Missing You : David

Missing You : David
Ujian hidup


__ADS_3

Zea POV


*****


Angin berhembus kencang menerpa dedaunan yang jatuh di halaman sekolah. Beberapa murid terlihat sedang asik duduk di kursi sembari memegang buku. Anak laki-laki memilih bermain di lapangan dengan memegang bola basket.


Hari ini ku langkahkan kakiku dengan harapan ini adalah ujian sekali dalam hidupku yang tidak akan ku ulang nantinya.


"Mungkin aku akan merindukan suasana seperti ini kelak," ucapku pada diri sendiri


"Zea," sapa Mita.


"Iya," jawabku sambil berjalan ke arah Mita.


"Kamu sudah siap tuk ujian kali ini?"


"Sudah siap, semoga hasilnya memuaskan dan tidak mengecewakan."


"Tenang saja, asalkan kau sudah belajar dan berdoa semuanya akan baik-baik saja. Ayo masuk."


Koridor terlihat lebih sunyi dari biasanya. Hanya anak-anak kelas 12 yang datang ke sekolah hari ini. Bahkan ini saja dibagi menjadi dua sesi. Beberapa diantaranya datang di sesi kedua.


Dadaku berdegup kencang, rasanya sedikit sesak dibagian dada.


"Apa karena aku mengancingkan baju terlalu ketat?" ucapku pada diri sendiri.


"Apa Ze?" tanya Mita.


"Tidak, bukan apa apa. Vanessa mana?"


"Dia ada kok di halaman belakang kelas, ayo," ajak Mita.


"Baik," jawabku mengekor di belakang Mita.


Sesampainya di halaman, kubuka lembar demi lembar buku catatan yang sudah ku persiapkan. Bukan karena ambisi melainkan ini adalah tanggung jawab. Tanggung jawab ku menuntaskan ujian hidup kali ini. Ya memang benar jika di sebut dengan ujian hidup, pasalnya ini adalah langkah penentu perguruan tinggi tujuan ku kelak. Meskipun beberapa perguruan tinggi sudah tidak menerapkan sistem nilai ujian akhir sebagai penentu penerimaan mahasiswa. Tapi, nilai ini adalah sejarah dan raport hidupku. Dengan teliti dan hati-hati aku akan menuntaskan dengan baik.


"Anak-anak silakan mempersiapkan diri ya, 15 menit lagi kalian masuk ruangan," ucap Bu Erni guru pendamping dari Sekolah ini.


"Baik Bu."


Kringg


Bel berbunyi pertanda ini adalah perintah untuk memasuki ruangan.


Aku berdoa di dalam hati semoga ujian kali ini akan memberikan hasil terbaik sesuai dengan usahaku kali ini.


"Baik anak-anak, sebelum mengawali ujian Nasional pada hari ini. Marilah kita berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Berdoa dipersiapkan," ucap seorang guru pendamping dari sekolah lain sebagai pembuka ujian kali ini.


Ujian hari ini berlangsung dengan lancar. Semuanya berjalan baik-baik saja. Begitu pula dengan suasana hati ku kali ini. Sesaat setelah menginjakkan kaki di sekolah aku melupakan masalahku dengan David.


"Huft," ucapku.


"Ada apa Ze?" tanya Vanessa.


"Tidak, bukan apa-apa. Kamu pulang dijemput atau bareng pacar mu?" tanyaku pada Vanessa.


"Aku pulang bareng Alvin tapi dia masih ada urusan di ruang guru jadi aku harus nunggu dulu deh. Kamu sendiri gimana?"


"Oh yaudah kalau gitu, aku pulang sendiri kalau gitu aku duluan gapapa?"

__ADS_1


"Gak papa duluan aja, tadi Mita juga pergi sih sama Jojo jadinya kamu sendirian."


"Gapapa kok, hari hati ya Sa aku pulang duluan."


"Iya makasih, maaf ya btw hati-hati dijalan Zea."


"Siap bos."


Setelah meninggalkan Vanessa menunggu di kursi taman sendiri. Aku memutuskan pulang ke rumah dengan menggunakan ojek. Sembari menunggu ojek, aku memperhatikan layar ponsel ku yang terlihat kosong tanpa notifikasi.


Sepertinya aku sedang menunggu seseorang menghubungi ku tapi entah kenapa ponselku masih sunyi tidak berdering. Sedikit rasa kecewa terbersit dalam hati, meskipun ini buka. satu satunya alasan untuk melihat ponsel tapi tiba-tiba bayangan David memenuhi otakku.


"Kenapa dia tidak menghubungi ku?" tanyaku pada diri sendiri.


"Mungkin sibuk," ucap seseorang laki-laki yang tidak aku kenal suaranya.


Aku menoleh ke arah sumber suara itu.


"Denis, kamu ternyata."


"Zeze, kamu tambah cantik ya."


"Haha, baru datang kok dah gombal sih."


"Serius, aku pulang kesini juga karena kamu lho."


"Apaan sih, bukanya kamu sekolah di luar negeri ya? Kapan pulang?"


"Aku pulang seminggu yang lalu karena mau kuliah di sini."


"Oh gitu ya, emang disana udah ujian kok dah pulang?"


Setelah di ingat kembali memang benar, ketika Denis pergi ke luar negeri dia memang sudah lulus SMP wajar jika sekarang pulang sudah lulus SMA.


"Oh iya ya, maaf ya. Tapi kalau gitu harusnya kamu dah kuliah dong."


"Gak, aku berhenti dulu setahun fokus belajar musik sebelum akhirnya milih balik ke negara sendiri."


"Oh gitu, nice deh kalau gitu. Rencana mau kuliah dimana Den?"


"Kampus yang sama kaya kamu."


"Kamu tu ya Den, ditanyain bukanya jawab malah nambah pikiran."


"Rencananya sih Univ X, tapi belum tahu. Kamu gimana Ze mau lanjut kemana?"


"Kalau aku masih bingung. Oh iya kenapa kamu bisa disini?"


"Tadi aku ke rumah terus katanya kamu sekolah yaudah aku samperin tapi pas sampai di sekolah gaboleh masuk karena lagi ujian."


"Ya jelas lah, ada ada aja kamu tu ya."


"Gapapa kan demi Zeze, habis kangen banget dah lama gak ketemu. Oh iya kamu dah ada pacar Ze?"


"Udah."


Sebuah suara datang dari belakang menyaut percakapan ku dengan Denis. Suara seseorang yang sepertinya aku kenal, tapi nadanya benar-benar asing.


"David," ucapku.

__ADS_1


"Dia siapa Ze?" tanya Denis.


Belum sempat aku membuka mulut untuk menjawab, David langsung menjawab pertanyaan Denis.


"Pacar Zeana, kamu sendiri siapa gombalin pacar saya kaya gitu."


"Kamu beneran dah ada pacar Ze?" tanya Denis tidak percaya.


Aku hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan Denis. Walaupun aku sedang marah dengan David, tapi kami masih berpacaran. Belum ada kata putus sama sekali.


"Oh halo pacarnya Zeze, aku Denis temennya Zeze."


"Hai, gue David. Cuma temen kan, jangan dekat-dekat Zea ya jaga jarak."


"Oh iya teman, tapi kamu sendiri kan juga baru pacar bukan suami kenapa dah ngatur-ngatur," jawab Denis berani.


Rasanya suasana disini terasa sangat tidak nyaman. Seperti ada aura negatif diantara mereka berdua. Seperti musuh yang bertemu secara langsung.


"Stop, jangan dilanjut. Kamu katanya mau ke Singapura?" tanya ku kepada David.


"Iya, aku mau ngomong sayang ayo," ajak David sambil menyeret tanganku.


"Maaf ya Den, next time kalau ada waktu kita ngobrol lagi ya. Maaf."


"Iya Ze, gapapa."


David menyeret ku menuju mobilnya.


"Masuk sayang," pintanya dengan nada sedikit mendidih.


"Ada apa sih, kenapa harus sampai narik aku segala."


"Kamu kenapa ga langsung pulang?"


"Nungguin ojek siapa tahu ada yang lewat."


"Kenapa gak ngabarin aku aja?"


"Kamu kan sibuk."


"Ga usah alasan deh, karena dia ya kamu jadi dingin ke aku?" ucap David.


Aku heran dengan sikap dan ucapan David. Bisa-bisa dia menuduh aku seperti itu padahal jelas sekali disini siapa yang sudah berbuat salah.


"Kamu kenapa sih Vid? Capek sama aku sampai harus banget nyari masalah kaya gitu. Dengerin ya, aku baru aja ketemu sama Denis tadi di depan sekolah, kita gak janjian dan gak ada hubungan apa-apa."


David terdiam mendengar ucapan ku. Mungkin dia kaget melihat aku yang terbawa emosi dan mengatakan kalimat dengan nada sedikit tinggi dan penekanan kata di sana sini.


"Maaf," sungut David.


"Aku capek," ucapku sambil membenarkan posisi duduk.


*************************


Bersambung.......


Selamat membaca


Semoga dapat menghibur pembaca sekalian.

__ADS_1


Penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun


__ADS_2