Missing You : David

Missing You : David
73. Pendekatan


__ADS_3

"Ada apa mencari ku?" tanya Harry.


Zea celingukan mencari alasan, dia bingung ingin menjawab apa saking kakunya setelah melihat wajah Harry yang menurutnya sangat tampan kali ini.


Harry tersenyum, dia tahu bahwa Zea sedang kebingungan. Sehingga dia mengalihkan pembicaraan.


“Sudah makan siang belum?.”


Zea menggelengkan kepala dan menunjukkan jatah makan siang di tangannya. Harry tersenyum dan mengajak Zea makan di salah satu tempat makan yang terletak beberapa meter dari tempat mereka berdiri.


“Kamu harus kembali ke sana jam berapa?” tanya Harry.


“Pukul 14.00, ada apa memangnya?” tanya Zea.


“Masih lama kalau begitu, mari kita makan mie sapi dulu. Kata penduduk lokal mie ini paling enak dan laris.”


“Boleh,” jawab Zea positif atas ajakan Harry tersebut.


Keduanya berjalan kesana dan mulai memesan. Selama menunggu, Zea berbagi roti isi dan juga kentang goreng di tangannya.


“Kenapa makan siangmu seperti ini?” tanya Harry yang heran dengan makan siang yang terkesan seperti sarapan pagi ini.


“Makan siang kami banyak pilihan kok, ini sebenarnya jatah pagiku. Aku hanya enggan makan daging yang mereka siapkan tadi.”


“Oh begitu, kamu enggan makan daging atau karena ingin makan siang bersama ku,” goda Harry.


“Permisi, pesanan Anda, dua mangkuk mie sapi,”  kata pelayan yang memotong suasana percakapan mereka.


“Benar kak, terima kasih,” ucap Zea kemudian menerima makanan itu.


“Mari makan, jangan membual,” kata Zea kepada Harry.


Keduanya setuju untuk makan dan mengobrol nanti saja. Zea terlihat sangat menikmati mie sapi yang disediakan itu. Rasanya sangat enak dan menyegarkan. Daging sapinya juga matang sempurna dan sangat juicy.


Setelah makan siang, keduanya berjalan di sekitar danau dan berbincang sembari menikmati keindahan jalan dan alam tersebut.


“Danaunya asli atau buatan sih?” tanya Zea.


“Asli Ze.”


“Kamu memanggilku Zeze akhir akhir ini.”


“Iya, menggemaskan memanggilmu begitu,” kata Harry.

__ADS_1


Zea tersipu, entah kenapa akhirnya dia merasakan ada yang membuat hatinya berdebar. Debaran ini juga berasal dari laki-laki yang bisa membuat dia nyaman.


Harry sendiri memang lebih gesit dan mulai sering menggoda Zea. Dia melihat tempo hari Zea bersama dengan David. Sehingga, dia merasa harus bergerak cepat demi bisa lebih cepat mendapatkan hati Zea.


"Zeze," teriak salah satu rekan kerjanya yang memanggilnya.


"Iya."


"Kemari."


"Oke, tunggu sebentar."


"Harry, aku per," ucapan Zea terpotong oleh Harry yang sudah paham.


"Iya, sana pergi. Aku akan menunggu sampai kamu pulang."


Zea tersenyum dan langsung pergi meninggalkan Harry. Sementara Harry, ia menikmati hari-hari indahnya liburan di danau sembari menunggu Zea pulang.


Sementara itu, Zea melanjutkan kegiatannya bersama dengan timnya hingga pulang pada petang.



"Kalau capek tidur saja," ucap Harry sembari menyetir.


"Kamu marah?" tanya Harry khawatir.


"Bukan marah, capek aja."


"Rekan kerja kamu kan banyak."


"Ya, mereka banyak bicara bukan bekerja," kata Zea.


Harry tersenyum dan mengelus kepala Zea dengan tangan kiri yang tidak sedang memegang stir.


Zea langsung membeku, dia merasakan pipinya merah dan membeku seketika. Padahal suhu di dalam mobil tidak begitu dingin, AC juga dinyalakan tidak begitu dingin. Tapi, Zea tahu dengan pasti alasan pipi dia memerah dan tubuh yang membeku.


Hanya saja keduanya tidak sedang dalam hubungan yang dekat, sehingga getaran dari interaksi yang malu-malu ini justru membuat rasanya seperti dibawa kembali ke kisah cinta masa sekolah.



Sesampainya di rumah, Zea langsung turun dan Harry bergegas pulang. Sejak hari itu, keduanya menjadi dekat dan sering menghabiskan waktu bersama. Entah itu hanya makan malam, makan siang atau sekedar bermain game bersama di playground.


Sampai harinya, Zea diminta menemani Harry bermain di lapangan. Selain menjadi dokter, Harry memang memiliki hoby balapan.

__ADS_1



***


"Wah, Harry tampan sekali ya rupanya," puji Tasya yang juga ikut bersama dengan Zea menonton balapan Harry.


Sementara itu, Zea juga terlihat tersipu dan tersenyum-senyum melihat Harry yang terlihat sangat tampan.


"Ze, lihat itu."


"Bagus," kata Zea sembari tersenyum.


Hanya saja Tasya tidak bisa berhenti tersenyum.


"Harry tampan ya," puji Tasya lagi.


"Iya bagus."


Keduanya asyik menontong pertandingan balapan. Harry juga tampil sempurna dan mendapatkan podium pertama. Zea langsung berlari turun sesaat setelah Harry berjalan turun ke arena balapan untuk menemui Harry.


"Zeze," panggil Harry yang tahu Zea belari ke arahnya.


Sementara itu, Tasya hanya berjalan ke arah Zea. Dia melihat kedekatan dan interaksi keduanya yang semakin lengket.


"Andai, aku bisa jadi Zea," kata Tasya kemudian.



*POV Penampilan Zea


Zea turun dan menghampiri Harry, begitupula dengan Harry yang dengan senang hati menghampiri dia.


"Selamat," kata Zea dengan bersemangat.


Harry tersenyum langsung memberikan helmnya kepada salah satu staff klub mobilnya.


"Terima kasih," jawabnya kemudian menyentuh tangan Zea.


"Aku memiliki hadiah untuk kamu," kata Harry ingin memberikan hadiah.


"Apa?" tanya Zea penasaran.


"Sabar, tunggu dulu," kata Harry yang kemudian meminta Zea bersama dengan Natasha, salah satu temannya menunggu Harry menerima medali dan piala tropi atas pertandingan tadi.

__ADS_1


__ADS_2