
Final pertandingan dilaksanakan setelah jam istirahat berakhir. Zea kembali memasuki area pertandingan setelah makan siang ditemani oleh David. Kini David duduk di kursi penonton menyaksikan Zea sedang bertanding.
"Terimakasih, selanjutnya peserta dimohon untuk duduk kembali karena pertandingan akan segera di mulai," pinta MC pertandingan tersebut.
Zea kembali duduk di kursi dimana dia bertanding dengan 4 orang lawan lainnya. Pertandingan ini lumayan sengit karena musuh Zea adalah juara pertama pertandingan tahun lalu, Marsela.
Marsela adalah seorang mahasiswa semester 1 Universitas G. Tahun lalu, dia adalah seorang siswa SMA Sole yang merupakan seorang YouT*be gaming. Keahlian nya memang tidak diragukan lagi. Bahkan tahun ini dia mengambil jurusan Ilmu Komputer.
Zea sedikit menciut melihat background dari Marsela terlebih dia adalah juara tahun lalu. Tapi kali ini dia sudah bertekad bahwa harus mencoba baru menilai. Tidak ada salahnya mencoba, menang atau kalah setidaknya dia sudah berusaha.
Pertandingan di mulai dengan permainan solo dari 4 orang kandidat tersebut.
Sementara ini Zea masih memimpin pertandingan dengan poin membunuh 7 kali. Marsela terlihat tenang meskipun dia hanya membunuh 3 kali. Ketika hampir selesai tiba tiba Zea kehabisan amunisi hingga akhirnya dia berada di peringkat kedua.
Marsela menang telak dengan 6 kali membunuh tapi tetap hidup di akhir pertandingan. Meskipun Zea memiliki banyak poin karena membunuh boost dan monster, dan lawan 10 kali. Tetapi di akhir pertandingan, dia di bunuh oleh Marsela karena kehabisan amunisi di akhir pertandingan.
Pertandingan berakhir dengan Zea menjadi juara kedua dengan hadiah piala dan uang pembinaan sebesar 2,5 juta rupiah. Dia sedikit kecewa karena harus mendapatkan posisi kedua tetapi dari situ dia paham bahwa ilmu manajemen juga dibutuhkan dalam permainan. Dia harus mengatur agar persediaan peluru miliknya tetap cukup hingga di akhir permainan. Itu yang dia pelajari dari Marsela.
"Selamat kepada saudara Marsela Damiyanti sebagai juara pertama CTF Turnamen kali ini," ucap seorang MC.
Marsela berdiri dengan senyum mengembang menerima piala dan uang pembinaan dalam juara pertama kali ini. Para penonton dan panitia bertepuk tangan dan bersorak gembira. Zea tersenyum lesu, sedikit kacau karena kekalahannya kali ini.
Pemberian hadiah juga diberikan kepada Zea sebagai juara kedua dan dua orang lainnya sebagai juara ketiga dan keempat.
Setelah pemberian hadiah selesai, Zea turun dan menghampiri David yang berdiri sambil melambai dan tersenyum ke arah Zea.
"Kepada para peserta dimohon untuk tidak pergi terlebih dahulu karena akan ada penyerahan penghargaan untuk beberapa kategori," ucap MC acara tersebut.
"Selamat," ucap David sambil tersenyum.
David paham jika raut wajah Zea seperti sedih artinya dia sedang tidak senang.
"Terimakasih," jawab Zea sambil tersenyum kecil. Sedikit memaksakan senyuman di bibir Zea.
"Kamu juara kok dihatiku. Juara 1," ucap David menghibur sekaligus menggoda Zea.
Zea tertawa mendengar ucapan David.
"Hihi maaf ya."
"Kenapa minta maaf cantik?"
"Karena aku ngga bisa jaga mood ku."
"Ngga masalah cantik, aku suka kamu apa adanya kok. Semangat menang apa kalah yang penting udah juara ya kan."
"Heem," jawab Zea sambil menganggukkan kepalanya.
"Syukur Alhamdulillah dapat juara 2 ya kan."
"Betul banget," jawab Zea.
Ayo ajak David menggandeng tangan Zea.
Ketika mereka hampir keluar, seorang panitia menghentikan langkah mereka.
"Maaf kak, masih ada pembagian hadiah give away, dan penghargaan bagi peserta. Mohon ditunggu sebentar ya," ucap panita tersebut.
"Oh begitu, baik," jawab David.
Zea tersenyum lesu dan menurut untuk kembali ke dalam dan duduk. Zea duduk menyender di bahu David.
"Capek ya yang?" tanya David.
"Ngga kok."
"Bohong," jawab David menyanggah sekaligus mengelus elus rambut Zea.
__ADS_1
Zea semakin manja menyenderkan kepalanya di bahu David sambil memainkan ponselnya.
Beberapa panitia dan peserta yang tadinya mengangumi menjadi minder untuk mendekat. Melihat Zea sangat dekat dengan kekasihnya.
"Sayang ya udah ada yang punya," ucap Levin.
"Belum, baru pacar bukan berarti punya Zea sepenuhnya kan? Selagi janur kuning belum melengkung, masih banyak jalan untuk menikung," jawab Kevin percaya diri.
Setelah menunggu selama 5 menit kemudian pembawa acara menyampaikan penghargaan dan pemenang hadiah tersebut.
Zea dipanggil sebagai MVP dalam pertandingan tersebut dengan hadiah berupa uang tunai sebesar 1 juta rupiah. Dia memang memperoleh posisi kedua untuk kategori solo putri tetapi dalam peringkat dua mengumpulkan poin terbanyak dengan membunuh monster dengan poin terbanyak.
Setelah mendapat hadiah tersebut Zea dan David keluar gedung untuk pulang.
"Aku anter pulang ya," ucap David.
"Kamu kesini sendiri?" tanya Zea.
"Ada temenku tapi mereka udah pulang bawa mobil ku tadi."
"Terus kita pulang naik bus?"
"Ngga naik motor kak Aslan."
"Kok bisa?"
"Kak Aslan pulang sama temennya terus motornya ditinggalin ke kita."
"Oh yaudah ayo pulang."
Mereka pulang menggunakan motor berdua. Zea duduk tenang di belakang sambil berpegangan kepada David. Sesekali David mencari tangan Zea jika tangan Zea tidak memeluk pinggangnya.
"Dav, tapi kak Aslan pulang sama siapa?"
"Aku kurang tahu, dia Wh*tsApp aku terus kirim kuncinya lewat temennya."
"Maksudnya?"
"Tadi ada cewek ngatain kak Aslan pas lagi sama aku."
"Ngatain gimana? Ngatain kamu?"
"Dia bilang kak Aslan seleranya anak kecil terus banyak lah dikira aku pacaran sama kak Aslan terus itu cewek juga ngegas pas ngatain kakakku."
"Kak Aslan gimana?"
"Bilang ke aku suruh masuk ke gedung terus fokus sama pertandingan."
"Apa itu mantannya?"
"Ngga tahu sih, tapi cewek itu cantik terus body goals banget."
"Lha apa hubungannya Ze?"
Zea berpikir sejenak apa hubungannya antara cantik dengan kekasih kakaknya atau bukan.
Zea yang merasa mengeluarkan kata kata yang tidak nyambung justru tertawa kecil.
"Hihi, gatau apa hubungannya."
"Aduh hmm gemes," ucap David sambil memegang tangan Zea yang merangkul pinggangnya.
"Dah kamu Wh*tsApp aja kak Aslan," ucap David memberi saran.
"Bener, bentar ya."
Zea mengirimkan pesan kepada kakaknya.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian Aslan menjawab dan memberitahukan bahwa dia sudah sampai di rumah.
David fokus mengendarai motor sementara Zea sedang chatting an dengan kakaknya.
Di lampu merah David berhenti dan bertanya.
"Udah?"
"Udah kok, katanya kak Aslan udah pulang."
"Ya syukur."
"Iya."
Zea menaruh kembali ponselnya di dalam tas. Dari lampu merah itu terlihat seperti seseorang tengah berjualan minuman kemasan di dalam box kotak kecil di seberang jalan.
"Yang," ucap Zea memelas.
"Iya?" tanya David.
David peka jika Zea memanggil sayang pasti dia melihat makanan atau minuman yang ingin di makan.
"Boba boleh?"
"Boleh, sebelah mana?"
"Itu kayaknya seberang jalan ada yang jualan," sambil menunjuk toko minuman berbentuk kotak dengan atap ada gambar minuman Boba yang besar sehingga kelihatan dari kejauhan.
"Boleh sayangku, nunggu lampu hijau dulu ya."
"Makasih sayang," ucap Zea.
"Sama sama."
Mereka berhenti untuk membeli minuman dan membungkus untuk dibawa pulang.
Zea membayar dengan uang miliknya sendiri tetapi David menolak dan lebih dulu membayar semua tagihan itu.
"Kenapa sih yang aku ngga pernah boleh bayar?"
"Uang kamu ditabung aja. Beli keperluan mu."
"Kamu juga harusnya gitu, daripada tiap jajan bayarin aku," ucap Zea sambil cemberut.
"Ya udah cantik, besuk jalan kamu yang bayar makan. Gimana?" tanya David dengan muka memelas tepat di depan wajah Zea.
"Oke," jawab Zea antusias.
Setelah minum, mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah Zea.
******
Sesampainya di rumah bapak dan ibu Zea menyambut dengan senang kedatangan David.
Bapak dan ibu meminta David masuk untuk turut ikut makan malam. Tadinya David menolak namun bapak bersikeras untuk mengajak David makan malam. Dengan pasrah David menurut permintaan bapak.
Mereka berbincang di ruang tamu. Sementara Zea pergi ke kamar untuk mandi karena dia merasa sangat lelah dan butuh penyegaran.
_____________________
Selamat Membaca ☺️
Mohon maaf karena author terlalu lama tidak update dikarenakan kendala pribadi 🙏
Hai semuanya ☺️😍
Selamat membaca ☺️
__ADS_1