
Langkah Awal
*******
“Kamu baik-baik saja Ze?” tanya Mita.
“Aku baik-baik saja Mita, kemarin kalau tidak salah kamu mendaftarkan diri untuk mengikuti beasiswa kuliah di luar negeri. Apakah disana ada jurusan manajemen bisnis?” tanya Zea dengan nada semangat.
“Of course ada beib, mau ikut ayo gabung masih open sih pendaftaranya 2 hari lagi ditutup,” jawab Mita.
“Aku ikut ya, nanti aku buka website dan coba bikin syaratnya apa aja.”
“Nice beib, semoga kita lolos ya kalau ada kamu kan enak jadinya berdua di sana.”
“Iya semoga ya, aku juga pengen cari suasana baru.”
“Kamu yakin Ze? Bukanya tadinya kamu pengen ambil jurusan komputer di Univ yang sama kaya David?” tanya Andrian.
“Sekarang udah tidak ada kata David lagi di hidupku jadi hargai pendapatku ya. Jangan bahas David di depan aku.”
“Maaf Ze, aku gatau kalau kalian pisah.”
“It’s okay, makasih ya Andrian udah repot-repot nganterin pulang.”
“Tidak masalah Zea, tidak merepotkan sama sekali,” ucap Andrian.
“Kamu yakin Ze?” tanya Vanessa menanyakan pilihan Zea.
“Sangat yakin,” jawab Zea.
“Oke kalau memang mau kuliah di luar negeri tidak masalah, tapi pikirkan dengan mata jurusan yang akan kamu ambil, karena kita semua tahu kamu suka teknik komputer terlebih lagi sejak awal masuk SMA bakatmu juga kelihatan di situ. Jangan sampai hanya karena David kamu memutuskan untuk mengambil keputusan dengan terburu-buru dan gegabah Zea,” ucap Vanessa dengan matang.
“Kamu tenang saja, aku akan memikirkan ini lagi dan mendiskusikan dengan keluarga ku di rumah dan terima kasih Vanessa atas perhatianmu,” ucap Zea sembari memeluk Vanessa.
“Umm cantik, sama-sama apasih yang nggak buat kamu.”’
Mereka berdua berpelukan seperti anak kecil yang senang berpelukan dengan sahabatnya. Andrian dan Mita tersenyum melihat tingkah mereka berdua. Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 25 menit, akhirnya mereka tiba di rumah Zea. Dengan alasan sudah malam, Andrian, Mita dan Vanessa memutuskan untuk tidak mampir.
“Byee Zeze,” ucap Mita sambil melambaikan tangan.
*****
“Sudah pulang sayang,” ucap Ibu yang keluar dari warung menyambut Zea.
“Iya bu,” jawab Zea sambil mencium telapak tangan ibunya.
__ADS_1
“Bagaimana ujian hari ini? Lancar sayang?”
“Ujiannya berjalan lancar dan aku bisa mengerjakan dengan baik ibu, ayah dan kakak mana bu?”
“Ayah mu pergi ke desa karena nenek tiba-tiba jatuh dari kasur dan harus dibawa kerumah sakit. Kalau Aslan tadi pulang sebentar terus pergi keluar katanya mau main futsal.”
“Oh begitu, oh iya ibu Zea mandi dulu baru nanti turun.”
“Iya, sana mandi baru nanti turun makan ya.”
Zeana pergi meninggalkan ibunya ke kamar untuk membersihkan diri. Melempar tas punggungnya ke kasur. Kemudian duduk termenung di depan kursi menghadap meja belajar. Dengan lekat dan seksama Zea memperhatikan susunan agenda dan rencana hidup yang ditulisnya sendiri menggunakan kedua tangannya. Jelas disana dituliskan masuk perguruan tinggi dengan jurusan ilmu komputer. Tapi, sayang rasanya hatinya tidak sanggup jika harus bertemu dengan David terlebih lagi ketika nanti David menjadi kakak tingkatnya.
“Jika aku memutuskan mengambil ilmu komputer maka aku harus dengan sungguh-sungguh mencari Universitas lain yang berbeda dengan David, tapi jika mengambil Manajemen bisnis maka nilai matematika dan ekonomi ku sudah begitu mumpuni untuk mengambil jurusan ini. Tapi kenapa aku merasa ucapan Vanessa ada benarnya,” gumam Zea dengan dirinya sendiri.
Sesaat Zea terdiam sembari menggigit kecil ibu jari tangan kanan miliknya itu. Merasakan bahwa hatinya gundah dan gelisah, Zea memutuskan untuk berjalan mondar mandir di dalam kamar sembari masih dengan posisi menggigit jarinya.
“Ugh, pusing,” gumamnya pada diri sendiri sebelum akhirnya masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
******
Pukul 19.25
Setelah makan malam, di ruang Tamu.
“Bu, kak, aku memutuskan untuk mencoba mengambil beasiswa kuliah di luar negeri bagaimana menurut kalian? Apakah boleh?” tanya Zea dengan tatapan ragu.
Aslan langsung menoleh ke arah Zea begitu pula dengan ibu. Mereka berdua terdiam dan berpikir sejenak apa yang akan dikatakan.
“Tentu saja boleh sayang, selagi ada kesempatan kami akan mendukungmu.”
“Ibu benar Ze, kalau kamu yakin kita akan mendukung terlebih lagi kemampuan bahasa Inggris mu cukup baik dibandingkan aku,” jawab Aslan.
“Jelas, kakak kan tidur kalau pelajaran bahasa Inggris.”
“Ngawur ya kamu, terus kamu mau ambil jurusan apa dan di Univ mana?”
“Itu yang mengganggu pikiranku kak, aku juga pusing harus memilih apa rasanya bimbang.”
“Kenapa bimbang, cukup pilih sesuatu yang kau sukai sesuatu yang membautmu bersemangat dan senang ketika mengerjakan. Jangan memilih sesuatu karena dorongan kata terpaksa atau katanya. Pilihan orang yang cerdas adalah pilihan yang dipikirkan dengan matang, sungguh-sungguh dan penuh keyakinan. Kau paham kan maskudku,” ucap Aslan dengan pemikiran dewasa dan terbuka.
“Wahhhh luar biasa sekali kak, kata-kata mu sungguh sangat indah dan memotivasi.”
“Ckck, kekanak-kanakan sekali lihat ekspresimu di cermin seperti anak kecil yang mendapatkan es krim.”
__ADS_1
“Berhenti mengejek ku kak, aku serius.”
“Iya iya, lalu bagaimana dengan nilai ujian mu sekarang kan belum keluar.”
“Nanti aku ceritakan kak, tapi sekarang bantu aku berpikir jurusan apa yang pas untuk ku.”
“Ya malas kali aku, yang ingin kuliah kan kamu yang akan mengerjakan tugas juga kamu. Untuk apa meminta bantuan ku. Jika aku yang memutuskan kamu pasti akan merasa keputusan orang dewasa pasti baik dan benar, padahal tidak semua itu benar. Anak-anak berhak untuk menyuarakan pendapat dan keyakinan nya. Jadi, pergi ke kamar dan putuskan apa yang akan kau pilih untuk sekarang.”
“Kamu benar kak, kalau begitu aku akan pergi dan merenung.”
Zea langsung bergegas pergi ke kamar meninggalkan ibu dan Aslan.
“Bagaimana dengan ayah bu?”
“Maksud mu apa nak?”
“Apakah ayah akan setuju? Anak perempuan satu-satunya akan hidup di negeri orang.”
“Aslan, ayahmu memang begitu menyayangi kalian terlebih lagi dia sangat memanjakan Zea tapi ayahmu bukanlah orang denga pemikiran tertutup seperti itu. Hal yang baik dan positif tentu akan didukung. Bukan berarti ayahmu tidak mengkhawatirka adikmu Zea. Tapi, terkadang orang tua harus memberikan dorongan dan kepercayaan kepada anaknya agar mereka paham bahwa setiap keputusan diseratai dengan tanggungjawab. Biarkan adikmu belajar mandiri dan memutuskan sesuatu dengan baik, masalah ayah ibu yang akan berbicara.”
“Syukurlah kalau begitu, karena melihat raut wajahnya yang tersenyum dan bersemangat seperti itu sudah beberapa hari aku tidak melihatnya seperti itu.”
“Tenang saja, ayahmu akan setuju jika ibu sudah bilang iya.”
“Benar juga, ayah kan suami takut istri haha,” goda Aslan bersamaan dengan pergi meninggalkan ibunya di ruang tamu sendirian.
*********
Pukul delapan lewat lima menit, Bapak menelpon dan menyampaikan bahwa tidak bisa pulang hari ini karena kondisi ibunya yang masih harus di rawat di rumah sakit.
Dalam panggilan
“Iya pak, ya sudah bapak jaga diri jangan lupa makan dan istirahat anak-anak baik-baik saja di rumah.”
“Syukurlah bu kalau begitu, jaga rumah dan anak-anak ya bu. Besuk kalau memungkinkan bapak pulang pagi.”
“Iya pak, ya sudah bapak istirahat sana ini.”
“Iya bu, ya sudah di lanjut besuk lagi bu.”
“Iya pak.”
Bapak mematikan telepon sesudah ibu menjawab iya, ibu belum sempat menyampaikan keinginan Zea untuk melanjutkan kuliah di luar negeri. Mengingat Bapak masih dalam kondisi khawatir dan ibu tidak ingin menambah pikiran untuk Bapak.
*********
__ADS_1
Bersambung………