Missing You : David

Missing You : David
Memutuskan


__ADS_3

Zeana berhenti menangis dan menatap kearah bu dokter Sarah.


“Tidak masalah menangis, tidak apa-apa bersedih tapi jangan pernah membiarkan hal itu menghadirkan hujan dan badai yang tidak reda-reda dalam hidupmu. Tinggalkan beban yang memang dirasa berat dan coba mengerti keadaan, jalani yang ada di depan mata Zea,” ucap Bu Sarah seraya mengelus rambut Zeana.


 Hiks hiks


Zea tidak bisa menahan air mata yang sudah tidak bisa terbendung lagi. Air mata turun bagaikan air terjun Nirwana.


“Bu, sebe..ben..arnya,” ucap Zea terbata-bata sambil sesenggukan menangis.


“Sudah Zea, tidak perlu dijelaskan. Ibu paham lebih baik kamu istirahat dulu. Ingat ya kata-kata ibu, mental yang sehat akan mendukung sistem kekebalan tubuh yang baik. Jadi, jangan sampai imun mu turun karena sedang sakit hati.”


“Terima.. kasih.. bu.”


“Sama-sama, kamu istirahat saja nanti ibu akan minta salah satu pegawai tata usaha untuk membuatkan teh manis untuk kamu, semoga segera membaik ya Zea,” ucap Sarah sebelum pergi meninggalkan UKS.


Mita dan Vanessa masuk ke dalam UKS untuk memastikan kondisi Zea setelah bu Sarah keluar. Ketika membuka tirai UKS, nampak Zea sedang tertegun sambil memeluk kedua kaki dengan tangan. Zea seperti sedang merenungi nasib, memikirkan kesalahan apa yang membuaatnya sekalut itu. Meresapi kata demi kata yang terlontar dari Sarah, mencoba memahami bahwa hal yang dilakukannya saat ini kurang tepat.


“Kenapa kamu Ze? Kepala mu sudah tidak sakit,” tanya Mita.


 Zea mendongak kearah sumber suara seraya menggelengkan kepala pertanda menjawa tidak atas pertanyaan Mita. Lega dengan jawaban positif dari Zea bahwa dirinya sudah baik-baik saja, Mita dan Vanessa langsung duduk memeluk Zea.


“Semuanya akan baik-baik saja Ze, kita berdua selalu ada di sampingmu,” ucap Mita.


 Seperti mendapatkan semburan aura positif dari Mita dan Vanessa, Zea kembali bersemangat dan langsung berdiri.


“Kalian benar, ayo pulang,” ajak Zea.

__ADS_1


“Kamu yakin sudah baik-baik saja?” tanya Mita.


“Iya, aku baik-baik saja ayo pulang.”


Mita dan Vanessa merasa sedikit ragu, namun dengan senyum dan kata-kata tegas yang diucapkan Zea menunjukkan bahwa semuanya baik-baik saja. Lagi pula hari ini adalah hari ujian terakhir kalaupun dibuka pasti hanya sampai pukul 6 saja. Jadi lebih baik mereka segera pulang sebelum hari semakin gelap.


 “Kalian sudah keluar?” tanya Andrian yang berdiri di depan pintu masuk.


“Iya, jadi memberi tumpangan tidak Andrian?” tanya Mita blak-blakan.


“Tentu saja jadi, ayo mobilku ada di parkiran belakang.”


“Aku pulang sendiri saja, lagi pula arah rumah kita tidak sama, kalian berdua saja yang pulang bersama dengan Andrian,” ucap Zea.


“Tidak,” jawab Mita dan Vanessa kompak.


“Kompak juga ya kalian berdua,” goda Andrian.


“Benar kata Mita, kalau nanti dijalan kamu pingsan bagaimana? Siapa yang akan menolong?” ucap Vanessa.


Zea hanya terdiam. Sementara itu, Andrian bingung harus menyampaikan apa agar Zea mau diantarkan pulang. Sejenak berpikir keras kalimat apa yang akan diucapkan akhirnya Andrian terpikirkan sebuah kalimat.


“Laki-laki baik, tidak akan membiarkan gadis lemah sendirian. Kalimat ini bukan bermaksud bahwa kalian lemah atau tidak, tapi aku ingin menekankan bahwa aku adalah laki-laki yang baik yang memiliki hati nurani untuk tidak membiarkan kalian bertiga pulang dengan keadaan seperti ini. Selain itu, tenang saja Zea aku tidak akan mencari kesempatan untuk membuat masalah antara dirimu dengan David kalaupun ada masalah nantinya aku akan menjelaskan bahwa aku hanya berniat membantu saja.”


“Kamu sedang pidato ya Andrian,” ucap Mita.


“Entahlah, seorang Andrian mengucapkan kalimat sepanjang itu entah dia sedang sakit atau memang sudah berubah menjadi laki-laki baik,” sungut Vanessa.

__ADS_1


“Sudah kalian bisa tidak jangan menganggu momen, aku sedang serius membujuk Zea kalian malah bercanda,” ucap Andrian dengan nada sedikit jengkel yang menggemaskan.


“Ya sudah aku akan pulang bersama dengan kalian,” jawab Zea.


Setelah setuju untuk pulang bersama akhrinya mereka bertiga pulang dengan mobil Andrian. Mita duduk di depan di samping Andrian. Sementara itu, Vanessa duduk di tengah bersama dengan Zea. Suasana di dalam mobil sedikit canggung karena ketika mengemudi Andrian memilih untuk diam saja. Zea juga tidak bisa fokus hanya melihat kearah jam tangan miliknya.


“Oh iya, rumahmu di daerah mana Zea?” tanya Andrian.


“Kamu ikuti saja arah yang aku jelaskan Andrian jangan banyak bertanya kepada Zea,” jawab Mita tegas.


“Kenapa sih Mit, kan aku hanya bertanya saja habisnya kalian diam saja seperti sedang naik taksi saja.”


“Oh ku kira kau memang lebih suka mengemudi dengan sunyi makanya aku diam.”


“Betul sekali, dari tadi aku tidak bicara karena ku kira kau lebih suka sunyi daripada ada yang berbicara,” tambah Vanessa.


“Dasar perempuan, selalu memutuskan tanya bertanya terlebih dahulu,” ucap Andrian.


 Zea hanya diam saja tanpa berusaha untuk menyambung perbincangan tersebut. Lagi-lagi keadaan di dalam mobil mejadi sunyi karena tidak ada yang berbicara kembali. Zea melihat kearah jendela mobil. Di luar banyak sekali kendaraan lalu lalang melintasi jalan. Seorang gadis yang sedang dibonceng ayahnya kemudian seorang anak laki-laki yang duduk di depan bersama dengan seorang kakek laki-laki mengendarai motor pitung. Rasanya dunia hari itu berjalan normal dan baik-baik saja. Namun, dunia Zea serasa runtuh sesaat ketika dia melihat foto yang tidak ingin dia lihat. Dunianya runtuh, kepercayaannya hilang dan rasa kecewa berakar di hati kecil Zea. Namun, setelah melihat keadaan di sekitar hari ini, rasanya dunia baik-baik saja. Mungkin apa yang diucapkan oleh Sarah ada benarnya. Bersedih dan menangis adalah respon emosi dari tubuh tetapi jangan membiarkan hal itu menimbulkan badai dan hujan yang terus menerus. Hidup haru berlanjut karena masih banyak hal yang dapat diperjuangkan dalam hidup ini. Masa depan, prestasi, keluarga, sahabat dan masih banyak lagi alasan untuk tetap memperjuangkan kebahagian di dalam hidup. Putus bukanlah akhir sebuah dunia dan kehidupan, melainkan awal baru menuju fase pendewasaan diri.


Ketika hati sedang rapuh, seseorang boleh mengeluh dan bersedih. Tetapi tidak dalam waktu yang lama. Jangan meruasak diri dengan membiarkan emosi meracuni imun tubuh. Hidup begitu berharga untuk diperjuangkan. Begitu banyak kata-kata yang masuk ke dalam diri Zea sesaat ketika dia melihat ke luar jendela. Rasanya ribuan motivasi dan inspirasi baik membuncah di kepalanya.


 Dengan tersenyum manis dan memegang erat kedua tanganya, Zea menguatkan diri untuk terus bersemangat dan memperjuangakan hal yang layak untuk diperjuangkan.


“Aku sudah memutuskan,” ucap Zea tegas dan yakin.


 Semua orang di dalam mobil kaget dengan kalimat yang dilontarkan Zea dengan tegas tersebut. Terlebih lagi sedari tadi dia hanya diam saja tanpa bersuara.

__ADS_1


*********************************************************


Bersambung……..


__ADS_2