
Sore itu Zea tertidur pulas di atas kasur setelah sebelumnya berguling kesana kemari karena senang.
Ketika bangun dari tidur, Zea menyadari jika waktu sudah sore. Jam di ponselnya menunjukkan pukul 4.30. Terlihat sebuah pesan masuk dari David.
Sebuah pesan
Kak David :
π² :"Jika boleh aku ingin berjalan sore denganmu di pinggir pantai."
"What?" respon Zea berteriak melihat isi pesan dari David. Kesempatan langka ini tidak mungkin akan disia siakan oleh Zea.
Mengirim pesan
Anda :"Boleh kak, setengah jam bertemu di lobi bagaimana?"
Sebuah pesan masuk
Kak David :"Boleh, kutunggu di lobi hotel."
Zea berdiri diatas kasur bersemangat meloncat loncat menyadari dia akan berjalan jalan dengan David.
Dengan segera Zea menujuk kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai mandi dan berganti, Zea memilih mengenakan pakaian yang tidak begitu mencolok. Kaos hitam dengan topi hitam.
Zea berjalan menuju lobi menghampiri David yang sedang duduk di sofa sambil memainkan hp miliknya.
"Kak?" panggil Zea.
"Zeze," jawab David menoleh ke arah sumber suara.
David merasa gemas dengan penampilan Zea yang terkesan seperti tomboi tapi mengemaskan.
"Kenapa kak? Pakaian ku aneh ya?"
"Tidak kok, aku hanya kagum saja ada gadis yang mau memakai pakaian tanpa harus memilih milih."
"Aku memakai karena nyaman, dan lagu pula aku tidak membawa baju banyak."
"Itu saja lebih dari cukup Ze, kamu cantik apa adanya," puji David.
Zea merasa lemah dengan pujian itu. Zea tersenyum lebar tanpa bisa mengontrol ekspresinya yang seperti orang sedang kasmaran.
"Sudah ayo jalan," panggil David membuyarkan lamunan Zea.
"Ayo kak."
Mereka berdua kemudian berjalan berdampingan menuju pantai. Sesaat langkah kaki Zea terhenti karena dia merasa topinya tidak nyaman.
David menoleh karena Zea berhenti dan bertanya.
"Kenapa Ze?"
"Rambutnya berantakan jadi topinya tidak nyaman."
"Hm apa harus aku yang membetulkan?"
"Haha jangan kak, aku sendiri saja bisa."
Setelah membetulkan topi miliknya, Zea dan David kembali melanjutkan langkahnya menuju pantai.
*****
Di Pantai
Deburan ombak bergemuruh ditelinga seperti berbisik memberi isyarat. Gradasi warna langit senja dan biru laut sangat indah dilihat. Entah mengapa pantai terasa sepi. Hanya ada David dan Zea disana.
"Indah sekali kak."
__ADS_1
"Kamu suka?"
"Sangat suka."
"Syukurlah kalau begitu."
"Mau jalan di pasir sebelah situ boleh kak?"
"Kenapa harus tanya? Kapan aja dimana aja ngapain aja boleh, aku bakal dibelakang jagain kamu."
Zea tersentuh mendengar ucapan David yang penuh dengan perhatian itu.
"Terimakasih kak."
"Iya Ze, udah sana kalau mu mainan," ucap David membolehkan.
Zea bermain di pasir seperti anak kecil. Berlari kesana kemari, bermain air dan membuat tulisan di pasir.
"Kak, lihat ini," ucap Zea memanggil David sambil menunjuk ke arah air laut yang sedikit dangkal. Disana ada sebuah ikan kecil yang sedang berenang.
"Lucu ya kak."
"Heem gemes kaya kamu," ucap David polos.
Zea malu mendengar ucapan David dan lagi lagi mukanya memerah.
"Kenapa merah Ze pipinya," tanya David menggoda.
"Emm gatau nih," ucap Zea malu malu langsung memalingkan wajahnya dan berlari kecil.
David mengejar Zea dan menangkapnya. Di pegang tangan Zea lembut.
"Ze jangan lari nanti jatuh," ucap David masih dalam posisi memegang tangan Zea.
"Aku hati hati kok kak."
"Mau duduk?" tanya David.
"Ayo."
Zea memimpin jalan dan melepaskan genggaman tangan David. Hati David sedikit kecewa karena Zea melepaskan genggaman tangannya.
"Duduk sini Ze," pinta David yang tengah berdiri di belakang ayunan.
"Kak David duduk aja di sebelah ku."
"Udah nurut aja, kamu aja yang duduk."
"Ya udah deh kak David ngeyelan," ucap Zea memberikan panggilan baru kepada David.
"Ha? Ngeyelan?" ucap David kaget dengan sebutan baru dari Zea.
"Yups, ngeyelan."
"Ya udah deh nurut, sini duduk biar aku bantuin dorong."
"Makasih kak, dorong yang kencang ya kak hehe."
"Kamu ngga takut jatuh emang?"
"Ngga takut kok, biasa aja malahan."
"Okedeh, Ze aku mau tanya."
"Apa kak?" jawab Zea sambil menoleh kebelakang.
"Kamu suka sama Eka?"
"Ha? Eka? Kenapa kak David nanya itu," gumam Zea dalam hati.
" Ngga kok."
__ADS_1
"Yakin?"
"Yakin kak ngga suka sama Eka."
"Oke, terus ada cowok yang kamu suka?"
Sejenak Zea terdiam mendengar pertanyaan dari David. Memikirkan apa yang harus dia jawab, jujur atau berbohong. Jika berbohong dia akan kehilangan kesempatan mengutarakan perasaannya tapi jika jujur bisa saja David tidak memiliki perasaan yang sama. Perasaan Zea campur aduk ketika harus memilih antara jujur atau berbohong.
"Kenapa diam aja Ze? Ada ya?"
"Iya kak ada."
"Oh," jawab David santai.
Sebenarnya, di dalam hati David sakit mengingat bahwa Zea sudah memiliki seseorang yang dia suka. Mungkin David harus mengubur kembali harapan untuk menjadi dekat dan mengutarakan perasaannya kepada Zea.
"Anak SMA kita juga?"
"Iya kak."
"Oh kelas berapa?"
"Satu tingkat di atas ku kak."
"Berarti satu angkatan sama aku," tebak David.
"Heem."
"Siapa Ze?"
"Ada pokoknya orang yang baik, dingin tapi perhatian."
"Wah kamu kagum kayaknya sama dia Ze."
"Jelas kak, dia tu bener bener master di segala bidang kak. Sangar lah pokoknya, bang jago," celoteh Zea
David semakin pasrah mengetahui bahwa Zea sepertinya sangat menyukai orang tersebut. Dari cara dia menyampaikan pendapat tentang orang itu terlihat jelas Zea sangat mengagumi orang tersebut.
"Udah coba ngomong Ze?"
"Ngomong apa kak?"
"Suka ke dia?"
"Belum, baru berapa bulan kenal terlalu cepat buat bilang suka kak."
"Kenapa Ze? Bisa aja dia juga suka sama kamu, cewek kaya kamu pasti banyak yang suka Ze."
"Oh ya, kalau kak David gimana?"
"Maksudnya?"
"Bisa suka sama aku ngga?"
"Suka."
"Boong pasti, sekelas kak David paling seleranya ya kaya kak Jenni apa Oliv atau Lisa lah ya yang cantik tegas terus tenar gitu," jawab Zea tidak ikhlas menjodohkan orang yang disukainya dengan wanita lain.
Zea kemudian tertunduk dan merasa semangatnya turun drastis ke titik di mana dia tidak lagi mau membahas masalah ini.
David menyadari Zea yang tiba tiba tertunduk lesu, kemudian berdiri di depan Zea. Mengambil posisi jongkok menghadap Zea.
"Ze, aku suka sama kamu. Maaf sebelumnya, aku baru tahu kamu punya seseorang yang kamu suka hari ini tapi kalau aku ngga bilang sekarang mungkin besok kamu udah jadi milik orang lain," jelas David dengan tatapan mata yang serius, tulus dan penuh arti.
Hati Zea dag-dig-dug jadinya. Sesaat dadanya sesak, seperti ada sesuatu yang menggelitik disana. Dia sadar betul jika dia bahagia mendengar pengakuan David, tapi bingung untuk menjawabnya. Lidahnya kelu, seketika Zea membisu. Hanya raut wajahnya yang terlihat jelas bahwa Zea sedang malu. Mukanya memerah, jantungnya berdegup kencang. Entah mungkin David bisa mendengar suara jantung Zea yang berdegup kencang.
Sesaat hening tanpa suara. David hanya menatap Zea lekat tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun begitu juga sebaliknya. Deburan ombak yang bergemuruh tidak mampu menyadarkan mereka dari gejolak perasaan itu.
____________________________________
Bersambung..
__ADS_1