Missing You : David

Missing You : David
12 Latihan "Modal Dusta"


__ADS_3

David menghampiri Zea yang sedang berbincang dengan Cio.


Cio merasa bahwa tatapan mata David seperti tidak suka dengan dirinya. Cio yang peka kemudian memilih berpamitan pergi meninggalkan Zea.


"Oh iya Ze, aku ada rapat. Sudah dulu ya."


"Oh ya sudah kak. Sampai bertemu lagi," jawab Zea tersenyum manis.


"Tentu saja, daa."


Cio meninggalkan David dan Zea berdua. David sebenarnya penasaran dengan apa yang dibicarakan oleh Zea dan Cio. Namun apa boleh buat, dia tidak ingin terkesan terlalu mencampuri urusan pribadi Zea.


"Sudah lama Ze?"


"Iya kak, setengah jam yang lalu kira kira hihi."


"Astaga lama sekali, kamu dari tadi menunggu disini sendiri?"


"Iya tadinya, tapi kemudian Fahsan datang jadi kami menaruh peralatan terlebih dahulu di bagasi."


"Oh begitu, kamu sudah sarapan?"


"Sudah tadi dirumah, kak David?"


"Aku sudah makan kok."


"Anak anak mohon berkumpul," pinta pak Denis selaku pembina klub Memanah.


"Ayo Ze," pinta David.


Zea menurut dan mengekor di belakang David menunju kerumunan. Disana diberitahukan kegiatan yang akan dilakukan dan apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan disana. Anggota klub Memanah terdiri atas 25 murid dan 5 orang pembinaan. 4 orang pembinaan merupakan pelatih sekaligus guru SMA, sedangkan 1 orang adalah pembinaan kesiswaan.


Sebelum naik ke bus, para siswa diminta untuk berdoa terlebih dahulu.


"Aamiin, selesai."


Kemudian perjalanan di mulai. Zea duduk di dekat David. Sebenarnya itu adalah ulah Kelson. Kelson dan Alvin mengatur agar seolah olah seluruh kursi penuh dan hanya di samping David yang kosong.


Zea pun menuruti permainan Kelson tanpa curiga sama sekali. Dia duduk di samping David selama perjalanan. Perjalanan berlangsung selama hampir 2 jam. Zea tertidur pulas di samping David. Betapa gemasnya David melihat gadis itu tertidur di sampingnya.


"Astaga Ze, kamu ya di mana aja bisa tidur," gumamnya lirih.


Setibanya di resort, seluruh murid di minta turun dan cek in hotel.


Zea dibangunkan paling terakhir oleh David. Sebenarnya David tidak tega membangunkan Zea yang tertidur pulas tapi apa boleh buat. Tidak mungkin menunggu Zea bangun dan membiarkannya tetap tidur di dalam bus atau bahkan membopong Zea dari dalam bus. Setelah banyak pertimbangan, David menggoyangkan tubuh Zea untuk membangunkannya.


"Ze, bangun."


Zea menggeliat kecil kemudian membuka matanya. Rupanya David berada di depan matanya membangunkannya.


"Hm, iya kak?"


"Kita sudah sampai, ayo turun."


"Baiklah kak."


"Ya sudah sini pelan pelan."

__ADS_1


Zea turun dari bus terakhir bersama dengan David. Beberapa murid lainnya sudah menuju kamar masing masing.


Zea mendapatkan kamar nomor 207 yang terletak menghadap ke pantai tepat. Pemandangan pantai terlihat jelas dari kamar itu. Sedangkan kamar milik David berada di samping Zea.


"Ini kunci kamarmu Ze," ucap pak Denis menyodorkan kartu kamar Zea.


"Baik pak terimakasih."


"Ini milikmu David," menyodorkan untuk David.


"Terimakasih," jawab David.


"Baiklah sekarang kalian bisa ke kamar untuk mengganti pakaian dan kembali lagi kesini pukul 10.00," jelas Bu Anne.


"Baik pak," jawab Zea.


Zea dan David kemudian pergi menuju lift. Zea merasa aneh karena di lobi hanya mereka berdua dan dua orang pembina.


"Kenapa hanya kita kak? Anggota yang lainnya kemana?" tanya Zea polos.


"Oh mereka sudah turun lebih dulu tadi saat kamu masih tidur."


"Ha?" jawab Zea kaget.


"Kamu kenapa Ze?" tanya David heran.


"Bukan kak, bukan apa apa."


"Oh ya sudah ayo masuk pintunya sudah terbuka."


Zea merasa malu mengetahui bahwa dia tertidur sampai tertinggal rombongan.


David merasa aneh dengan gerak gerik Zea bertanya.


"Kamu kenapa Ze?"


"Ngga kok kak bukan apa apa."


"Yakin?"


"Heem, yakin banget."


"Oke, karena sudah sampai selamat beristirahat Ze. Sampai jumpa nanti di lapangan."


"Iya kak, sampai jumpa nanti."


Sesampainya di kamar Zea kagum bukan main dengan fasilitas resort yang mewah.


Entah mengapa Zea merasa sedikit aneh dengan fasilitas yang dinikmatinya. Kamar yang begitu luas dan mewan. Juga pemandangan indah di depannya, garis pantai yang terlihat jelas warna biru air laut yang sangat indah.


Setelah berberes baju sebentar dan berganti seragam, Zea menuju lobi untuk kembali bersama rombongan mengadakan latihan.


"Ze sini," panggil Elen.


"Iya," jawab Zea berlari menghampiri Elen.


"Baiklah karena semua sudah berkumpul sekarang mari kita segera menuju lapangan," pinta pak Denis.

__ADS_1


Semua anggota mempersiapkan peralatan masing masing. Papan sudah disediakan dan para pembina duduk disamping memperhatikan. Nampak Eka sedang berdiri mengenakan pakaian dengan peralatan memanah lengkap. Entah mengapa Zea merasa Eka sangat cocok dengan penampilan itu. Zea memuji Eka di depan Elen, tapi siapa sangka jika dibelakang Zea berdiri David. David merasa kesal mendengar percakapan Zea dan Elen. Entah mengapa hatinya tidak suka.



(sumber gambar: pinterest)


"Wow, lihat deh. Eka pas banget jadi atlet memanah. Postur sama warna kulitnya cowok banget," ucap Zea kepada Elen.


"Heem sih, Eka emang ganteng walau kulit sawo matang," tambah Elen.


"Ze, kedip ze," goda Elen.


"Apaan orang dari tadi juga berkedip kok," jawab Zea malu malu.


"Jangan jangan kamu suka ya sama dia hayoo hayoo," goda Elen lagi.


David yang gemas berlalu meninggalkan Zea bersama dengan Elen. Sebenarnya poin ini David harus dengar. Tapi sayang dia lupa diri karena terbakar api cemburu.


"Sebenarnya aku suka sama orang lain."


"What? Siapa dia Ze? Kelas mana?" tanya Elen kaget.


"Ya pokoknya ada, karena cuma aku yang suka sendiri kamu ngga usah tahu hihi," jawab Zea malu malu.


David menghampiri Kelson dan Alvin yang tengah berdiri di pojokan. Dengan raut wajah yang lesu langkah kaki David seperti anak kecil yang belum sarapan.


"Wihh tumben muka lu ditekuk gitu Vid," goda Kelson.


"Ada apa Vid, kenapa muka lu kaya gitu," tanya Alvin.


"Gapapa kok," jawab David acuh.


David kemudian berdiri di dekat Kelson dan mengenakan perlengkapan memanah miliknya.


"Gua curiga ada kaitannya sama Zea ya?" tanya Kelson.


"Jangan bawa bawa anak orang deh," jawab David ketus.


"Wihh santai dong bro, gua heran aja. Bukannya lu kan disini buat pdkt sama si Zea tapi kenapa muka lu ditekuk kaya gitu," jelas Kelson.


"Hm."


"Apaan sih Vid, orang harusnya lu tu bahagia ini kan latihan mode Modus loe. Lor harus semangat dong dapetin hatinya Zea."


"Ini juga semangat, sekarang latihan dulu," jawab David."


"Yaudah deh terserah kalian aja, gua berteduh dulu ya takut gelap," ucap Alvin bergaya


Memang Alvin bukanlah anggota klub Memanah tetapi entah mengapa dia ada di sini bersama dengan yang lainnya. Alvi memanglah seorang ketua OSIS tapi apa hubungannya.


Zea yang semula tidak terpengaruh dengan keberadaan Alvin mulai menerka nerka ketika Alvin berteduh.


"Kak Alvin kan bukan anggota klub terus ngapain disini?" tanya Zea kepada Elen.


"Kurang tau mungkin perwakilan dari OSIS kali."


"Oh ada ya yang kaya gitu," ucap Zea merasa bodoh.

__ADS_1


Tetapi sebenarnya di dalam hatinya menyangkal jawaban Elen. Sementara niat Zea untuk menelisik di urungkan terlebih dahulu. Dia memilih fokus dengan latihan hari itu agar hasil yang diperoleh memuaskan.


__ADS_2