
Zea dan Harry kini berada di tempat makan daging panggang atau lebih tepatnya tempat barbeque. Harry memesan satu set komplit daging sapi dan juga hot pot mala pedas untuk Zea. Zea terlihat frustasi tapi dia memilih terdiam.
"Kenapa kamu belum pulang semalam ini?" tanya Harry penasaran.
"Banyak pekerjaan."
"Zea," panggil Harry sembari memanggang daging.
Zea menatap ke arah Harry dan tidak bisa berbohong lagi. Dia memilih menjawab alasan dia pulang malam.
"Aku harus lembuh, karena ada kesalahan tadi siang. Manajer divisi memberi ku tugas untuk membuat proposal show yang menarik dan cocok untuk menjadi konsep berita cuaca selama musim ini."
Zea menenggak alkohol di depannya dan kembali tertunduk.
"Kamu tidak perlu memaksakan diri Zea, bakat mu banyak dan kamu berhak memilih apapun yang kamu inginkan."
"Termasuk mundur?" tanya Zea.
"Mundur dari pekerjaan yang sudah aku capai susah payah selama ini?" tambah Zea lagi.
Harry terdiam dan meletakkan daging di mangkuk Zea.
"Tugas dalam pekerjaan adalah tanggung jawab. Bagaimana kita menyelesaikan itu disebut profesionalitas. Tapi, kamu kira dengan bersedih seperti ini pekerjaan mu akan maksimal?" kata Harry.
"Tidak Zea. Kamu hanya akan mengacaukan segalanya," tambah Harry lagi.
Zea menatap ke arah Harry lagi. Harry masih sibuk memanggang dan berkata kemudian.
"Pekerjaan yang dijalani dengan sepenuh hati akan berjalan dengan baik. Mungkin kesalahan itu hadir karena respon diri yang sudah lelah."
"Berhenti menyesali diri, sekarang makan dan kembalikan nutri tubuh dan istirahat. Esok pekerjaan mu pasti akan lebih maksimal."
Zea tersenyum ke arah Harry. Dia juga merasa apa yang dikatakan Harry ada benarnya. Dia membuat kesalahan karena kurang fokus. Itu juga terjadi karena dirinya kurang beristirahat saking sibuknya setiap hari.
"Aku setuju, mari makan," ajak Zea sembari tersenyum.
Keduanya pun makan dan menikmati makanan yang mereka pesan. Keduanya juga bercerita sembari makan.
***
Setelah makan, keduanya kembali ke kantor dengan keadaan Zea yang lumayan mabuk dan Harry yang masih segar.
"Aku antarkan pulang ya," pinta Harry.
"Tidak usah, orang mabuk jangan menyetir. Aku akan mengambil tasku dan pulang dengan taksi online."
"Baiklah kalau begitu."
Harry masuk ke rumah sakit dan Zea berjalan ke kantor. Kantor masih ramai karena banyak divisi yang sedang lembur dan masih ada yang syuting berita exclusive di jam segitu.
"Zea, ada seseorang yang menitipkan Bungan dan surat ini untuk kamu," kata Yessi seorang pembawa berita cuaca sekaligus teman magang satu angkatan Zea dulu.
"Oh, perempuan?."
__ADS_1
"Bukan, dia laki -laki."
"Baiklah kalau begitu, terima kasih Yessi."
"Sama-sama."
Zea lantas pulang dengan taksi online. Setelah sampai dirumahnya, dia mandi dirinya langsung tidur saking mengantuknya.
Keesokan harinya, karena hari ini dia cuti jadi dirinya bisa istirahat seharian. Tapi, tiba-tiba ponselnya berbunyi.
Drttt
"Halo," panggil Zea.
"Apa?."
Zea kaget bukan main. Dia yang masih tidur langsung bangkit dari tidurnya dan melihat di luar jendela.
"Apa yang kamu lakukan, Harry," kata Zea.
Harry berdiri di depan rumahnya menunggu Zea. Dia mengajak Zea untuk bangun dan berlari di pagi hari. Setelah berdebat, dia akhirnya memutuskan untuk pergi bersama Harry.
Zea kembali memastikan keadaan Harry dari jendela kamarnya dan mengumpat pelan.
"Dasar nakal," katanya kemudian mematikan telepon.
"Memang kamu libur?" tanya Zea.
"Iya, aku libur hari ini."
"Yaaa," teriak Zea di dalam mobil.
"Ada apa?" tanya Harry.
"Harusnya kamu beristirahat saat libur. Kenapa malah menganggu ku. Dasar," kata Zea kesal. Namun, Harry tetap hanya tersenyum.
****
Setelah beberapa putaran, Harry mengajak Zea pergi ke laguan di depan pelabuhan. Disana teduh karena banyak vegetasi dan view indah laut dan jembatan diatasnya. Terkadang juga ada pesawat terbang rendah di atasnya.
Tiba-tiba, ketika keduanya tiba disana.Zea melihat sosok yang tidak asing. Laki-laki berparas tampan dan postur tubuh yang tidak asing itu berdiri sendiri di sana.
"David," gumam Zea ketika melihat David.
Harry menatap ke arah Zea. Zea yang ada disampingnya terlihat kaku, kaget dan tidak bersuara lagi.
"Ayo pergi," ajak Zea kemudian. Dia langsung memalingkan wajah dan meninggalkan David. Harry juga setuju dengan itu semua.
"Zea, tunggu," panggil David.
__ADS_1
David berjalan cepat dan menghentikan langkah Zea dengan tangannya sendiri. Zea terhenti dan tidak menoleh sama sekali. Masih dengan posisi menggenggam pergelangan tangan Zea, David beralih ke depan Zea dan menatapnya.
"Bisa kita bicara sebentar?."
"Lepaskan," perintah Harry sembari meraih tangan David dan mencengkram erat tangannya.
"Jangan menganggu kami. Ada hal yang ingin aku bicarakan dengan Zea."
"Pergi David," kata Zea kemudian.
David kaget, dia memilih melepaskan tangan Zea dan mematung di depannya.
Sebuah suara wanita terdengar mendekat dan memanggil nama David.
"David."
"David, kamu dimana?."
Wanita itu berjalan mendekat dan dia berdiri di depan Zea.
"Zea," sapa wanita itu yang tidak lain adalah Maya.
Melihat Maya bersama David, luka di dadanya rasanya pedih kembali. Dia merasa kesal dan pergi meninggalkan keduanya. Sementara itu, Harry berlari mengejar Zea. Sepanjang perjalanan keduanya berdiri diri, tanpa berbincang dan biasa saja.
Harry merasa bahwa tidak tepat bertanya saat ini. Namun, semua ekspresi yang ditunjukkan oleh Zea menunjukkan jelas bahwa orang itu pernah berarti di hidupnya.
Bahkan, ketika tiba dirumah. Zea hanya turun dan mengucapkan terima kasih. Harry yang paham juga memilih kembali pulang.
"Hei, ada apa?" tanya Emily yang melihat raut wajah Zea sangat kusut.
"Aku benci ini semua," katanya kemudian.
"Kenapa? Harry mengusik mu?."
Zea kemudian menyentuh dadanya yang terasa pedih dan menangis kencang meraung ruang di ruang tamu. Dia seperti anak yang sedang tantrum. Menangis dalam pelukan Emily dan terus meronta-ronta memukul dadanya dan mengatakan sakit. Emily baru kali ini melihat Zea seperti ini.
Setelah lelah menangis, Zea tertidur dalam pelukan Emily. Emily yang khawatir, setelah memberikan selimut dan menempatkan bantal di bawah kepala Zea pergi ke kamar dan mengambil telepon.
"Halo Harry. Bisakah kamu bercerita apa yang terjadi tadi?."
"Apa maksudnya, Lili?."
"Zea menangis kencang seharian, dia seperti orang yang baru saja kehilangan orang tersayang nya."
Harry terdiam sejenak dan tidak menjawab.
"Tadi dia bertemu David, aku juga tidak tahu siapa dia."
"****, dia cinta pertama dan luka lama Zea."
Emily lantas mematikan panggilan itu dan Harry masih syok karena mendengar jawaban Lili. Wanita yang dia suka, masih mencintai laki-laki di masa lalunya. Jika lukanya sangat dalam, apakah mungkin sembuh hanya dengan Harry saja.
Bimbang dan gelisah, Harry memilih mencari tahu siapa mantan kekasih Zea.
__ADS_1