Missing You : David

Missing You : David
30 Ujian Hidup


__ADS_3

Menit berganti jam, waktu berlalu begitu cepat tidak terasa. Hari berganti Minggu, Minggu berganti menjadi bulan. Hingga tiba akhirnya pada hari ujian hidup bagi anak kelas 12.


Hari Ujian Nasional telah tiba bagi kelas 12. Ujian ini dijadikan penentuan mereka diterima oleh perguruan tinggi selain dari nilai raport dan ujian tertulis yang diselenggarakan masing masing perguruan tinggi. Memang bukan dijadikan dasar penentuan kelulusan tetapi nilai dari ujian nasional dijadikan tolak ukur kemampuan setiap siswa secara ranges nasional atas kemampuan belajar mereka selama 3 tahun di sekolah menengah.


Zea tidak masuk karena sekolah di liburkan pada saat ujian nasional agar satu sekolah khusus hanya untuk mereka yang tengah ujian nasional.


Sebelum hari ujian, Zea datang ke tempat David membawakan makanan sekaligus memberi semangat untuk David. Sebenarnya dia ingin sekali menunggu David ketika tengah ujian.


Drt


Ponsel David berbunyi tanda ada sebuah pesan masuk.


"Coba lihat di depan pintu," tulis Zea dalam pesan tersebut.


David yang melihat isi pesan tersebut langsung berlari ke depan. Ternyata benar ada seseorang yang tengah mematung di depan pintu.


"Kok datang ngga bilang?" tanya David yang melihat Zea mematung di depan pintu.


"Nggak surprise dong jadinya kalau bilang," jawab Zea sambil tersenyum manis.


"Ya udah ayo masuk. Itu bawa apa sayang kok banyak?"


"Ibu masak opor sama gudeg, suruh bawain buat anak indekost biar tetep keurus."


"Ututu sayang, makasih ya. Bilangin ke ibu makasih maaf ngerepotin."


"Ngga repot sama sekali kok, bilang aja ke ibu langsung."


"Hm ngode biar aku main ke rumah ya?"


"Hmm," jawab Zea dengan muka sok berpikir keras.


"Apa?" tanya David.


"Bisa iya bisa ngga hihi," jawab Zea sambil tertawa kecil.


"Duh duh gemes, iya besuk main kalau udah selesai ujian ya. Dah yok masuk dulu cantik."


"Iya ganteng."


Zea masuk ke dalam rumah mengekor di belakang David. David tersenyum lebar melihat tingkah Zea yang sangat menggemaskan. Datang ke rumah dengan membawa kotak makanan yang sangat banyak. David menaruh makanan itu di dapur dan memanggil teman serumah untuk makan makanan yang dibawakan Zea. Mereka yang sibuk bermain game di ruang tengah hanya mengiyakan ajakan David.


David mah penting bisa mbucin sama Zea. Mereka pergi ke dapur untuk makan bersama.


"Udah makan cantik?" tanya David bersamaan dengan mengambil piring di rak.


"Udah."


"Kapan?"


"Tadi pagi."


"Makan lagi ya," pinta David.


"Nggak mau."


"Ya udah aku juga nggak makan kalau ngga bareng kamu."


"Hm," jawab Zea dengan tatapan sadis ke arah David.


"Gimana?" tanya David.


"Iya makan iya."


"Nah gitu kan cantik," jawab David.


"Sepiring mau yang?"


"Mau banget."


"Ya udah ayo makan bawa sendok dua ya."


"Siap nyonya."


Mereka berdua makan dengan tenang di dapur. Sepiring berdua dengan lauk penuh menutupi piring. David makan dengan lahap begitu pula dengan Zea.


Setelah selesai makan, Zea mencuci piring. Tadinya David yang ingin mencuci tapi Zea memaksa.


Dengan senang hati eh berat hati maksudnya πŸ˜‚, David mengizinkan Zea yang mencuci piring. Ketika Zea sedang mencuci piring, David mengambil ponsel Zea dan rupanya ada wallpaper foto dirinya di ponsel milik Zea.


"Bucinku," ucap David.


"Apa?" tanya Zea.


"Nggak cantik, udah belum?"

__ADS_1


"Udah kok."


"Ya udah ayok ke halaman belakang."


"Ngapain?"


"Nemenin aku e


belajar lah."


"Tapi nanti pulang anterin ya."


"Siap nyonya."


David dan Zea pergi ke halaman belakang untuk belajar. Di sana ada gazebo di dekat kolam ikan milik David.


******


D-Day


"Kepada peserta ujian nasional di mohon untuk memasuki ruang ujian dengan tertib."


"Bismillah," batin David dalam hati.


Ujian berlangsung seperti biasanya. Tenang dan sunyi. Guru pengawas dari sekolah lain yang mengawasi. Ujian berlangsung dengan menggunakan komputer jadi peserta hanya perlu mengklik option jawabmu yang tertera di layar komputer.


Seminggu berlalu ujian Nasional berlangsung. David tidak pernah mengabari Zea selama


*****


Rumah Zea


"Adik," panggil Aslan berteriak.


"Apa?"


"Ya nyamperin dong kalau dipanggil."


"Baru ngerjain tugas."


Aslan berdiri menghampiri Zea untuk memastikan apa yang sedang dikerjakan oleh adiknya itu.


"Lagi ngapain sih dik dipanggil juga."


"Ada yang main ke rumah nyariin kamu."



"Bentar kak, tugasku belum selesai."


"Deadline kapan emang?"


"Minggu depan."


"Oh masih seminggu dong."


"Heem."


"Ya udah buru keluar gih"


"Tugasku belum selesai kakak. Emang siapa sih yang datang?"


"Ada David tu di depan," ucap Aslan polos.


"Apa?," jawab Zea sambil berteriak.


David yang datang padahal dia baru selesai ujian kemarin, tetapi sudah datang ke rumah.


"Apa karena aku marah tadi malam ya?" batin Zea dalam hati.


Zea yang penasaran memilih meninggalkan laptop dan berlari ke depan dengan langkah cepat untuk memastikan.


"Sayang," panggil Zea ketika melihat David mematung di depan pintu.


"Iya sayang."


"Kamu," ucap Zea sambil menunjuk David.


"Iya aku, kenapa cantik?" tanya David.


"Kesini karena masalah tadi malam ya?"


"Bukan kok cantik pengen ketemu Bapak, Ibu sama kamu."


"Alasan," jawab Zea sambil mematung dengan muka bersalah.

__ADS_1


"Nggak kok cantik, ini main karena kangen doang," jawab David sambil mengelus rambut Zea.


"Ya udah ayo masuk dulu."


"Oke."


David mengekor di belakang Zea sambil menenteng papper bag berisi makanan dan beberapa jenis bahan makanan.


"Kamu bawa apa?" tanya Zea.


"Makanan buat kamu."


"Banyak banget."


"Nggak banyak kok. Bapak, Ibu kemana?"


"Owalah, Bapak sama Ibu ke desa kemarin sore."


"Jadi kamu di rumah cuma sama kakakmu?"


"Ada mbak Desti kok, baru keluar sama mas Fadlan."


"Owalah, mbak Desti siapa Ze?"


"Tetangga rumah sebelah Vid," jawab Aslan.


"Nginep disini?"


"Iya, nemenin Zea biar nggak ganteng sendiri di rumah."


"Ih kakak, ganteng apanya cewek tu cantik bukan ganteng."


"Iya nyonya, maafkan saya," jawab Aslan bersamaan dengan menangkup kedua tangannya membentuk maaf.


"Dih ngga niat," ucap Zea.


"Kamu kenapa sih Ze kok kaya lagi PMS," ucap David.


"Nggak lagi PMS kok, cuma lagi malas aja sama dia," jawab Zea menunjuk ke arah Aslan.


"Wah parah manggil kakaknya dia wah wahh," ucap Aslan.


"Udah lah kak jangan di ganggu Zea nya."


"Haha, gemes lihat dia marah Vid."


"Emang bener sih gemes lihat dia marah."


"Dah serah deh," ucap Zea berlalu ke dapur.


David berdiri dan mengekor di belakang Zea sambil membawa papper bag yang dibawanya tadi.


"Kamu ngapain?" tanya Zea.


"Ikutin kamu, nih disimpan dulu yang."


"Makasih ya maaf repotin."


"Nggak kok."


"Iya, mau minum apa?"


"Air putih aja deh."


Sontak Zea menoleh ke arah David dengan raut wajah kaget.


"Serius?" tanya Zea memastikan.


"Iya air putih aja."


"Ya udah ngirit gula haha," jawab Zea.


Zea menaruh bahan makanan yang dibawa David di rak atas dan menyimpan. Sementara roti dan camilan yang di bawa David dipotong dan ditaruh di piring untuk di bawa menghampiri Aslan.


David membantu Zea membawakan makanan sementara Zea membawakan minuman.


"Dih Vid, bucin kamu sama Zea," ucap Aslan.


"Biarin sirik," potong Zea.


"Haha udah udah. Aku seneng kok gini."


"Syukur deh kalau gitu."


_________________________________

__ADS_1


__ADS_2