Missing You : David

Missing You : David
18 Pengakuan yang Tertunda


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Fadlan dan Aslan menyambut Zea dengan mengadakan barbeque di halaman samping dekat kolam ikan dan dapur. Mereka sengaja mempersiapkan itu bahkan jauh jauh hari sebelum Zea mengikuti perlombaan.


Aslan memiliki ide tersebut untuk memberi apresiasi atas kerja keras adiknya selama ini. Berlatih setiap pulang sekolah, terkadang juga saat hari libur. Belum lagi Zea sering lupa makan karena terlalu fokus belajar setelah berlatih. Demi mengikuti kegiatan latihan yang cukup intens, Zea harus bekerja lebih untuk belajar dan memahami materi di sekolah. Kadang tugas dikerjakan malam hari bahkan sering lewat dari jam tidur yang seharusnya. Aslan merasa respect dengan kerja keras adiknya. Sehingga dia menyusun rencana untuk mengadakan acara barbeque setelah kepulangan adiknya. Meskipun nanti Zea pulang tanpa membawa hadiah tapi mereka tetap akan melakukan acara barbeque tersebut. Namun, siapa sangka jika ibu menghubungi bahwa Zea mendapatkan posisi pertama dalam lomba tersebut.


Fadlan sangat yakin jika Zea adalah anak yang gigih dan bersungguh-sungguh. Jadi wajar jika adiknya mendapatkan posisi pertama.


Ketika tiba di rumah suasana rumah sepi.


"Bu, kok rumah sepi?"


"Mungkin kakakmu belum pulang," ucap ibu berbohong.


"Bapak masuk nanti ya Bu, ada telepon."


Bapak mengangkat telepon di samping mobil. Entah telepon dari siapa tapi raut wajah bapak terlalu serius.


"Ayo Ze masuk."


"Iya Bu,"


"Assalamualaikum,"


"Waaalaikumsalam," jawab Fadlan dan Aslan berbisik. Mereka bersembunyi di balik pintu membawa terompet dan topi di atas kepala. Entah minuman apa yang diberikan kepada Aslan hingga Fadlan menurut untuk melakukan hal yang kekanak kanakan seperti itu.


"Sepi Bu, gelap juga."


Prittt, suara terompet kecil yang seperti peluit dibunyikan oleh Aslan.


Zea dan ibu kaget mendengar suara itu.


"Selamat dik," ucap Fadlan.


"Kakak!" ucap Zea bersemangat sekali terharu melihat tingkah kedua kakaknya tersebut.


"Zea cantik selamat ya dik," ucap Aslan membuka tangan mengisyaratkan agar Zea mendekat.


Zea kemudian mendekat menghampiri Aslan dan memeluknya.


Acara barbeque di mulai. Zea pergi untuk membersihkan diri di kamar. Sementara ibu dan kedua kakaknya mempersiapkan peralatan dan bahan. Tidak lama kemudian bapak masuk ke dalam.


Bapak dan ibu membersihkan diri terlebih dahulu. Sementara Fadlan dan Ahsan memanggang daging dan sayuran.


Beberapa daging sudah dilumuri bumbu siap untuk dipanggang. Sementara itu, Aslan memasukkan sayuran dan beberapa jenis paprika ke dalam tusuk sate untuk dipanggang bersama dengan daging.


Fadlan memanggang dengan tenang.


Di Kamar Bapak


"Bu ada yang ingin bapak bicarakan."


"Ada apa pak?"


"Tadi bapak dapat kabar dari desa kalau bapak sedang sakit keras. Mas Sunar meminta ku untuk pulang Bu tapi bagaimana dengan rumah?"


"Bapak pergi saja, sementara ibu akan di rumah bersama anak anak. Di akhir pekan ibu akan menyusul bersama anak anak. Jika Fadlan repot biarkan Fadlan di rumah pak."


"Ya sudah kalau begitu baiknya."


"Iya pak, sudah sebaiknya bapak mandi dulu."


"Oh iya Bu, jangan beritahu Zea terlebih dahulu. Dia sangat menyayangi kakeknya, takutnya nanti Zea justru merengek untuk ikut Bu."

__ADS_1


"Baik pak nanti ibu bilang kalau bapak pergi ke desa untuk menengok keluarga saja."


"Ya syukur bu, sudah ayo kita mandi dan cepat bergabung dengan anak anak."


"Baik pak."


Acara barbeque itu berlangsung dengan sangat menyenangkan. Mereka berbincang, bernyanyi dan tertawa. Aslan dan Zea selalu bisa membangun suasana meriah.


******


Keesokan harinya


Zea berangkat diantar oleh Fadlan menggunakan motor. Sementara Aslan berangkat bersama temannya yang kebetulan merupakan anak desa sebelah.


"Kak?"


"Hm?"


"Bapak pergi subuh subuh, kira kira kemana ya kak?"


"Kurang tau dik. Bapak mungkin pergi ke desa soalnya tadi ibu siap siap bawa beberapa sayur dan buah dari kebun buat oleh oleh."


"Oh gitu ya kak."


Sejenak Zea terdiam manggut-manggut mendengar jawaban Fadlan.


"Ha?Desa???" respon Zea berteriak.


"Astaga kenapa sih dik?"


"Ke desa berarti ke rumah kakek kan kak?"


"Hmm bisa jadi."


"Kamu kan masih sekolah Ze."


"Iya hari ini dan besuk. Besuknya kan Sabtu artinya kita bisa pergi ke desa karena aku libur. Asikkkk."


"Ya sudah besuk kamu bisa ke desa bersama ibu."


"Terus kak Fadlan?"


"Kak Fadlan akhir pekan ada jam dik mengajar di Universitas T jadi kakak mungkin tidak bisa ikut."


"Yah tidak asik dong, padahal terakhir ke desa kan setahun yang lalu," ucap Zea lesu.


"Ya sudah kalau kakak sudah selesai kakak susul kesana Ze."


"Nah gitu dong baru kakak."


"Hmm," jawab Fadlan heran dengan adiknya yang selalu merengek jika ingin sesuatu.


"Kak udah sampai," ucap Zea menunjuk gedung bertingkat di sebelah kanan jalan.


"Oh iya."


Fadlan menghentikan sepeda motor miliknya di seberang jalan. Sehingga Zea harus menyeberang jalan untuk sampai ke sekolah.


Sekolah hari ini berjalan dengan cepat. Tapi Zea belum lagi melihat David.


Kebetulan Kelson lewat bersama dengan Jeni dan Alvin. Zea datang menghampiri Kelson untuk bertanya kepada Kelson.

__ADS_1


"Permisi kak Kelson ada yang ingin aku tanyakan."


"Oh Zea, ada apa?"


"Boleh jika kita bicara berdua?"


"Wah ini pasti sesuatu yang serius. Tentu saja boleh. Ayo."


Jeni dan Alvin meninggalkan Zea berdua dengan Kelson.


"Ada apa Ze?"


"Kak David kemana ya kak?"


"Oh David pergi ke luar negeri. Kakeknya meninggal."


"Innalilahi wa innailaihi Raji'un, semoga kak David dan keluarga diberikan ketabahan."


"Aamiin, David terbang tepat setelah perlombaan usai. Waktu itu sopir suda menjemput dia tetapi dia memohon untuk menemui mu terlebih dahulu Ze."


"Begitu ya kak rupanya. Lalu kapan kita kira kak David akan pulang?"


"Mungkin Sabtu atau Minggu."


"Ya sudah kalau begitu, Terimakasih kak Kelson."


"Sama sama Zeana."


Kelson meninggalkan Zeana sendirian. Zea bingung sekaligus kasihan dengan David.


Dia kemudian mengirimkan pesan singkat kepada David.


Massage


Kak David


πŸ“±:"Hai kak David. Aku turut berdukacita atas kepulangan kakek kakak. Semoga beliau diterima di sisi Tuhan yang paling aman. Semoga keluarga juga diberi ketabahan hati dan keikhlasan. Semangat kak David 😚."


Namun sayang, pesan Zeana belum juga di balas oleh David.


Satu hari berlalu masih belum juga ada balasan dari David. Zea pasrah menanti jawaban David akhirnya dia pergi ke desa bersama ibu.


Hari itu Sabtu, Zea akan pergi ke desa bersama ibu. Aslan dan Fadlan akan menyusul setelah urusan mereka selesai.


Fadlan mengantarkan ibu dan Zea sampai di terminal bus. Sesampainya di desa Zea sangat senang berada di desa. Kebun kakek dan Nenek yang luas dan hijau. Udara sejuk di desa membuat Zea sangat bersemangat.


Sesampainya di rumah nenek, Zea langsung menuju kebun di belakang rumah untuk bermain di kebun.



Desi, saudara Zea memotret Zea yang tengah tersenyum di kebun bermain disana.


Setelah selesai, Desi menunjukkan foto tersebut kepada Zea.


"Ze lihat kamu kaya anak kecil lihat, main di kebun aja senyum kaya dikasih mobil," goda Desi.


"Masa sih Des, coba lihat."


Desi menyodorkan ponsel miliknya menunjukkan hasil fotonya. Zea tersenyum melihat hasil foto yang bagus kemudian Zea berniat mengirimkan nya di Inst*g*am.


"Minta Des, mau aku posting ke Inst*gr*m."

__ADS_1


"Ya udah aku kirim via tel*gr*m ya."


"Makasih Desi cantik," puji Zea.


__ADS_2