zea membacakan puisi dengan khidmat dan penuh penghayatan.


Setiap tutur kata yang keluar dari mulut Zea, seperti mencerminkan seorang sastrawan muda dan berbakat.


"Terimakasih," tutup Zea.


Tepuk tangan menyambut Zea dengan meriah. Beberapa orang bahkan berdiri sambil memberikan dua jempol kepada Zea. Zea tersenyum malu dan haru merasakan sensasi berdiri di atas panggung dengan sebuah tepuk tangan. Zea kemudian turun dan kembali duduk di kursi. Natalie tidak henti hentinya memuji Zea.


MC memberi tahukan bahwa penjurian sedang berlangsung dan para peserta diminta untuk menikmati Coffe Break terlebih dahulu.


Setelah menunggu selama satu jam, Juri menyampaikan siapa saja yang menjadi juara.


Natalie mendapat posisi ketiga. Sementara posisi kedua didapatkan oleh murid SMA 45 Sarah Shan. Zea berdebar, dia merasa tidak ada harapan lagi untuk menang karena posisi satu sangat sulit sementara juara 2&3 sudah diraih oleh orang lain. Namun takdir berkata lain.


"Juri memutuskan bahwa juara satu diberikan kepada Zeana Mufshin dari SMA FIX. Selamat kepada saudari Zeana dipersilahkan untuk maju ke atas panggung."


Zea kaget mendengar apa yang disampaikan oleh MC. Dia terharu ketika harus maju kedepan panggung dan mengambil beasiswa yang diberikan. Hadiah dari lomba ini adalah beasiswa berupa bantuan di buku tabungan sebesar 10 juta untuk juara 1.


"Selamat ya nak Zea," ucap Bapak kepala dinas.


"Terimakasih pak."


Setelah acara selesai, para pemenang harus mengurus terlebih dahulu hadiah dan pajak yang akan ditanggung atas hadiah tersebut sementara sisanya akan langsung masuk ke dalam tabungan mereka. Setelah selesai, Zea turun membawa jatah makan siang yang belum sempat dimakannya untuk pulang menuju rumah karena hari itu sudah menunjukkan pukul 4 sore.


Fadlan tidak bisa menjemput Zea, sementara itu Natalie sudah lebih dulu pulang bersama gurunya. Jarak dari gedung tersebut menuju halte bus lumayan jauh. Zea berjalan menuju halte bus sendirian sambil menggendong tas gendongannya dan membawa piala yang didapatkannya. Lumayan berat memang tapi apa boleh buat, Zea tidak ingin merepotkan bapak untuk menjemputnya.


Zea menyebrangi jembatan perlintasan untuk menuju hal bus. Disana dia berpapasan dengan David. Zea tidak menyadari jika dia berpapasan dengan David, tapi David senang bukan main melihat Zea setelah satu Minggu tidak melihat Zea lagi.


"Ze?" panggil David.


Zea menoleh ke arah suara tersebut dan tersenyum manis.


"Ini bukan kebetulan kan?" tanya David.


"Terus kalau bukan kebetulan maunya apa?"


"Ya sesuatu yang lain," jawab David.


Mereka kemudian berbincang di halte bus. David yang tadinya akan mengambil mobilnya di basment hotel justru berbohong dan mengikuti Zea naik bus. David memangku piala Zea sementara Zea tertidur pulas di samping David.


"Menggemaskan sekali," gumam David yang melihat Zea tertidur pulas di sampingnya.

__ADS_1


__ADS_2