
Harry di terima dengan baik oleh ibu Zea. Hanya saja respon ayahnya, yaitu Adam. Adam merasa kurang yakin dengan Harry. Terlebih sekarang, setelah putrinya pernah sakit hati. Dia tidak berani menaruh ekspektasi terlalu tinggi, terlebih kepada orang yang memiliki standar ekonomi lebih tinggi darinya.
Setelah selesai menyiapkan makanan. Keduanya mengajak Harry makan bersama mereka.
***
"Anggap saja rumah sendiri nak Harry."
"Terima kasih, Tante."
"Santai saja."
"Zea, tolong ambilkan ponsel ayah di kamar nak," titah Adam.
Zea menurut dan meninggalkan mereka di ruang makan. Selesai makan, Mima membereskan piring. Semula, Harry hendak membantu.
Tapi, Adam menghentikan dan mengajak Harry berbincang di belakang.
"Nak Harry, mari kita mencari udara segar di luar," ajaknya.
"Sana, ikuti saja ayah Zea," tuntun Mima agar Harry mengikuti Adam dan meninggalkan dirinya di dapur.
"Baik, Pak."
Harry mengekor di belakang Adam. Keduanya berada di halaman samping. Adam duduk di kursi dan meminta Harry untuk duduk juga.
"Duduklah," kata Adam.
"Apakah paman tidak suka saya dekat dengan Zea?" tanya Harry berterus terang.
"Rupanya kamu paham."
"Sebenarnya bukan tidak suka, aku hanya ingin berhati-hati dalam menerima orang baru. Aku tidak ingin Zea sakit lagi kali ini."
Harry terdiam, dia tidak tahu apa yang terjadi sebelumnya hingga Zea dan keluarganya takut ini dengan orang baru.
"Saya tidak bisa berjanji paman. Tapi saya akan mengupayakan yang terbaik untuk Zea," kata Harry tulus.
Adam tersenyum smrik, dia sudah biasa mendengarkan kata-kata tersebut.
"Aku tidak peduli apa janji atau kalimat penenang darimu. Aku cukup tahu saja, jika sampai Zea menangis. Maka, kamu harus pergi dari putri ku," jelas Adam.
Harry hanya terdiam. Dia merasa menjawab tidak akan berakhir baik. Saat ini, ayah Zea tidak akan percaya apapun yang dia katakan. Jadi, lebih baik diam saja.
***
Zea turun dari kamar dan melihat ibunya di dapur sendiri.
"Lho Bu, dimana Bapak dan Harry?."
"Mereka sedang mencari angin di samping."
"Oh begitu, yasudah aku akan mengantarkan handphone bapak dulu," kata Zea kemudian berjalan.
"Zeze," panggil Mima.
"Iya Bu," jawab Zea sembari menoleh.
__ADS_1
"Biarkan mereka berdua berbincang dulu."
Zea mengangguk dan kembali ke sisi ibunya. Membantu ibunya menata piring di rak.
***
Setelah makan malam dadakan itu. Harry pulang dan tidak lagi mengabari Zea. Zea merasa Harry menjaga jarak. Namun, karena baru selang satu hari. Sehingga dia tidak panik dan memilih diam, tidak memastikan.
Hari selanjutnya, tibalah di hari Mima dan Adam berpamitan pulang. Aslan pulang lebih dulu, sehingga keduanya pulang terakhir.
"Zea, ibu dan bapak pulang ya," pamit Mima kepada Zea.
"Tidak ingin menginap beberapa hari lagi Bu?."
"Tidak nak, ada hal yang harus diselesaikan di rumah."
"Baiklah kalau begitu, hati-hati di jalan ya."
Tin tin
Sebuah mobil berhenti di depan rumah Zea. Mobil itu milik Harry.
"Selamat sore, paman, bibi," sapa Harry.
"Sore nak, kamu tidak kerja?."
"Saya jaga malam hari ini. Ini ada sedikit buah tangan dari ibu saya, kebetulan mereka baru saja pulang dari Australia," jelas Harry sembari mengulurkan sebuah paper bag yang berisikan hadiah.
"Terima kasih, lain kali tidak perlu repot-repot," kata Adam.
"Hari Minggu kamu ada waktu?" tanya Harry.
"Ada, kenapa memang?."
"Mau pergi nonton lagi?."
"Boleh, memang kamu tidak bosan menonton film dengan aku?."
"Tidak."
Zea tersenyum dan berkata, "Baiklah, sampai ketemu besok, hari Minggu."
***
Hari berlalu, Zea siap untuk pergi bersama dengan Harry. Kali ini mereka akan menonton film horor. Seperti biasanya, Harry menjemput di depan rumah dan mereka pergi bersama dengan Harry.
"Kamu ingin makan dulu?" tanya Harry.
"Tidak usah, kita langsung nonton saja."
"Baiklah."
Harry berdiri dan mengantri membeli tiket. Dia memesan dua tiket untuk Zea dan dirinya. Sementara itu, Zea menunggu di kursi tunggu.
"Harry, kamu mau nonton juga?" tanya Emily yang entah muncul dari mana.
"Eh, iya Lily."
__ADS_1
"Wahh, sendiri aja. Satu tiketnya untuk aku ya," kata Emily kemudian menarik satu tiket dari tangan Harry.
Zea melihat itu dengan jelas dari posisi duduknya.
"Hei, apa yang kamu lakukan?" tanya Zea geram.
"Mengambil tiket, kenapa?."
Emily merasa tidak bersalah, dia justru terlihat angkuh dan sombong.
"Tiket itu Harry beli untuk aku."
"Berhenti bersikap angkuh Zea, Harry tidak mengatakan ini untukmu. Jangan terlalu percaya diri," kata Emily kemudian pergi duduk dan menunggu di depan teater.
"Sudah. Kita beli lagi saja ya," ajak Harry.
Harry mengantri lagi dan hanya ada satu tiket tersisa.
"Itu tidak apa-apa, aku akan menonton itu," kata Zea yang sudah kesal. Dia merasa Harry kurang tegas. Sementara itu, dia juga enggan duduk di samping Emily walaupun Harry menawarkan agar dirinya saja yang sendiri. Akhirnya, Zea duduk sendiri di deretan atas nomor 2.
"Dasar," kata Zea kesal.
"Kenapa? Dia saingan cintamu?" tanya David tiba-tiba.
Zea menoleh ke samping dan melihat David duduk di sampingnya.
"Kenapa kamu ada di sini?."
"Aku menonton, kamu lihat sendiri kan."
"Kenapa harus kamu sih."
"Kenapa memangnya? Bukankah ini takdir artinya."
"Takdir omong kosong! Hal sial apa yang akan menimpa ku kali ini," gumam Zea yang masih bisa di dengar David.
"Semakin kamu menjauh, semakin aku yakin. Kamu masih menyukai ku," kata David dalam. hati.
Tidak lama setelah mereka beradu mulut. Film segera dimulai. Film yang terlihat biasa di tengah itu, cukup mencekam rupanya. Jump scare nya cukup banyak. Zea bahkan sering berteriak dan menutup mata saking takutnya. Banyak juga yang berteriak di dalam ruangan itu.
"Cubit saja tanganku saat takut," kata David sambil mengulurkan tangan.
"Tapi," kata Zea yang enggan.
"Jual mahal mu tahan dulu, bertahan hingga film berakhir lebih penting," kata David yang dengan baik mengulurkan tangan.
Zea mengangguk dan menyentuh lengan David dengan tangan kanannya. Harry melihat itu dengan samar-samar dari posisi duduknya.
Dia cemburu, tapi apa boleh buat. Emily datang mengacaukan kencannya. Hingga dia harus melihat wanita yang dia suka duduk bersama dengan pria lain.
"Oh noo, nooo," kata Zea saat melihat adegan di film semakin menyeramkan. Bukan hanya pembantaian biasa, tapi pembantaian psikopat yang ditampilkan dalam film itu. Merasa sebentar lagi, hantunya akan muncul. Zea berjaga-jaga menutup mata dan mencubit lengan David.
"Kenapa? Dia saingan cinta mu ya?" tanya Emily yang kepada Harry yang terus menoleh ke belakang.
Harry tidak menjawab justru berkata, "Sebaiknya kamu berhenti mengganggu Zea, mendekati ku tidak akan melukai Zea sama sekali."
"Oh ya? Bagaimana jika aku mengambil semua miliknya? Apa kamu yakin dia akan baik-baik saja?" tanya Emily dengan sedikit berbisik-bisik di telinga Harry.
__ADS_1