
Kini, Emily berbaring di ranjang rumah sakit dalam keadaan belum sadarkan diri. Pihak rumah sakit mengatakan bahwa organ di dalam tubuh Emily mengalami kerusakan, sehingga peluang kesembuhan sangat kecil. Akan tetapi, Zea tetap meminta agar dokter melakukan yang terbaik.
“Dokter Martin,” panggil Harry kepada dokter yang menangani Emily.
“Ada apa, Harry.”
“Saya ingin menanyakan keberadaan terkini dari pasien bernama Emily dok, kebetulan dia teman saya.”
Dokter Martin menghela nafas, dia memberikan ekspresi sedih dan putus asa dalam waktu bersamaan.
“Ada apa dok?” tanya Harry yang panik melihat ekspresi dokter Martin.
“Temanmu tidak bisa sembuh, walaupun sembuh itu kemungkinannya sangat sedikit. Racun yang masuk sudah cukup merusak semua organ dalam di tubuhnya, terlebih lagi sepertinya sudah cukup lama dia meminum racun itu bisa dikatakan sedikit saja terlambat barangkali hanya satu menit, bisa jadi temanmu meninggal di meja operasi.”
Harry kaget, kakinya langsung lemas seketika. Dia baru saja melihat Emily berbaikan dengan Zea, tapi kini dia dihadapkan pada kenyataan bahwa temannya dalam masa kritis karena percobaan bunuh diri.
“Harry,” teriak Zea memanggil dari belakang.
Dokter Martin menoleh ke arah sumber suara dan langsung pamit undur diri, “Jaga dirimu ya, aku pergi dulu.”
Setelah dokter Martin pergi, Harry berjalan ke arah Zea.
“Ada apa?.”
“Lily bangun, dia ingin bicara dengan kamu.”
Harry mengangguk dan menuju ke kamar Emily bersama Zea. Sudah 3 jam belum sadarkan diri, ketika bangun dia ingin bicara dengan Harry dan Zea.
Di dalam kamar rawat Emily, Zea duduk di kursi sementara Harry berdiri di sampingnya.
Emily berbaring dengan bantuan alat pernafasan. Dia membukanya dan menatap berkata, “Jaga diri kalian,” itulah pesan terakhir sebelum akhirnya Emily menitikkan air mata dan monitor jantungnya berbunyi.
Harry yang kaget langsung melakukan tindakan bantuan, Zea sendiri memencet tombol emergency dan dokter serta perawat segera datang ke kamar.
Emily terlihat memejamkan mata, dan dokter terus memacu jantung Emily dengan alat. Namun, sayang setelah lebih dari 20 menit, Emily tetap tidak tertolong.
“Aaaaaa, tidak,” teriak Zea yang menyaksikan langsung dengan kedua matanya, sahabatnya meninggal di depannya.
Sahabat yang sangat dia sukai, sampai-sampai berbaikan adalah momen terbaik dalam masa persahabatan mereka. Tapi, takdir berkata lain. Tuhan lebih sayang Emily, Tuhan ingin Emily bahagia di sisi-Nya tanpa rasa sakit lagi.
Harry yang juga gagal menyelamatkan sahabatnya tidak bisa membendung air bening yang mengalir di pipinya.
***
Harry dan Zea menghubungi orang tua dan kerabat Emily. Ibunya diberikan waktu untuk pemakaman putrinya, hanya itu kemudian kembali ke penjara. Sementara bibi dan paman Emily yang mengurus dari awal sampai akhir.
“Tenang Zea, sudah ikhlaskan,” ucap Harry kepada Zea di pemakaman Emily.
Zea yang sudah lemas karena menangis tidak menjawab itu, dia memilih diam dan berusaha menahan diri agar tidak menangis lagi di depan makan sahabatnya.
__ADS_1
3 hari berlalu, Zea berusaha tetap bekerja dengan fokus. Hanya saja sesekali dia terganggu dengan kenangan dimana dia melihat Emily meninggal di depan matanya.
“Zea, apa kamu baik-baik saja?” tanya Tasya.
“Aku baik-baik saja kok.”
“Aku tahu kamu dekat dengan Emily, tapi mungkin dia tidak akan senang jika kamu terus-terusan bersedih.”
Zea hanya mengangguk walaupun dia tahu hatinya masih tidak rela melupakan sahabatnya.
“Tapi, aku rasa ada yang janggal,” kata Lisa yang merupakan teman kerja Tasya dan Emily divisi penyiaran berita.
“Apa maksudmu?” tanya Tasya.
“Di hari itu, dia bilang akan pergi ke luar negeri kan. Tapi, tidak lama setelah membereskan barang bawaan nya dia tertunduk di kursinya dan membaca pesan cukup lama. Wajahnya sayu dan kemudian pergi entah kemana.”
“Oh iya,” ucap Tasya yang teringat kejadian hari itu.
“Apa yang kalian tahu?.”
“Mungkin hanya ponsel Emily yang bisa menjawab itu, Zea.”
Zea kemudian teringat ponsel Emily yang diberikan kepada dirinya hari itu.
Tapi sayang, Zea menyerahkan ponsel itu kepada bibi Emily.
“Tunggu, aku bisa memecahkan teka-teki ini,” kata Zea kemudian teringat untuk mengambil ponsel itu dari tangan bibi Emily.
“Apa yang dia lakukan disana?” pikir Zea.
Zea berjalan menghampiri David, “Apa yang kamu lakukan disini?.”
“Aku menunggu mu Zea, maaf tidak muncul beberapa waktu ini karena aku tengah ada pertandingan di luar negeri dan baru pulang.”
David berniat menjelaskan kenapa dia jarang muncul dan memberitahu Zea bahwa dia belum menyerah.
“Aku tidak peduli, David.”
Zea langsung berjalan ke halte bu, tapi David tetap menghampiri Zea.
“Bisakah kita bicara berdua?.” tanya David.
“Tidak bisa, aku sedang sibuk.”
“Baiklah,” jawab David kemudian terdiam di posisinya menemani Zea menunggu bus.
Ketika bus datang, Zea masuk begitu pula dengan Harry.
“Cih, memang dia tidak ada kerjaan,” pikir Zea yang kesal. Tapi, dia mengesampingkan ini terlebih dahulu demi memastikan kebenaran dari kematian sahabatnya.
__ADS_1
Hampir dekat dengan kompleks rumah bibi Emily, Zea berdiri dan menunggu untuk turun di halte ini.
“Jangan ikuti aku,” ucap Zea kepada David.
Ckitt
Bus berhenti dan Zea langsung turun. Dia enggan menatap ke arah David lagi.
Tapi, David merasa khawatir karena Zea turun sendirian di tempat asing, sehingga dia turun di halte berikutnya dan berjalan sekitar 3 km untuk menunggu Zea di lokasi tadi.
Ting Tong
Suara bel berbunyi, Raisa yang tengah menonton televisi langsung berdiri dan menuju ke pintu. Dia melihat dari monitor dan mendapati seorang wanita berdiri di depan pagar rumahnya. Gadis yang tidak asing itu berjalan sendiri.
"Siapa sayang?" tanya Rendy suami Raisa.
"Zea, teman Emily."
"Kenapa malam-malam kemari."
"Entahlah, aku akan keluar dulu."
"Aku temani ya."
Kedua keluar dari rumah dan menuju ke pagar untuk membukakan pintu.
"Hai sayang, apa yang kamu lakukan di sini, semalam ini?" tanya Raisa kepada Zea.
"Bibi, apakah bibi masih menyimpan ponsel Emily."
"Masih sayang, kamu kemari untuk menanyakan itu semalam ini," ucap Raisa yang diikuti tatapan bingung ke arah suaminya.
"Masuk dulu," ajak Rendy.
Akhirnya mereka bertiga masuk dan berbincang di ruang tamu.
"Ini ponselnya sayang," ucap Raisa yang menunjukkan ponsel Emily tepat setelah dia mengambilnya di kamar.
"Ada apa memangnya Zea?."
Zea kemudian menjelaskan cerita dari teman kantornya, dan meminta Raisa dan Rendy menyaksikan Zea membuka ponsel Emily. Setelah berbisik dan berpikir panjang, keduanya setuju.
Zea meminta sarung tangan memasak agar sidik jarinya tidak terdeteksi. Karena, setelah diterima oleh Raisa, dia sempat membersihkan ponsel Emily dengan pembersih karena layarnya sedikit berdebu.
Zea membuka aplikasi pesan dan melihat ada satu arsipan pesan disana, dan beberapa kali panggilan masuk ke nomor Sarah, ibu Emily.
Ketika dia membuka pesan itu, Zea kaget bukan main membaca pesan yang dikirimkan Sarah kepada Emily.
"Bibi, lihat ini," pinta Zea sembari menunjukkan ponselnya.
__ADS_1
Raisa melihat isi pesan itu, dia menangis saking kagetnya, begitupula dengan Zea yang sama kagetnya melihat isi pesan Sarah yang banyak menyudutkan Emily.