Missing You : David

Missing You : David
Curiga


__ADS_3

Aku hanya menganggukkan kepala ketika David mengajak pulang.


“Sudah makan belum tadi?” tanya David.


“Udah.”


“Kamu ngapain di Mall sendirian?”


“Cuma lihat-lihat aja kok.”


“Bukan karena janjian sama orang kan?” tanya David curiga.


“Kan yang ketahuan keluar sama yang lain kamu, kenapa malah curiga sama aku?” tanya Zea.


“Bukan gitu sayang, kan aku Cuma tanya aja siapa tahu kamu janjian sama orang lain gitu.”


“Gak.”


“Yaudah sih yang jangan marah-marah napa sih.”


“Hmm.”


Setelah percakapan singkat yang penuh dengan nada curiga dan amarah itu berakhir. David memilih untuk tidak


bertanya lagi. Selama menyetir mobil, David tidak memainkan ponsel sama sekali. Sesekali dia memegang tanganku dan kembali fokus menyetir.


Rasanya hatiku tidak tergugahuntuk luluh meskipun tingkah laku David sangat lembut hari ini. Entah apa yang


terjadi tapi rasanya ini sangat aneh. Seperti ada yang disembunyikan dan hatikutidak bisa berbohong bahwa memang sepertinya David dan Maya ada hubungan.


*****


Di Rumah


“Makasih ya,” ucapku sambil melepaskan safety belt.


“Aku ikut masuk ya.”


“Ga usah buat apa mau masuk segala.”


“Kok gitu sih yang, kan aku biasa main ke rumah masa sekarang ga boleh.”


“Aku pengen sendiri, kita jadiin ini waktu buat mikir baiknya lanjut apa gak.”


“Kok gitu sih jawabnya, aku gasuka kamu bahas itu terus. Aku sama Maya cuma temen itu aja gak lebih.”


“Oke, udah ya aku capek. Makasih tumpangannya.”


David tersenyum kemudian menarik tanganku dan mengecup pucuk kepala ku.


“Good night cantik,” ucapnya.


Aku hanya menganggukkan kepala dan masuk ke dalam rumah.


****


Waktu semalaman aku gunakan untuk berpikir dengan tenang kejadian tadi malam. Bagaimana sikap David selama ini kepada ku.


Dingin…, iya memang dingin sekali sikap David kepada ku beberapa hari ini. Sesekali David lebih memilih tidak


membalas pesanku atau menunda membalas pesanku dengan alasan sibuk kuliah, sibuk organisasi ataupun sedang tidak ingin diganggu bermain game dengan teman-temannya.


Aku tidak enak untuk menuntut waktu David selalu ada untukku terlebih lagi, sekarang jarak kita sudah tidak

__ADS_1


lagi dekat. David yang tinggal bersama dengan teman-temannya otomatis akan lebih banyak menghabiskan waktu bersama dengan mereka. Aku akan memaklumi semua itu. Tetapi masalah kali ini berbeda. Bagaimana bisa seseorang yang sedang sibuk menghabiskan waktu untuk berbelanja dengan wanita lain di Mall dengan


alasan teman.


 Hembusan angin malam yang menerpa jendela menerobos masuk ke dalam kamarku menimbulkan hawa dingin yang menusukk ke dalam tubuh. Rasanya dingin angin malam itu menambah suasana bimbang hatiku.


Perutku yang belum diisi dengan makanan menimbulkan suara sedari tadi tidak ku hiraukan. Aku masih sibuk mengamati gaya bahasa percakapan ku dengan David di ponsel.


“Rasanya ingin menyerah saja,” ucapku pada diri sendiri.


“Kenapa?” tanya Aslan.


“Bukan apa-apa kak.”


“Ini, ibu memintaku membawakan makanan dan susu untuk mu karena sepulang dari les kamu tidak makan dan tidak keluar dari kamar.”


“Makasih kak.”


“Ada apa Ze? Zeze yang ku kenal tidak akan galau tanpa alasan. Jika ini karena David, kakak rasa sebaiknya


jangan dipikirkan dulu, fokus kepada nilai mu saja dulu dan kesampingkan masalah hubungan kalian.”


“Bagaimana bisa kak, tidak memikirkannya saja rasanya susah.”


“Bisa, semuanya bisa jika kamu memang mau Ze, berhenti mengamati ponsel dan fokus pada ujian. Hanya dua bulan lagi sebelum akhirnya kamu bisa lulus. Jika tidak ingin galau, jangan diputus atau dilanjutkan bertengkar. Abaikan saja dulu.”


“Aku tidak bisa kak, tidak semudah itu, rasanya aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi tapi hatiku


tidak berani menerima kenyataan nya nanti kak.”


“Sudah tenang saja, abaikan saja apa yang terjadi. Kamu butuh teman bermain game kakak ada. Kamu butuh teman nonton film kakak ada, butuh dijemput kakak siap. Dua bulan saja tahan rasamu agar emosi mu tidak menghancurkan nilai mu Ze.”


Setelah berpikir, aku rasa ucapakan kak Aslan memang ada benarnya daripada aku terlalu fokus mencari tahu


“Gimana Ze?”


“Iya kak,” jawabku sambil mengangguk.


“Ya udah kalau gitu di makan terus istirahat aja ya.”


“Kak boleh minta tolong,” pinta Zea.


“Boleh, mau minta tolong apa?”


“Jangan nanya ke David apa masalahnya ya biar Ze yang beresin sendiri.”


“Tenang aja kok, kakak nggak ikut campur urusan kalian.”


“Makasih kak.”


Aslan hanya menganggukkan kepala dan meninggalkan Zeana di dalam kamar.


Setelah memutuskan menerima saran dari kak Aslan. Aku memilih makan makanan ringan yang dibawakan dan susu yang masih hangat.


“Saatnya perang dengan nilai bukan rasa,” ucapku dengan gigih sambil mengepalkan tangan.


****


Setelah kejadian itu, David tetap menghubungiku dengan rutin dan sesekali meminta untuk bertemu. Namun, dengan alasan sibuk belajar aku dapat menghindari David. Seminggu pertama David gigih mengejar untuk bertemu


sebelum akhirnya dia kembali dingin dan mengikuti caraku untuk tidak menghubungi aku sementara waktu dulu.


Tidak ada yang spesial, hari-hari aku lewati dengan begitu santai dan ringan. Hanya dengan belajar, les dan bermain game itu saja. Sesekali aku membantu Bapak dan Ibu memanen sayur di akhir pekan. Sisanya biasa saja,

__ADS_1


rasanya tanpa David aku baik-baik saja. Tapi itu hanya berlaku di pagi dan siang hari saja. Ketika malam tiba, rasanya seluruh mendung dan Guntur memenuhi kamarku menciptakan mendung dan hujan air mata yang deras selama aku terus duduk di kamar. Tidak jarang aku tertidur setelah menangis semalaman.


Aku sudah bertekad, walaupun sakit setidaknya aku harus menuntasakan ujian kali ini dengan membanggakan kedua orang tua ku. Aku pasti bisa.


*****


Hari H Ujian


“Semangat Zeze,” ucap Asalan kepada adik perempuannya itu.


“Permisi,” ucap seseorang dari depan rumah sembari mengetuk pintu.


“Iya, sebentar ya ibu buka pintu dulu,” ucap Ibu sambil meninggalkan ruang makan.


“Siapa ya pagi-pagi ke rumah?” tanya Aslan heran.


“Mungkin pembeli,” jawab Bapak.


Aku hanya mengangguk saja sembari menghabiskan makanan ku.


“Mari nak David masuk dan ikut kami sarapan.”


David datang sambil menenteng bunga besar dan boneka kecil untukku.


“Semangat ujiannya ya,” ucap David.


“Boleh tidak jika saya yang mengantarkan Zea ke sekolah hari ini pak?”


“Oh tentu saja boleh nak, silakan.”


“Terima kasih pak.”


“Sama-sama, mari makan nak David.”


“Tidak pak terima kasih, saya sudah sarapan.”


David tidak mau makan dengan alasan sudah makan. Setelah aku selesai makan, David langsung mengantarkanku ke sekolah.


“Semangat ya sekolahnya.”


“Makasih ya,” ucapku dingin.


 David hendak mencium keningku ketika mobil kita berhenti di lampu merah. Namun, entah apa rasanya aku tidak nyaman aku langsung menghindar.


“Kenapa?” tanya David heran.


“Gak papa.”


“Ya udah kalau gitu, besuk siang aku ada flight ke Singapura.”


“Oke.”


“Udah sampai, makasih ya Vid.”


“Sayang kok gitu,” ucap David ketika aku langsung keluar setelah mengucapkan terimakasih.


 


"Zea mulai beda," ucap David ketika Zea meninggalkan mobil.


"Apa jangan-jangan dia mulai curiga?"


****************************************************************************************************************************

__ADS_1


Bersambung…….


__ADS_2