
Harry kemudian dipanggil untuk beristirahat sebentar sembari menunggu panitia menyiapkan acara pemberian hadiah kepada pemenang. Zea bersama Tasya diminta kru Harry untuk duduk terlebih dahulu menunggu di ruangan para kru dan teknisi Harry biasa beristirahat.
“Anda pacar Harry?” tanya Peter kepada Tasya.
Peter salah paham kepada Tasya karena dia melihat style
Tasya yang hampir sesuai dengan kriteria Harry, yaitu wanita yang style nya
mirip dengan mantan kekasih Harry, yaitu Tessa. Tessa adalah mantan kekasih Harry
yang menghilang begitu saja seperti ditelan bumi. Cara berpakaian dan postur
tubuhnya sama dengan Tasya.
Tapi, Tasya menggelengkan kepala. Karena Peter sudah salah menebak dirinya.
“Bukan, saya teman Zea yang kebetulan adalah wanita yang sedang dekat dengan Harry.”
“Oh begitu, halo Zea. Maaf sudah salah sangka, silahkan duduk sembari menunggu Harry datang.”
Sejak itu, Zea kurang senang dan sedikit badmood. Tidak badmood kepada Tasya, tapi kepada Harry yang pada dasarnya tidak bersalah.
**
Pulang dari lapangan, Tasya pulang sendiri mengendarai mobilnya sementara Harry dan Zea pergi untuk makan di rumah Harry sekaligus merayakan momen berharga ini.
Dalam perjalanan pulang, Zea meminta untuk dipulangkan terlebih dahulu untuk mandi dan makan belanja di supermarket dan makan bersama Harry kemudian.
“Aku ingin pulang dulu, mandi,” kata Zea.
“Tidak makan dulu?.”
“Tidak, sekarang masih siang, kita bisa pulang beristirahat dan belanja nanti jam 3 atau 4 sore saja.”
“Baiklah, aku akan menjemput nanti sore untuk berbelanja keperluan kita.”
Zea hanya mengangguk dan tidak mengatakan apapun. Sesampainya dirumah, dia langsung turun, tapi Harry ikut turun dan memberikan medali miliknya kepada Zea.
“Zea, ini hadiah dariku untuk kamu.”
Zea menatap Harry dengan tatapan bingung.
“Aku tidak perlu, kamu bisa menyimpan nya. Lagipula itukan milikmu.”
“Aku ingin kamu menyimpan ini, ini adalah hadiah pertama ku untuk kamu.”
Harry terlihat tersenyum dan menatap ke arah Zea dengan tulus. Zea yang tadinya marah langsung luluh dan menerima mendali itu dengan tersenyum.
“Terima kasih, aku akan menyimpannya.”
**
Harry baru saja tiba dan langsung mandi. Baru saja keluar dari kamar mandi, dia mendapati ada panggilan tak terjawab dari Peter. Harry yang penasaran langsung menelpon kembali.
__ADS_1
“Ada apa?” tanya Harry.
“Hai, maaf menelponmu di waktu istirahat. Tadi, ketika wanita mu menghampiri kru. Aku sepertinya tidak sengaja membuat Zea marah, kukira wanita mu Tasya, ternyata Zea. Nah dari situ Zea hanya diam saja dan tidak
banyak bicara. Ditambah, Noe menimbrung dan berusaha membantu mencairkan suasana dengan mengatakan bahwa aku keliru karena mengira Tasya mirip dengan Tessa, mantanmu,” jelas Peter yang belum selesai langsung ditimbrung Noe.
“Benar Harry, bahkan sejak kata Tessa keluar dari mulutku. Zea masih diam saja, aku jadi takut kalian bertengkar.”
*
Keduanya memutuskan untuk makan hotpot sebagai menu makan malam. Mereka belanja di supermarket, namun Zea kurang bersemangat agaknya.
Harrry terdiam, dia teringat sikap aneh Zea. Namun, dia berusaha menyesuaikan diri dan berkata bahwa semuanya baik-baik saja.
“Tenang saja, aku dan Zea baik-baik saja kok. Mungkin dia diam karena bingung, next time* aku akan mengajak dia bertemu kalian agar kalian tenang.”
“Benarkah Harry?” tanya Peter.
“Iya, tenang saja,” jelas Harry.
Peter dan Noe akhirnya percaya dan mengakhiri obrolan mereka setelah berbincang beberapa hal termasuk pertandingan Internasional yang akan segera diadakan di luar kota dalam waktu 3 bulan lagi. Harry juga setuju untuk hadir dan ikut dalam pertandingan itu.
**
Jam 3 sore, Harry datang kerumah Zea dan keduanya berangkat ke supermarket bersama. Harry mendorong troli sementara Zea memilih barang bawaan mereka. Setelah sampai di supermarket, Zea mulai memilih barang belanjaan dia.
“Zea,” sapa Harry yang melihat Zea sangat senang memilih belanjaan.
Zea menoleh dengan senang ke arah Harry. Kini keduanya sudah berbaikan dan memutuskan untuk berbelanja dengan cepat dan mulai pulang untuk memasak.
“Ze, apa kamu tidak nyaman kita makan dirumah ku?” tanya Harry yang masih sibuk memasak di dapur.
Zea tidak masalah, dia membuka pintu samping dan membiarkan AC mati. Sehingga udara masuk dari pintu samping.
“Ze,” panggil Harry lagi.
“Aku tidak masalah Harry, lagipula aku bukan anak sekolah lagi.”
Harry berjalan membawa kuah mala pedas menuju ke meja yang sudah di atur Zea.
“Apa kita akan makan di sini?” tanya David sembari menaruh makanan di meja yang diatur Zea dekat dengan pintu balkon.
“Iya, agar udaranya masuk.”
“Baiklah,” jawab Harry mengiyakan.
Keduanya lantas makan dan bercengkrama dengan baik. Zea menerima perlakuan Harry dengan baik, dan seiring dengan berjalannya waktu. Keduanya semakin dekat dan semakin akrab.
“Harry,” sapa Zea kemudian.
“Iya?” tanya Harry kemudian.
“Ada apa?.”
__ADS_1
“Apakah aku boleh bertanya tentang Tessa?.”
Harry terdiam sejenak, kemudian menjawab “Iya.”
Harry bangkit dari duduknya dan memilih duduk di samping Zea.
“Kamu siap mendengarkan ini?” tanya Harry kepada Zea.
“Iya,” jawab Harry.
Belum sempat mengucapkan kalimat lain, bel pintu rumah Harry berbunyi.
“Siapa yang berkunjung selarut ini?” ucap Zea bingung.
“Tunggu dulu ya,” kata Harry kemudian pergi ke depan.
Ketika Harry membuka pintu, Emily terlihat berlari dan memeluk Harry. Dia terlihat menangis, namun dalam keadaan mabuk. Zea yang berdiri mengintip melihat jelas kejadian itu.
“Harry, bisakah kamu meninggalkan Zea demi aku,” pinta Emily dalam keadaan tidak sadar.
“Lily, kamu tidak sadar. Tolong jangan begini,” pinta Harry melepaskan pelukan Emily.
Emily menghapus air matanya dan berdiri dengan sedikit goyah di depan Harry.
“Aku kehilangan Zea, demi cinta mu yang ingin aku miliki. Jika kamu bersama Zea, maka aku akan kehilangan kalian berdua. Apakah kamu harus melakukan ini?” ucap Emily dengan mata sedih.
Zea tediam, dia merasa iba. Emily yang kuat dan selalu tangguh di depan Zea, menjadi sangat rapuh di depan laki-laki yang dia suka.
“Maaf Lily, aku menyukai Zea. Kita masih bisa berteman, aku akan meyakinkan Zea agar berbaikan dengan mu.”
“Tapi, aku tidak bisa. Aku enggan melakukan itu.”
“Kenapa begitu?” tanya Harry.
“Ibuku meminta aku meninggalkan negara ini, jika aku terus menjadi lemah dan mengemis cintamu. Jika aku terus kalah dari Zea, maka aku tidak akan memiliki apa-apa.”
“Mereka tidak menginginkannku sebagai keluarga, berbeda dengan kamu,” tambah Harry.
Harry terdiam, sesaat kemudian dia memegang bahu Emily dan mendudukkannya di kursi.
“Duduklah, aku akan mengambilkan air.”
Zea muncul dari belakang dan memberikan air minum.
“Tunggu disana, aku tidak ingin kalian bertemu dan bertengkar. Biarkan Lily duduk dan aku akan memesan taksi.”
Zea mencegah tangan Harry yang hendak pergi dan berkata,”Biarkan aku yang memesankan taksi.”
Harry mengangguk dan berterima kasih. Dia kemudian menyerahkan air mineral untuk Emily.
Setelah minum dan menunggu beberapa menit. Taksi online yang dipesan Zea datang, dia langsung mengantarkan Emily turun dan pulang dengan tenang.
"Apakah kita bisa bersama dengan menyakiti perasaan Lily," ucap Zea dengan tatapan kosong ke arah taksi yang membawa Emily pulang.
__ADS_1
Zea berdiri tepat di belakang Harry, Harry yang mendengar kalimat itu menoleh ke arah Zea dengan panik.
"Ze, kenapa kamu berpikir begitu?."