
David menikmati setiap momen, ketakutan dan setiap cubitan Zea dalam balutan senyum. Dia merasa senang setelah lama berpisah, akhirnya keduanya bertemu dan bahkan berdekatan seperti hari ini. Setelah film selesai, Zea yang tadinya menutup mata langsung membuka.
“Sudah selesai rupanya,” celetuk Zea kemudian.
David hanya mengangguk, dan tidak menjawab.
“Omong-omong kenapa kamu bisa ada di sini?” tanya Zea.
“Aku ingin menonton, memang tidak boleh?.”
“Boleh, sana minggir aku mau lewat,” kata Zea sok dingin sekaligus mengusir David.
“Tunggu,” cegah David.
“Apakah kamu baik-baik saja?” tanya David yang melihat wajah Zea memerah.
“Iya, kenapa memang?” jawab Zea dingin. Dia memang merasa sedikit demam, entah kenapa dia merasa badannya sedikit panas. Ditambah mereka cukup dekat dengan pendingin ruangan, sehingga semakin dingin.
“Ayo Zea,” ajak Harry yang tanpa disadari sudah disamping Zea.
Zea mengangguk dan ikut mengekor di belakang Harry. David merasa kesal, tapi dia memilih menahan untuk marah. Hal ini dilakukan demi dirinya sendiri.
Sesampainya di luar bioskop, Emily masih menunggu Harry dan Zea di depan.
__ADS_1
“Kenapa dia masih di sini?” batin Zea kesal.
“Harry,” panggil Emily mendekat.
“Iya, ada apa?.”
“Aku tidak membawa mobil, bisakah kamu memberiku tumpangan pulang.”
“Sekarang kan banyak taksi dan juga era sudah canggih. Taksi online bisa di pesan hanya dengan menekan tombol pesan di ponsel pintarmu,” kata Zea.
“Aku malas, lagipula aku tinggal satu flat dengan Harry,” kata Emily kemudian.
Zea kaget, sejak kapan Emily memutuskan tinggal di apartemen. Bahkan di lokasi yang cukup jauh, karena jarak rumah Zea ke apartemen Harry sekitar 10 menitan. Otomatis jika ke kantor dari rumahnya yang sekarang cukup jauh dong.
“Ya kamu saja yang naik taksi Zea.”
Zea menatap ke arah Emily dengan tatapan dingin. Dia sudah cukup bersabar, mulai dari pekerjaan hingga Emily yang tiba-tiba berubah. Namun, kali ini cukup kelewatan. Emily yang menyarankan dia dekat dengan Harry, tapi justru dia yang sangat ingin mendapatkan Harry.
"Kamu kalau gatal, jangan lupa pakai salep.Biar nggak semakin kegatalan," celetuk Zea tiba-tiba.
Emily tersenyum dan berkata, "Wah lihatlah Harry, wanita yang kamu suka justru merendahkan wanita lain."
"Bukan aku yang merendahkan mu, melainkan dirimu sendiri yang merendahkan diri demi Harry."
__ADS_1
Keduanya saling menatap dan saling beradu tatapan sengit. Harry hanya bisa menghela nafas dan menggelengkan kepala.
"Sudah. Cukup bertengkar nya," kata Harry.
"Aku akan memesankan taksi untuk mu Emily, tapi maaf aku hanya akan pulang dengan Zea," kata Harry tegas.
Emily tidak menduga Harry akan berani mengatakan itu. Laki-laki yang dia kenal itu, cukup halus dan baik hati. Mengapa bisa berubah dalam sekejap?
"Mari Emily, kita tunggu di depan, " ajak Harry.
Tapi, Emily enggan dan langsung pergi meninggalkan mereka.
"Hei," teriak zea mengentikan tapi tidak digubris oleh Emily.
"Sudah Zea, biarkan saja."
"Bagaimana bisa, dia jelas jelas ingin mengganggu kita."
Harry langsung menyentuh pelan rambut Zea, mengelus pelan dan berkata, "Mungkin Lily sedang krisis kepercayaan diri. Jika, kita meninggalkan dia. Lantas siapa yang akan menjadi temannya? Jangan terlalu keras ya," kata Harry itu membuat Zea terdiam.
Semenjak Emily pergi dari rumah, Zea memang belum sempat menanyakan apa alasan dan bagaimana bisa. Mungkin saja jika apa yang Harry katakan benar. Maka, dia sebagai teman harus berusaha membantu Emily kembali ke jalan yang benar.
"Kamu jangan cemburu ya, aku tidak menaruh hati kepada Emily," kata Harry lagi.
__ADS_1
Zea tersipu dan mengalihkan pembicaraan.