
Pukul 09.00
David tiba di rumah Zea dengan mengendarai motor Sco*py abu dop lengkap dengan helm. Wajar bagi David mengendarai motor dan mobil karena dia memang sudah cukup umur untuk memiliki SIM.
Flashback On
Tahun ini David berumur 17 tahun tepat saat pertemuan ketiga mereka antara David dengan Zea di jembatan penyeberangan.
Hari itu, perayaan ulang tahun ke 17 David di adakan di hotel dengan megah. Tetapi David memilih membolos dari pesta perayaan tersebut karena di sana hanya ajang berkumpul antara kolega bisnis ayah David dan putra putri manja mereka. David yang muak memilih keluar mencari udara berkeliling di jalan.
Ketika, David hendak kembali ke hotel untuk mengambil mobil dia justru berpapasan dengan Zea. Semenjak saat itu, dia bertekad untuk terus mengejar Zea. Dia beralasan agar bisa berduaan dengan Zea. Naik bus pun dilakukan agar bisa pulang dengan Zea.
Pertemuan mereka bukanlah sebuah kebetulan belaka bagi David. Karena itu adalah pertemuan yang direncanakan Tuhan. Anggap saja takdir karena pertemuan mereka adalah kebetulan yang tidak direncanakan berkali kali.
Awal mula tekat terus mengejar Zea.
Sejak hari itu mereka dekat semakin dekat. Mulai menyadari perasaan mereka hingga akhirnya mereka jadian.
Off
*****
Nahh hari ini, David akan berusaha kembali memperjuangkan hubungan mereka yang baru mulai sudah renggang gara gara ketidakjujuran David.
"Permisi," ucap David sambil mengetuk pintu rumah Zea.
"Iya?" jawab ibu dari dapur.
"Owalah nak David. Ada keperluan apa datang kemari?"
"Saya ingin bertemu bapak dan ibu, karena jika boleh saya ingin mengajak Zea keluar sebentar."
"Owalah mau keluar, boleh saja nak David. Mari masuk dulu, kebetulan bapak dan Aslan sedang minum kopi."
"Nanti merepotkan Bu."
"Sama sekali tidak nak David, mari masuk."
"Siapa Bu?" tanya bapak dari dalam.
"David pak, dia datang untuk bertemu Zea."
"Owalah ajak masuk saja Bu. Toh Zea masih di kamar."
"Mari masuk nak David."
"Baik Bu terimakasih."
Setelah David masuk dan ikut duduk di ruang tamu. Ibu pergi ke dapur untuk mengambil jus, tanpa bertanya sebelumnya karena dia tahu David akan menolak jika ditanya mau minum apa.
"Mohon maaf Pak Adam, saya berniat mengajak Zea jalan keluar untuk makan dan pergi ke taman. Apakah kiranya bapak memperbolehkan?"
__ADS_1
"Luar biasa, kamu sopan sekali Vid," sanggah Aslan.
"Jangan kamu bikin David takut As. Tentu saja boleh nak David. Kamu sopan sekali pasti bapak dan ibukmu selalu mengajari hal hal baik."
"Terimakasih pak," jawab David sambil tersenyum.
Ketika jus yang dibuat ibu datang. David diminta untuk meminum dan menikmati hidangan kue bolu buatan ibu. Mereka berbincang membahas kehidupan. Mempertahankan kehidupan sekolah David, lalu kehidupan perkuliahan Aslan.
Aslan dan David cepat akrab. Hanya dengan membahas kehidupan sehari-hari mereka sudah mulai akrab. Rupanya Aslan juga menyukai basket.
"Lain kali kalau mau main bareng ajak aku Vid. Biar aku bawa temen temenku ikut main."
"Siap kak."
Mereka sudah berbincang cukup lama di bawah. Bahkan David sudah menunggu sampai 30 menit lebih.
"Zea mana Bu coba dipanggil. Kasihan nak David menunggu lama," pinta bapak.
"Iya pak."
Ibu naik untuk mencari Zea rupanya Zea tidak ada. Mungkin sedang dikamar mandi itu jawab ibu. Mereka kembali berbincang hingga akhirnya menunjukkan pukul 9.00 pagi. Tepat satu jam David nongkrong di rumah Zea menunggu seseorang yang tidak turun turun dari tadi.
"Wah sudah ngga bener. Biar aku yang panggil adik," ucap Aslan.
Hanya selang beberapa menit. Aslan turun bersama Zea. Setelah itu Zea dan David berpamitan kepada bapak dan ibu juga kakaknya. Mereka pergi meninggalkan rumah menggunakan motor Scoopy.
David mengajak Zea untuk pergi melihat sebuah bangunan yang akan dimana David pertama kali melihat Zea. Dari situ David akan mulai menjelaskan.
*******
"Ini kan warnet kak."
"Iya ayo masuk."
Zea menuruti ajakan David untuk masuk ke dalam gedung. Dia mengekor di belakang David seperti ekor kelinci dengan rambutnya yang dikepang.
"Pertama kali aku melihat mu bermain disini Ze. Ketika kamu dengan kak Aslan duduk di pojok sebelah sana. Aku melihat mu bermain dengan username itu. Ketika sampai di rumah aku mendekati mu. Semenjak itu kita bermain di dalam game. Semula aku tidak berani memimpikan kita akan menjadi sepasang kekasih di dunia nyata. Kenapa aku tidak mau mengakui siapa aku. Seperti kamu yang juga tidak mengakui identitas dirimu di dalam game. Tetapi semuanya berbeda setelah pertemuan kita yang ketiga. Semenjak itu aku berani mengambil langkah lebih untuk mendekati mu. Ketika kamu mengatakan kamu berpasangan dengan lelaki lain aku memang tidak masalah karena itu adalah aku. Tapi aku juga sudah merancang hari untuk menyiapkan sebuah pengakuan. Tapi sayang kakekku tidak ada jadi akhir pekan itu harus tertunda."
Zea terdiam mendengar pengakuan David. Hatinya sangat senang seperti menang lotre.
"Artinya kak David menyukai ku lebih dulu hihi," gumam Zea dalam hati."
"Ze." panggil David
"Iya kak, tidak masalah. Kita tidak perlu membahasnya lagi. Tetapi lain kali jangan sampai ada hal seperti itu lagi. Terkadang kesalahpahaman dapat meruntuhkan kepercayaan. Lebih baik menjelaskan di awal. Benar begitu?" ucap Zea sambil tersenyum manis.
"Betul betul betul."
"Ayo jalan jalan," ajak David.
Setelah berjalan keliling pusat pembelanjaan. Mereka berhenti untuk makan siang.
__ADS_1
******
"Aku tidak tahu apakah ini akan sesuai dengan selera mu. Tetapi orang orang menyarankan untuk memberikan hal hal seperti ini," jelas David sambil menyodorkan sebuah kalung.
Zea masih melonggo dengan kado yang diberikan oleh David. Sejenak dia mengedipkan matanya untuk menyadarkan dirinya.
"Aw," teriak Zea ketika dia merasa sakit atas tangan kanan yang dicubitnya.
"Kamu tidak apa apa?" tanya David.
"Aku sedikit kacau kak," ucap Zea tidak semangat.
"Kenapa? Salah ya? Jika kamu tidak suka aku akan menyimpannya saja."
"Hm," batin zea sambil mengelus elus jidatnya.
"Bukan tidak suka kak. Tapi kado ini terlalu berlebihan. Bagaimana bisa seorang remaja membelikan kekasihnya perhiasan emas," ucap Zea.
Belum sempat dia menyelesaikan ocehannya kepada David dilihatnya raut wajah David yang seperti habis di marahi. Benar benar membuat hati tidak sanggup mengeluarkan banyak ocehan lagi. Hati Zea lemah melihat wajah tampan itu sedih.
"Sayang," panggil Zea untuk pertama kalinya.
David menoleh ke arah Zea menatap lekat wajah Zea. Jantung David berdegup tidak karuhan. Seperti ada sebuah mixer kecil di dalam jantung David yang sedang memporak porandakan seisi jantungnya.
"Kamu memanggil ku?"
"Memang siapa lagi kekasihku?" tanya Zea percaya diri.
"Hanya aku," ucap David sambil tersenyum.
"Maafkan aku dan terimakasih untuk hadiahnya. Maksud ku mungkin jika ingin membelikan hadiah bisa dengan mengajak ku makan, membelikan makanan, atau membawa ku jalan jalan. Semua itu hal-hal berharga yang sama berharganya dengan kalung ini. Jadi terimakasih dan ingat untuk tidak perlu repot membelikan ku hal berharga seperti ini lagi," ucap Zea meyakinkan David.
"Maafkan aku dan terimakasih untuk memanggil ku sayang."
"Sama sama kak hehe," jawab Zea sambil tersenyum.
"Kak?" tanya David dengan raut muka mengingatkan.
"David maksud ku."
"Terimakasih Zeze, ayo makan steak nya."
"Terimakasih kembali kak."
Setelah makan siang David mengantarkan Zea pulang ke rumah dengan selamat sampai tujuan.
____________________________
Terimakasih jangan lupa like dan komen ya
__ADS_1
Selamat Membaca ☺️
Salam hangat dari Missing You David 🙏