
Seminggu sudah berlalu. Zea dengan selamat mampu melewati Minggu pertama di sekolah tanpa membuat keributan.
Akhir pekan ini, Zea berniat pergi ke warnet bersama Aslan. Karena hari itu Fadlan bertanggungjawab akan menjaga warung selama bapak dan ibu pergi ke ladang. Zea hendak pergi ke warnet untuk mengunggah video di channel You**be miliknya. Sementara Aslan akan menyelesaikan tugas. Niatan awal sih begitu tapi siapa tahu kakak beradik ini sangat hobi bermain game.
Di ruang Makan
"Adik sini sarapan dulu," panggil bapak.
"Iya pak sebentar."
Dengan cepat Zea menuruni anak tangga kayu di rumahnya itu. Fadlan yang tak habis pikir dengan tingkah adeknya dibuat gemas oleh Zea.
Bruk bruk
Suara langkah kaki Zea menuruni anak tangga.
"Astaga adik, jangan lari lari nanti jatuh."
"Ngga kak lan, adik ngga bakal jatuh insyaallah."
"Terserah deh, ngikut aja."
"Nahh gitu dong."
"Fadlan, Zea udah sini makan."
Mereka makan dengan lahap. Bapak dan ibu bersiap pergi ke ladang. Sementara Zea dan Aslan pamit untuk main ke warnet.
Bapak dan ibu pergi ke ladang mengendarai motor bebek milik bapak. Tinggal Fadlan duduk di kursi depan toko menunggu kedua adiknya yang hendak keluar.
Setelah bapak dan ibu berangkat. Aslan pun mengendarai sekuter matik miliknya dengan helm Bogo tanpa kaca.
"Ze berangkat dulu ya kak," pamitnya kepada Fadlan sekaligus mencium tangan kakaknya.
"Kami berdua berangkat dulu kak" ucap Aslan.
"Iya, hati hati dijalan ya jangan ngebut."
"Siap bang jago, daaaa" ucap Zea melambaikan tangan.
Zea dan Aslan tiba di warnet 15 menit setelah mengendarai sekuter matik miliknya.
"Kakak bayar dulu, adik milih aja mau duduk dimana."
"Hmmm, dekat jendela sebelah sana ya kak."
"Yaudah sana, nanti kakak susul."
"Ukeydeh."
Zea berjalan menuju kursi paling pojok dekat jendela. Jendela nya memang tertutup tapi disana tempat yang paling nyaman menurutnya.
__ADS_1
Zea menaruh tas miliknya dan duduk didepan layar. Memasuki email untuk login akun goggle untuk menautkannya ke channel YouT*be miliknya. Aslan yang datang kemudian duduk dan mulai menghidupkan komputer miliknya.
"Dik?"
"Hmm," jawab Zea sambil menoleh.
"Kamu ngapain?"
"Ini kak, upload video terbaru channel ku."
"Owh, udah bisa ditautkan sama google adsense belum?"
"Udah Kak Alhamdulillah, Minggu lalu udah berhasil."
"Syukurlah, penghasilan pertama mau buat apa dek?"
"Di kasih ke bapak yang 80, terus buat adik 10 sisanya ke panti insyaallah."
"Aamiin, moga moga cepet dapat ya dik."
"Aamiin kak, project kakak gimana?"
"Owh yang itu, Pak Setiyo bilang suka sama desain kakak. Katanya kalau fix bulan ini mau dibayar terus kakak juga ditawari buat bantuin bikin villanya selama akhir pekan. Gimana dek menurut mu?"
"Aku sih percaya aja kak, soalnya Pak Ono kan temennya bapak. Dari bapak masih muda dulu kan bapak kerjanya sama beliau. Tapi apa kakak udah bilang sama bapak?"
"Belum dik."
"Boleh deh nanti malam dicoba."
"Sippdeh, yaudah lanjut kak."
"Mantap dek."
Aslan terlihat fokus dengan layar komputer miliknya. Sementara Zea yang sudah selesai menggunggah video miliknya kemudian beralih dengan game online. Dia memainkan game Battle in The Guardian versi China.
Tangannya dengan lentik memainkan mouse dan memencet tombol keyboard. Sesaat kemudian, Zea sudah hanyut dalam permainan. Membunuh monster dengan cepat. Teman online Zea dalam game kagum dengan cara main perempuan itu. Zea tidak pernah menggunakan foto dirinya sebagai profil, sehingga teman teman online mengira Zea adalah seseorang yang sudah dewasa dan profesional.
Seorang lelaki sedang berbincang dengan pemilik warnet tersebut. Namun, ketika mendengar bunyi pertarungan fokusnya terbagi.
"Siapa dia?" gumamnya dalam hati.
Terdengar percakapan kakak adik dari sumber suara pertarungan tersebut.
"Ze! Kecilin volumenya atau pakai headset!"
"Iya kak maaf hihi."
Lelaki itu semakin kepo dibuatnya. Dia mendekati Zea, dibelakang Zea merupakan jendela dan patri. Di sanalah lelaki itu membeli minum sambil menyaksikan Zea bermain.
Melihat tangan mungil sedang beradu cepat di atas keyboard untuk mengalahkan monster. Membuat lelaki itu kagum bukan main.
__ADS_1
"Lagi lagi kamu bikin kagum Zea. Ini kebetulan yang kedua." gumamnya dalam hati.
David adalah sosok lelaki yang sedang duduk memperhatikan Zea. Entah apa itu takdir atau kebetulan, lagi lagi mereka tidak sengaja bertemu untuk yang kedua kalinya.
"David," panggil Alan.
"Iya mas?"
"Urusanku sudah beres, mas titip dulu ya."
"Baik mas Alan."
"Oh iya, untuk makanan dan minuman biarkan dia mengambil sesuka hatinya Jasmin. Dia adikku," jelas Alan kepada karyawan patri tersebut.
"Baik pak."
Setiap akhir pekan, David membantu Alan di warnet. Alan adalah lelaki dewasa yang pernah menyelamatkan David dari amukan masa.
Flashback On
Waktu itu, David tidak sengaja menolong seorang wanita yang terjatuh pingsan. David kemudian mencoba membopong wanita tersebut ke tepi jalan. Disana dia mencoba membangunkan wanita tersebut. Namun, seorang warga salah sangka mengira David hendak melakukan hal tidak senonoh kepada wanita tersebut.
"Hei anak muda, apa yang sedang kau lakukan?"
"Wanita ini pingsan pak, saya hendak membangunkannya."
"Halahh jangan alasan kamu mengaku saja. Beraninya mengotori lingkungan ku."
"Tidak pak, bapak salah sangka."
"Tolong tolong," bapak itu berteriak.
Sesaat kerumunan warga menghampiri David dan bapak tersebut. Beberapa ibu ibu kemudian mencoba menyadarkan wanita tersebut. Namun, nihil tidak ada respon dari wanita tersebut.
Warga semakin yakin dengan tuduhan bapak bapak tadi. David hampir saja di hajar massa meskipun dia sudah mencoba menjelaskan. Namun, seorang lelaki membuka pintu rumahnya dan berkata, "jangan main hakim sendiri Pak Bu. Anak itu hanya menolong wanita yang sedang pingsan. Ini lihatlah."
Pria tersebut menyodorkan ponsel yang berisi rekaman CCTV di depan pagar rumah miliknya. Rupanya memang benar, ketika David sedang lewat menggenakan sepeda miliknya dilihatlnya seorang wanita tengah berdiri terseok kemudian pingsan di tepi jalan. David yang hanya berusaha menepikan wanita tersebut dan menyadarkan justru mendapat tuduhan dari seorang warga.
"Ibu ini sudah sadar," ucap seorang ibu ibu.
"Maafkan kami nak, sudah salah menuduh mu."
"Maafkan saya sudah salah menuduh mu nak."
"Syukurlah jika bapak bapak sekalian sudah paham," jawab lelaki tadi yang tidak lain adalan Alan.
David hanya terdiam. Dia memang malas banyak berbicara, selain itu selama kesalahpahaman sudah terselesaikan.
Wanita yang tadi pingsan kemudian bangun dan duduk. Warga memberikannya minuman dan bertanya mengapa dia bisa jatuh di jalan. Rupanya wanita tersebut tengah hamil muda. Dia hendak berjalan jalan sehat saja, namun rupanya kepalanya tiba tiba pusing sehingga dia bisa jatuh di tepi jalan. Wanita tersebut berterimakasih kepada David dan semua warga.
Sementara itu, Alan meminta David untuk berkunjung di rumah miliknya. Semenjak hari itu David merasakan sosok kakak sekaligus keluarga yang dia dapatkan dari Alan.
__ADS_1
Flashback off