Missing You : David

Missing You : David
29 Menginap?


__ADS_3

"Kak," panggil Zea di depan pintu kamar Aslan.


"Apa dik?" jawab Aslan keluar kamar.


"Kenapa pulang duluan?"


"Ya biar kamu berduaan to sama David."


"Bohong. Ayo ngaku?" tanya Zea dengan raut wajah menelisik.


"Ngga emang gitu adanya kok. Kamu pulang jam berapa?"


"Baru aja, David ada di rumah kak ayo turun."


"Oh kesini dia.Ya udah ayo turun."


"Duluan aja aku mau bersih bersih dulu."


"Oke, duluan ya."


Zea pergi ke kamar untuk membersihkan diri, sementara Aslan turun ke bawah menemui David.


"Halo bro," sapa Aslan kepada David.


"Hai kak."


"Sini As," ajak bapak.


Ibu datang membawa gelas tambahan untuk Aslan berisi teh hangat dan makanan ringan. Aslan duduk di samping David dan berbincang dengan bapak dan David.


"Tumben Vid?" tanya Aslan.


"Iya kak tadi pulang sama Zea sekalian mampir."


"Bapak yang ajak tadi."


"Owalah, gimana tadi Zea?" tanya Aslan.


"Lancar, Zea dapat posisi kedua. Sebenarnya bisa jadi yang pertama tapi di akhir pertandingan kehabisan amunisi jadinya dibunuh musuh."


"Alhamdulillah," ucap Bapak.


"Syukur Alhamdulillah," tambah Aslan.


"Nak David gimana ujiannya?"


"Ujian apa to pak?'


Ibu sibuk berkutat di dapur dengan sayur dan sambal di dapur untuk makan malam. Sebelum mereka datang, ibu memang sudah memasak untuk mereka. Tapi ternyata ada tambahan tamu yang datang ke rumah.


Zea datang ke dapur setelah selesai mandi dan berganti pakaian. Sebelum menghampiri ibu, Zea menyusul ke ruang tamu untuk melihat keberadaan David.


"Kak?"


Ketiga ora yang tengah duduk di ruang tamu menoleh ke arah suara tersebut.


"Apa Ze?" jawab Aslan.


"David mana?" ucap Zea yang sambil mengucir rambutnya tidak memperhatikan orang orang di depan.


"Ini lhu David mu," jawab bapak sambil menepuk pundak David yang duduk di samping.


David tersenyum malu mendengar ucapan bapak.


Zea langsung menatap serius ke arah sumber suara. Ternyata memang benar seseorang yang di carinya tengah duduk di kursi bersama bapak dan kakaknya.


"Iya pak iya," jawab Zea sambil tersenyum malu.


"Lha kenapa nyariin? Takut ditinggal pulang?Siapa suruh lama hu," ucap Aslan.


"Ya kan aku mandi dulu kak."


"Gaya banget, biasanya juga mandi lama sehari sekali hu."


"Ih apaan bohong."

__ADS_1


David mencoba menambahi godaan Aslan agar Zea semakin marah dan gemas ketika kesal.


"Astaga, sehari sekali mah parah itu kak ckck," ucap David.


"Ngga!" jawab Zea mulai kesal.


"Iya Vid parah dah tahu perawan juga adik mah parah," tambah Aslan.


"Nggak ya, nggak gitu aku tu," jawab Zea semakin kesal.


"Haha," Aslan dan David tertawa bersama melihat muka Zea yang tengah marah terlihat sangat menggemaskan.


"Dah dah kalian itu godain Zea aja. Kamu bantu ibu ke dapur aja Ze," pinta Bapak.


"Iya pak," jawab Zea bersamaan dengan memalingkan wajahnya dari David dan Aslan.


David terdiam, dia takut jika Zea akan benar benar marah hanya karena ucapannya tadi.


"Kalau dia marah beneran gimana kak?"


"Santai Vid, Zea mah susah marah orangnya."


"Benar nak David tenang aja, Zea tahu kok kalian cuma bercanda."


"Syukurlah pak."


****


Di Dapur


"Bu," panggil Zea yang turun dan menghampiri ibu untuk membantu.


"Iya Ze."


"Ze mau bantuin Bu."


"Ya udah sini, siapin piring aja Ze."


"Oke Bu siap."


"Kamu udah mandi Ze?" tanya ibu sambil mengaduk ayam di wajan.


"Pantes lama."


"Ih ibu bener bener," jawab Zea kesal.


"Halah Ze digoda aja merajuk."


"Ngga tu, oh iya tadi kak Aslan pulang sama siapa Bu?"


"Tadi diantar Dilan kayaknya."


"Owh kak Dilan, terus kakak ada cerita apa gitu ngga Bu?"


"Ngga ada itu."


"Sama sekali ngga ada?"


"Nggak ada Zea, emangnya kenapa?"


"Hm nggak kok Bu cuma penasaran aja."


"Owalah, yaudah kalau udah selesai panggil bapak sama yang lain ayo makan."


"Siap Bu, tapi kak Fadlan gimana Bu?"


"Tadi pagi bilang kalau dia nggak pulang hari ini ada acara di luar kota."


"Owalah yaudah, Ze panggil yang lain ya Bu."


"Heem cantik, udah sana panggil mereka."


Zea berjalan ke arah ruang tamu memanggil bapak dan yang lainnya untuk makan.


"Makanannya sudah siap, mari makan," ajak Zea.

__ADS_1


"Alhamdulillah," jawab bapak yang berdiri pergi ke dapur.


"Asik makan," jawab Aslan yang di susul ngibrit ke dapur.


David berdiri pelan dan menatap Zea lekat.


"Kenapa?" tanya Zea.


"Kamu marah sama aku?"


"Nggak, marah kenapa?"


"Gara gara tadi."


"Tadi yang mana?"


"Waktu aku sama kak Aslan godain kamu."


"Astaga, nggak kok."


"Bohong ya," ucap David dengan muka memelas.


Dia takut jika Zea benar benar marah karena ucapannya tadi.


"Jujur ganteng ku, aku nggak marah. Dah ayo makan," ajak Zea sambil menyeret tangan David.


Mereka berdua berjalan menuju ruang makan dan makan malam bersama anggota keluarga lainnya.


Setelah selesai makan, David pulang ke rumah. Sebelumnya ibu dan Aslan meminta David untuk menginap dan tidur di kamar Aslan. Tetapi David menolak dengan alasan ada anak anak lainnya di rumah, dia tidak enak jika tuan rumah tidak ada saat yang lain sedang di rumahnya.


Padahal sebenarnya karena David tidak enak mengiyakan permintaan itu. Dia takut jika tetangga desa Zea akan memandang Zeana sebagai wanita yang bar bar jika sampai ada lelaki main dan tidur di rumahnya. Karena sebelumnya, ketika David sering menjemput Zea untuk berangkat ke sekolah bersama ada tetangga yang tengah membeli sayur mengatakan bahwa, "anak perawan kok sering keluar sama cowok. Nggak takut itu apa bapak ibunya."


Padahal jelas sekali bahwa sering David melihat anak perempuan lain di bonceng lelaki di lingkungan itu. Tetapi entah mengapa mereka menilai Zea begitu. David hanya tidak ingin jika nantinya kekasihnya di serang oleh ibu ibu lamb*r ny*nyir itu.


"Ya sudah nak David, hati hati pulangnya," ucap ibu Zea.


"Baik Bu, Terimakasih banyak untuk makan malamnya. Saya pamit dulu, assalamualaikum."


"Waaalaikumsalam."


David pulang menggunakan ojek online yang dipesan Zea tadi menggunakan akun miliknya. Setelah selesai berdebat dan memutuskan untuk pulang, maka Zea memesankan ojek online untuk David dengan alamat rumah David.


David bilang ada hal yang ingin di lakukan di rumah.


Padahal karena David tidak mau membuat Zea membayar mahal karena Zea membayar dengan saldo g*pay miliknya.


Setelah David pulang, anggota keluarga lainnya masuk ke dalam rumah kembali. Zea pergi ke kamar untuk mengambil amplop yang disiapkan tadi.


Kemudian Zea turun kembali ke ruang tengah untuk duduk bersama dengan anggota keluarga lainnya.


"Nonton sinetron aja pak," ucap ibu.


"Ndak bisa, bapak mau lihat berita dulu."


"Berita terus pak, ibu mau nonton sinetron nanti ketinggalan."


"Dah dah jangan berebut Pak Bu," ucap Aslan sok sok an menengahi.


"Hilihh," potong Zea.


"Apa sih dik," jawab Aslan.


"Gapapa. Bu, Pak ini Zea tadi ada uang dari hadiah lomba tadi, beberapa ada gang Zea simpan."


"Astaga, nggak usah nduk. Di simpan untuk keperluan mu saja," ucap Bapak.


"Bapak benar, Zea simpan saja. Kalau mau buat beli sesuatu ya dibeli tapi sebaiknya ada yang disimpan ya nak. Kamu juara bapak ibu ikut senang, hadiahnya buat kamu saja kan kamu juga yang usaha," ucap ibu lembut.


"Bapak, Ibu bener dik. Di simpan buat keperluan adik saja."


"Nggak kak, adik udah simpen. Ini buat Bapak sama Ibu. Jumlahnya nggak banyak, tapi Ze mohon diterima Pak, Bu," ucap Zea memelas.


Ibu yang tak tega kemudian datang menghampiri Zea sambil memeluk. Dia terharu dengan niat baik anak bungsunya itu.


Bapak kemudian mengangguk untuk menerima uang pemberian Zea tersebut.

__ADS_1


Zea senang dapat memberi uang kepada orang tuanya walaupun tidak sebanyak dan sebanding dengan apa yang bapak dan ibunya berikan kepada Zea.


____________________


__ADS_2