
Kenangan Bersama
****
ZEA POV
Aku menoleh kearah David yang bertanya kepada ku. Raut wajahnya terlihat tidak tenang, kusut dan sayu. Mungkin David kecewa karena aku tidak menepati ucapanku tepat waktu. Aku membuat David menunggu dalam waktu yang cukup lama, terlebih dia juga tidak bisa menghubungi ku. “Kasihan,” batinku dalam hati.
“Jadi kok, setelah makan kita pergi. Maaf ya,” ucapku.
David masih diam tanpa jawaban, mungkin dia merasa kata-kataku hanya penenang atau apa itu. Sekian detik kemudian, dia hanya menganggukkan kepala. Suasana di dalam mobil kembali canggung dan sunyi.
“David, maaf ya tadi kamu nunggu lama terus aku juga tidak memberikan kabar tapi gantinya blokiran nya sudah ku buka hihi.”
David menoleh kearah ku, saat itu mobil berhenti karena lampu merah. Matanya menatap ke arah ku seperti menelisik, ingin bertanya tapi tidak dilanjutkan.
“Kenapa?” tanya ku.
“Tidak, bukan apa-apa.”
“Ada yang ingin kamu tanyakan?”
“Iya, kamu dimana, kemana, sama siapa, tapi aku sadar aku bukan siapa-siapa.”
Dari nada bicara David terlihat jelas bahwa dirinya ingin bertanya tapi senggan. Ada nada minder di dalam pernyataan yang dituturkan David. Ada sebuah kalimat yang menerangkan bahwa hubungan kami sudah berakhir. “Lantas mengapa jika berakhir, ini hanya berhenti, berhenti saling menyakiti bukan berakhir dan pergi tanpa ada hubungan sama sekali,” ucapku dalam hati.
Pemikiran David sedangkal itu, rasanya mungkin kesedihan memenuhi dirinya karena jawaban ketus ku kemarin sore. Tapi hal itu bukanlah yang pertama, sebelum ini aku dan dia sudah setuju untuk berhenti, lantas mengapa sikap David seolah-olah bahwa semuanya akan berakhir begitu saja.
“Mau makan hot pot?” tanya David membuyarkan pemikiran dalam lamunku.
“Boleh,” jawabku.
Lagi-lagi hanya sunyi tanpa suara dan percakapan hanya ada aku yang diam, David yang fokus menyetir dan AC yang dingin ini. Entahlah tapi rasanya aku ingin turun dan naik bus saja. Di mobil ini rasanya seperti sedang ujian kenaikan kelas, sunyi dan menegangkan.
**Di Restoran
“Ayo,” ucap David sambil membukakan pintu.
“Terima kasih.”
Kami memesan makanan dan menunggu di meja hingga hidangan disajikan. Aku sebenarnya ingin bertanya kenapa sikap David hari ini tidak bersemangat. Namun, kembali lagi ku urungkan niat ku untuk bertanya. David hanya duduk sambil memainkan ponsel, tidak mengajak bicara sama sekali, seperti kekasih yang sedang merajuk saja. Tidak tahan, aku pun memilih untuk bertanya langsung kepada David.
“Kamu kenapa dingin sama aku?”
“Aku?” tanya David sambil menunjuk ke arah wajahnya.
“Iya, kalau bukan siapa lagi.”
__ADS_1
“Aku tidak merasa seperti itu.”
“Oke kalau tidak mengaku.”
“Aku minta maaf karena tidak menepati ucapan ku, maaf karena tidak memberikan kabar. Jadi, sepulang dari makan siang kemarin sore itu aku tidur. Ketika bangun teman satu kamar ku tidak ada. Ternyata mereka menemani salah satu teman satu kos ku menjenguk ibunya di rumah sakit. Paginya aku datang ke rumah sakit sambil membawakan pakaian. Bukan karena sengaja melupakan janjian kita, tapi aku benar-benar lupa, maaf ya,” jelasku.
David terdiam, mungkin dia sedang mencerna pengakuan ku yang panjang lebar itu. Sesaat kemudian dia mengatakan sesuatu.
“Lalu bagaimana kondisinya sekarang?”
“Ibu teman ku sudah baik-baik saja,” jawab ku.
“Syukurlah kalau begitu, kamu tidur dari sore apakah sedang tidak enak badan?” tanya David.
“Aku baik-baik saja kok.”
Setelah makanan datang, kami makan dengan lahap. David mulai bersikap seperti biasanya, terbuka dan ceria. Sesudah makan, kami setuju untuk pergi menuju taman hiburan. Perjalanan ditempuh dalam waktu kurang lebih 30 menit. Sesampainya di sana, aku mengajak David untuk menaiki wahana komedi putar.
“Jangan yang itu, banyak anak kecilnya dan tidak menantang,” jawab David.
“Itu asik, kita coba saja semuanya mumpung kamu berkunjung kemari,” ajak ku dengan wajah sok imut.
David pun menyetujui permintaan ku. Selesai itu, kami mencoba berbagai arena liannya. Rumah hantu, kemudian roller coster, membeli gulali, dan beristirahat sejenak.
“Sekarang pukul 15.01, kamu ada acara David?” tanya ku.
“Haha, masih saja gombal.”
“Aku tidak gombal, toh aku kemari karena liburan bukan untuk bekerja atau hal lainnya jadi aman.”
“Syukurlah, besuk berangkat pukul berapa?” tanya ku.
“Kenapa? Mau mengantarkan ke bandara? Atau tidak ingin aku pergi sekalian?”
“Bukan keduanya, aku tidak bisa mengantarkan kamu karena besuk aku ada kuliah tambahan, dan untuk menahan mu itu jelas tidak.”
David terdiam. “Kamu benar-benar ingin aku pergi,” kata David.
“Tentu saja, pergi kembali ke rumah dan gapai apa yang menjadi cita-citamu David, bukankah kita sudah membahas ini kemarin.”
David hanya mengangguk saja. “Kalau jodoh pasti akan kembali,” ucapku sambil menolehkan wajah David ke arah ku.
“Iya, aku masih rumah mu Ze,” ucapnya.
“Sudah, cukup istirahatnya sebagai penutup ayo naik biang lala,” ajak ku.
“Boleh,” jawab David.
**
__ADS_1
“David, lihat dibawah sana orang-orang terlihat kecil,” ucap ku.
“Iya, tapi lihat ke luar kaca pemandangannya sangat indah.”
“Indah, iya memang indah, mau buat permintaan bersama,” ajak ku.
“Untuk apa melakukan hal seperti itu,” ucap David tidak percaya.
“Mengucapkan keinginan dimana saja boleh, berharap pada benda yang tidak boleh.”
“Benar juga,” ucap David.
David kemudian mengepalkan kedua telapak tangannya dan menutup matanya. Melihatnya seserius itu membuatku menangis tanpa sadar. Aku pun melakukan hal yang sama dengan mengucapkan hal yang aku inginkan.
“Semoga hal baik terus datang menyertai ku dan David, semoga kita dapat dipertemukan di titik terbaik menurut takdir, namun jika ini adalah kali terakhir kita melukis kenangan bersama setidaknya aku tahu keputusan untuk bersama dengan mu adalah hal yang tidak pernah aku sesalkan,” ucap ku dalam hati.
Air mata ku masih mengalir deras membasahi pipi. Tiba-tiba ada sebuah pelukan datang dari arah depan.
“Tidak apa-apa, semuanya akan baik baik saja,” ucap David sambil memeluk ku.
Merasa nyaman dengan pelukan David, aku membiarkan David tetap memeluk ku seperti itu. Setelah sampai di bawah, David mengajak ku untuk pergi menuju sebuah tempat yang katanya sangat indah.
**
“Masih mau main lagi? Atau mau pergi bersama aku ke suatu tempat yang indah?” tanya David.
“Hm, tempatnya jauh?”
“Tidak jauh, hanya beberapa menit dari sini.”
“Boleh", ucapku.
Sebelum meninggalkan taman hiburan, David membelikan burger dan kopi untuk ku. Sepertinya dia paham aku sudah mulai lapar lagi.
“Ini dimakan.”
“Makasih,” ucapku.
“Tadi kenapa menangis?”
“Entahlah, rasanya ingin saja.”
David hanya tersenyum dengan senyuman yang sepertinya palsu ke arah ku sambil mengelus rambut ku.
“Sabuknya di pakai, ayo berangkat,” ajak David.
***
Bersambung>>>>>
__ADS_1