
"Habis ini mau makan apa?" tanya David.
"Aku udah kenyang kok yang."
"Yakin? Boba?" tanya David.
"Udah kenyang kok."
"Ya udah kalau gitu."
"Iya, habis ini mau kemana?" tanya David.
"Mau pulang aja."
"Ya udah," jawab David dengan nada kecewa.
Setelah selesai makan, David mengantarkan Zea pulang. David sempat mampir untuk minum teh bersama Bapak dan kedua kakak Zea. Tapi hanya sebentar pasalnya David harus berlatih untuk turnamen bulan depan.
Zea yang sampai di rumah pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ketika dia turun David sudah pulang.
*********
"Lu kak, David mana?" tanya Zea kepada Aslan.
"Baru aja pulang, kenapa emang?"
"Ealah kok udah pulang to," jawab Zea dengan nada pasrah.
"Kenapa tadi nggak dicegat jangan pulang dulu gitu," goda Fadlan.
"Apaan sih kak," jawab Zea merajuk.
"Kalian itu, jangan ganggu adik mu."
"Siapa sih Pak, orang cuma ngomong apa adanya. Kalau adik nggak mau David pulang ya tadi disuruh nunggu dulu," jawab Fadlan.
"Setuju mas," tambah Aslan.
"Tumben manggil mas," ucap Fadlan.
"Gapapa mas," jawab Aslan sok cool.
"Serah kakak aja deh," jawab Zea pasrah.
"Bapak masuk dulu ya," pamit bapak sambil mengelus rambut Zea.
Zea menjawab dengan anggukan pelan. Bapak pergi ke rumah meninggalkan mereka bertiga di teras depan.
"Ujian mu gimana dik?" tanya Fadlan.
"Mulai Senin depan kak."
"Owalah bagus kalau gitu, kalau juara lagi kakak kasih reward."
"Beneran?" tanya Zea bersemangat.
"Iya benar."
"Lha gue juga mau bang," potong Aslan.
"Ikut ikut aja kamu As," jawab Fadlan.
"Iya nih ngiri ya," ucap Zea.
"Bukanya gitu, kan bagusnya sama sama adik ya harus sama sama dapat reward. Biar baik ya kan ya kan," bantah Aslan sambil nyengir.
"Hilih," ucap Zea.
"Ya udah buat kalian berdua nilai nya bagus dapat reward."
"Asik," jawab Aslan.
"Semangat bener kak," potong Zea.
"Iya dong, boleh request nggak mas?" tanya Aslan.
"Boleh tapi di budget, sisanya kalau kurang nambah sendiri."
"Yah sama aja dong," jawab Aslan lesu.
"Ya udah kalau gitu."
"Gimana gimana mas?" tanya Aslan bersemangat.
__ADS_1
"Tetap sama di budget sisanya nambah sendiri."
"Ya elah mas," jawab Aslan.
"Ya udah kali kak, syukur ada yang ngasih," ucap Zea.
"Iya ya dik, harus belajar ini."
"Benar kak, ayo belajar," ucap Zea sambil menarik sedikit lengan baju Aslan.
Aslan ikut bangkit dari duduknya mengikuti Zea masuk ke dalam untuk belajar.
Fadlan tersenyum lebar melihat semangat membara kedua adiknya demi reward.
"Semangat ya," ucap Fadlan.
"Siap bang," jawab Aslan dari dalam rumah.
********
D-Day
"Ze, udah siap belum?"
"Udah Bu, sebentar."
"Cepat, mumpung kakakmu belum berangkat biar bareng aja berangkatnya."
"Iya Bu, ini udah selesai Zea."
"Sarapannya sayang," ucap ibu lembut kepada Zea yang turun sudah lengkap berseragam dan menggendong tas.
"Minum susu aja sama bawa bekal."
"Ya udah," ucap ibu sambil memasukkan makanan ke dalam kotak makanan.
"Maknanya bangun pagi," ucap Aslan.
"Aku udah bangun pagi subuh udah bangun belajar sampai lupa jam makannya telat mandinya," sanggah Zea.
"Udah udah jangan ribut," potong Bapak.
"Ini bekalnya cantik," ucap Ibu.
"Bapak nanti harus nganterin pesenan ke desa Ze, sekaligus cek penginapan yang dibangun mungkin seminggu disana."
"Owalah, Ibu juga ikut?" tanya Zea.
"Nggak nak, ibu ngurusin rumah sama warung."
"Owh yaudah," jawab Zea tidak bersemangat.
"Dik," panggil Aslan.
"Dalem," jawab Zea.
"Jangan sedih to, Bapak itu kerja masa kamu mau ikut orang udah gede juga," ucap Aslan.
"Nggak kok," jawab Zea
"Ya udah, Ze nggak usah mikirin Bapak di desa kan ada saudara."
"Iya, bapak hati hati ya," ucap Zea.
"Pasti nak," jawab Bapak.
Setelah selesai menghabiskan makanannya, Zea berangkat bersama Aslan. Fadlan sudah lebih dulu pergi ke kampus karena harus mengajar kelas pagi.
Selama perjalanan, Aslan tidak banyak bertanya begitu juga Zea tidak banyak bercerita. Beberapa menit kemudian mereka tiba di depan gerbang sekolah Zea.
"Sudah sampai," ucap Fadlan di depan gerbang sekolah Zea.
"Makasih ya kak."
"Sama sama, kakak nggak nganterin pulang ya soalnya hari ini kelas malam.
"Oke kak, nanti Ze naik bus aja."
"Sipdeh da," ucap Aslan.
Zea mencium tangan Aslan sebelum masuk ke kamar halaman sekolah. Setelah melihat adiknya masuk ke sekolah, Aslan baru menghidupkan motornya pergi ke kampus.
...********...
__ADS_1
"Caca," panggil Zea melihat Zea di lorong depan ruangan ujian.
"Zeze," jawab Caca melambai ke arah Zea.
"Selamat pagi," ucap Zea.
"Pagi kembali cantik," jawab Caca.
"Tumben semangat?" tanya Caca.
"Harus dong, ujian harus semangat biar nanti lancar."
"Okedeh bund, oh iya nanti pulang bareng aku aja gimana?" tanya Caca.
"Kenapa emang?"
"Mama kangen kamu, pengen ketemu kamu."
"Tapi nanti dari rumah kamu ke rumahku naik bus lagi dong."
"Nggak, nanti aku pesenin taksi. Gimana?"
"Tante masak apa emang?"
"Haha, dasar Zea. Mama masak opor makanya kamu ditanyain."
"Oke pulang ujian kita kesana."
"Deal."
Ketika bel ujian berbunyi, mereka berdua masuk ke dalam ruang ujian. Mata pelajaran yang diujikan adalah Bahasa dan Matematika.
Ujian berakhir pukul 11 siang. Zea dan Caca pergi ke kantin untuk makan dan melepaskan unek unek diri untuk ujian yang dikerjakan tadi.
"Gimana Ca? Lancar?" tanya Zea sambil berjalan di samping Caca.
"Susah banget Matematika aku bingung."
"Lah, kok bisa kamu nggak belajar ya?" tanya Zea meragukan.
Pasalnya soal ujian yang keluar hari itu adalah soal soal latihan dan ujian harian yang sering dikeluarkan namun diganti angkanya. Modelnya sangat mirip.
"Ya belajar Ze."
"Terus kenapa nggak bisa?"
"Susah banget Ze."
"Kok bisa susah astaga kan modelnya sama kaya soal latihan sehari hari."
"Ga tau tapi susah Ze."
"Ya udah gapapa, besuk belajar lagi."
Caca mengangguk pasrah menjawab ucapan Zea. Dia memilih memesan es serut untuk mendinginkan kepalanya.
Gavin datang bersama rombongan duduk di bangku samping Zea. Banyak orang yang kagum dengan Gavin karena dia terkenal playboy dan anak orang kaya. Terlebih dia adalah anak klub basket, tapi tidak berlaku bagi Zea.
Zea tidak berpikir atau tertarik untuk melirik lelaki lain selain David. Gavin sudah sering mendekati Zea dengan modus modusnya tapi tetap saja Zea tidak peduli.
Kali ini Gavin datang membawakan jus jeruk dan roti ke arah Zea.
"Buat kamu," ucap Gavin sambil tersenyum.
"Tidak terimakasih, aku udah bawa bekal kok."
"Buat kamu Zea, ingat nggak boleh nolak rejeki."
"
Zea pasrah setelah mendengar kalimat terakhir Gavin. Caca juga memberikan isyarat untuk menerima makanan tersebut.
"Ya terimakasih," jawab Zea dingin.
"Sama sama Ze."
Gavin kembali duduk bersama teman temannya di bangku lain. Beberapa gadis menatap Zea dengan tatapan iri dan dengki. Zea merasa sangat tidak nyaman dengan tatapan itu mengajak Caca untuk segera pergi.
"Ayo," ajak Zea dengan suara berbisik.
"Iya ayo," jawab Caca.
Mereka berdua memilih pergi dari kantin daripada harus berlama lama mendapatkan tatapan mata jahat dari fans Gavin.
__ADS_1
_________________________________