
Setelah berlatih selama 2 istirahat makan siang. Makam siang kali ini diadakan di sebuah small bar di resort tersebut yang sengaja khusus dikosongkan untuk makan siang. Semua anggota berkumpul untuk makan siang disana. Setelah berolahraga hanya cukup menunggangi mini bus kecil menuju tempat makan tersebut.
(sumber : pinterest)
Semua anggota lengkap dengan pembina klub hanya sempat mencuci wajah dan tangan setelah berlatih kemudian makan siang. Hal tersebut karena kegiatan latihan diadakan sesuai dengan agenda.
"Wow," ucap Nadim kagum.
Suara kaget Nadim terdengar oleh seluruh anggota yang sedang berdatangan menuju tempat makan tersebut. Makan siang memang dirancang seperti garden party dengan pola makan prasmanan yang mewah.
"Benar benar wow," tambah Fahsan.
Kini anggota yang lainnya turut kagum dengan semua fasilitas resort yang sudah disediakan.
Beberapa memilih mengagumi keindahan tersebut bersamaan dengan menyantap makan siang. Tapi tidak dengan Zea, dia cukup kritis menyadari bahwa kegiatan yang terjadi ini terlalu di luar akal Zea.
"Kita kaya liburan ya ga sih Len?"Tanya Zea kepada Elen.
"Ya bener sih Ze, kaya liburan bukan latihan tapi bedanya yang ini gratis makan dan tidur enak," jawab Elen.
"Aku kok ngrasa ini donatur sekolah ada yang aneh deh, masa sih orang mau keluar uang banyak buat salah satu klub saja?" tanya Zea menelisik.
"Maksud mu Ze?"
"Ya gini deh bayangin, ada orang mau keluar uang banyak buat orang segini banyaknya pakai tempat dia, zaman sekarang. Masa ada?" jelas Zea yang sekaligus bertanya.
"Hmm iya sih tapi aku juga ngga tua Ze, gimana cara kerjanya donatur sekolah kita. Tapi wajar sih bayarnya mahal sist," jawab Elen percaya diri.
"Hm masa gitu?" tanya Zea
Sejenak Zea sedikit kurang percaya dengan pendapat Elen. Tetapi untuk sementara alasan itu dapat diterima. Elen menarik tangan Zea untuk pergi mengambil makanan.
"Udah ayo jangan bengong mending kita makan," pinta Elen.
"Ya udah ayo."
David datang terakhir bersama Alvin dan Kelson. Mereka datang terakhir karena David terlalu lama beranda di kamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara Alvin justru tertidur di kursi sehingga Kelson harus bersusah payah membangunkannya.
"Kalian makan aja, aku mau kesana."
"Hmm mau mepet Zea ini pasti," goda Kelson.
"Ya jelas lah bro, udah bukan lagi rahasia itu mah," timpal Alvin.
David tidak memperdulikan perkataan kedua temannya. David justru memilih menghampiri Zea untuk makan bersama.
"Ini Ze," ucap David menyodorkan mangkuk berisi sup buah.
"Terimakasih kak, punya kakak mana?" jawab Zea sambil tersenyum.
"Aku ngga terlalu suka makan buah kok Ze."
"Lahh buah tu baik lhu kak, harusnya kakak makan buah juga."
"Ngga buat kamu aja."
"Kakak yakin?"
__ADS_1
"Yakin banget, udah makan terus balik ke kamar istirahat."
"Siap kak."
Elen menyadari sepertinya David ingin berdua saja dengan Zea.
"Ze, aku kesana ya mau ambil lauk lagi," ucap Elen yang hendak melarikan diri.
"Oh yaudah sana, jangan banyak banyak nanti kamu mules lhu," goda Zea.
"Okedeh tenang Ze."
"Yaudah sana," suruh Zea.
Elen kemudian bangkit dari duduknya. Baru beberapa langkah berjalan, Elen kembali menoleh ke arah Zea.
"Zea, Kak David Selamat makan," ucap Elen sambil tersenyum dan berlari kecil.
"Ih apaan si Elen aneh," ucap Zea heran.
"Bukan aneh Ze, tapi peka," jawab David tanpa sadar.
Zea langsung menoleh kearah David dengan tatapan menelisik.
"Apaan sih lihatin gitu banget," ucap David.
"Ngga cuma kok," jawab Zea.
Zea dan David menikmati makan siang mereka berdua di situ tanpa berbicara hingga makanan mereka habis.
Setelah makan siang diberi waktu istirahat hingga pukul dua sebelum akhirnya latihan dimulai kembali.
Latihan selesai pukul 15.05, kali ini selesai lebih cepat dari dugaan. Semua anggota diri waktu istirahat makan dan mandi sampai pukul 7 malam. Karena pada pukul 7 malam, kegiatan akan diganti dengan penentuan tim inti yang akan dikirim menjadi perwakilan sekolah dalam lomba memanah tahun ini.
Zea bergegas menuju ke kamar untuk beristirahat. Dia merasa penat dengan serangkaian kegiatan hari ini.
"Ze, kenapa jalannya cepat banget?" tanya David yang melihat Zea berjalan cepat melewati lorong.
Kebetulan letak kamar mereka berdua berdekatan.
"Capek kak, pengen buru buru ke dalam kamar."
"Owh kirain ada apa, kalau perlu apa apa bilang aja Ze. Aku dikamar sebelah," jelas David.
"Iya kak, makasih kak."
"Sama sama Ze."
"Selamat beristirahat kak," ucap Zea tersenyum manis ke arah David.
Degdegg
"Rasanya jantungku seperti akan meletus," gumam David dalam hati.
Zea terdiam karena David tidak merespon dirinya sama sekali. Hatinya seperti sakit, dia kira David juga menaruh hati seperti dia. Tapi respon David biasa saja ketika dia bersikap manis.
Wajah Zea lesu seketika. Zea tertunduk menatap lantai kemudian berbalik menuju pintu kamar.
Belum sampai Zea membuka pintu David sudah lebih dulu menggapai tangan Zea.
__ADS_1
"Selamat istirahat kembali Zeze," ucapnya sambil menggenggam tangan Zea.
Zea merasa ada yang aneh dengan dadanya, ada yang berpacu terlalu cepat di dalam sana. Entah mengapa dipanggil Zeze seperti sangat menggemaskan dan manis baginya.
Zea menoleh sambil tersenyum mendengar ucapan David. Mukanya memerah, pipinya panas tanpa Zea sadari.
"Lhu kenapa mukamu merah Ze. Kamu demam?" tanya David khawatir.
"Ngga kok kak aku sehat," sambil memegang dahi.
"Pipimu panas," ucap David memegang pipi Zea yang memerah.
Zea malu menyadari jika pipinya memerah. Zea kemudian berpaling menuju pintu kamar dan masuk ke dalam kamar. Namun, sedetik kemudian Zea keluar kamar.
"Makasih kak," ucapnya kepada David yang masih berdiri mematung di depan pintu.
"Untuk?"
"Untuk semuanya."
"Aku tidak memberimu semuanya," goda David.
"Hmm, dan juga untuk memanggil ku Zea," ucapnya malu malu.
David tersenyum melihat respon Zea. Dia merasakan ada perkembangan dari hubungan nya dengan Zea.
"Kamu suka dipanggil Zeze?"
Zea menjawab dengan menganggukkan kepalanya.
David yang paham kemudian mendekati Zea dan mengelus rambut Zea.
"Baiklah, selamat beristirahat Ze," sambil mengelus elus rambut Zea.
Muka Zea semakin memerah. David yang sadar kemudian berpamitan menuju kamar.
Setelah David pergi, Zea merebahkan dirinya di atas kasur. Berguling ke kanan dan ke kiri memikirkan kejadian tadi.
"Untuk pertama kalinya seseorang memanggil namaku seperti itu," ucap Zea sendiri.
"Uhhh maluu," ucapnya berteriak mengingat kejadian ketika pipinya memerah dan David menyentuh pipinya.
******
Di Kamar David
"Zeana Mufshin," ucap David dengan senyum mengembang.
David memilih menuju sofa dan duduk berselonjor disana merebahkan tubuhnya yang lelah berdiri. Mengingat kejadian tadi, David tersenyum lebar dengan pipi mengembang, satu tekad tiba tiba terlintas di benak David.
"Mendekat," ucapnya pada diri sendiri.
David kemudian mengirim sebuah pesan singkat kepada Zea.
________________________________________
Terimakasih sudah memberikan support kepada author berupa Lika dan komen atas karya ini.
Selamat Membaca ☺️
__ADS_1
Salam Sukses dadi Missing You David ❤️