
Terlambat
******
David langsung terdiam membeku ketika Denis mengatakan kalimat yang paling dibencinya. Dimana ada laki-laki lain yang diharapkan oleh Zea adalah hal yang paling dia benci. Cemburu jelas, David tidak suka orangnya diganggu oleh orang lain. Walaupun mereka sepakat untuk berpisah sementara, tapi bagaimana bisa Denis dengan mudahnya menyampaikan bahwa Zea tidak lagi ingin mendengar nama David di sebut.
“Jangan menghayal kamu Denis, tidak mungkin Zea seperti itu.”
“Aku tidak bercanda David, coba tanyakan pada Zea bahwa dia sama sekali tidak ingin mendengar nama mu disebut lagi. Atau bisa jadi kamu sudah tidak bisa menghubungi Zea lagi.”
David terdiam, dia mengingat kembali setelah mereka berpisah David memang tidak lagi membuka chat mereka berdua. Bahkan dia tidak berani membuka sosial media milik Zea karena takut akan menganggu Zea jika dia terlalu mengejar Zea yang sedang ingin istirahat. Tapi, bisa jadi itu adalah hal buruk dimana Zea akan menganggap dirinya sudah rela melepaskan Zeana pergi bersama dengan orang lain.
Pikiran negatif bercampur aduk di benak David. Memikirkan bagaimana jika benar Zea sudah memblokir dirinya. Jika iya, maka Denis tidak bergurau atas ucapannya hari ini.
“Kenapa diam saja David?” tanya Denis.
David menatap Denis dengan tatapan emosi seperti kucing yang merasa ikan miliknya diambil oleh tikus sudah diambil siap menyergap musuhnya kapan saja.
“Sudahlah David, relakan Zea dan biarkan kali ini aku yang menjaganya saja haha. Sudah dulu ya terima kasih atas minumanya aku pergi dulu.”
Denis pergi meninggalkan David setelah mengucapkan kata-kata yang ingin disampaikan.
“Tunggu,” kata David seraya bangkit dari sofa tempat dirinya duduk.
Denis menoleh ke arah David dengan tatapan bertanya-tanya apa yang ingin David ucapkan.
“Jangan terlalu bersemangat, ingat Denis bahkan ayam sekalipun tidak pernah lupa jalan pulang,” kata David seraya membisikkan di telingan Denis.
Raut wajah Denis terlihat kesal setelah mendengar kalimat yang diucapkan David. Tapi, bukan Denis jika dia menyerah begitu saja. Denis seraya berkata, “Kau tahu David, rumah yang kau kira rumah belum tentu akan jadi milikmu, bisa saja selama ini dirimu hanya menjaga milikku.”
David tidak terpancing dengan ucapan Denis yang membuat hatinya kesal itu. Dirinya lebih memilih berdiri dan berjalan meninggalkan ruang tamu seraya mengucapkan kalimat, “ aku tidak mengantarmu keluar pintunya ada di sebelah sana.”
David langsung pergi meninggalkan Denis sendirian pertanda bahwa dia mengusir Denis untuk tidak lagi berlama-lama di ruang tamu miliknya.
__ADS_1
Merasa sudah di usir, Denis langsung pergi meninggalkan rumah David menggunakan mobil miliknya. Hatinya senang bukan main sudah berhasil membuat hati David kesal dengan ucapannya. Rasanya ini adalah kemenangan yang tidak terduga setelah sekian purnama menanti Zea. Walaupun dia belum memulai untuk berperang mendapatkan hati Zea, setidaknya sekarang ada lampu hijau bahwa hati Zea bukan milik siapapun. Memang pada dasarnya, Denis kembali ke Negara ini dikarenakan dia memang berniat ingin mendapatkan hati Zea kembali.
****
Kali ini beda halnya dengan David yang bingung dan resah dengan ucapan Denis. Diambilah ponsel milinya yang tergeletak di samping komputer tempat dia latihan bersama dengan teman-temannya.
David menekan tombol angka 1 yang langsung terhubung dengan nomor seseorang. Setelah menunggu beberapa detik tidak ada jawaban. David langsung membuka chat dan mengirimkan pesan menanyakan kabar.
Mengirim pesan kepada Zeana dengan nama Bby
“Ze, bagaimana kabarmu sekarang?”
Namun, siapa sangka justru notifikasi bahwa pesan tidak terkirim dan pengguna telah membatalkan pertemanan. Hal ini adalah pertanda bahwa Zea sudah memblokir pesan miliknya. Hati David kesal bukan main, bagaimana tidak Denis yang tiba-tiba datang dan dengan sombongnya meminta dirinya menjauhi Zea ditambah lagi dengan Zea yang memblokir nomornya. Sungguh sebuah kesialan yang tidak mengenakkan hati di pagi hari ini.
“Fu*k,” umpat David karena kesal dengan keadaan ini.
Tidak kehilangan akal, David menghubungi Aslan menanyakan kabar Zea.
Setelah beberapa saat akhirnya Aslan mengangkat panggilan dari David.
“Halo kak, selamat pagi bagaimana kak kabarnya? Apakah Zea ada?”
“Hai Dav, aku baik kamu sendiri bagaimana. Tumben menanyakan Zea.”
“Sebenarnya kami sedikit ada masalah dimana Zea memilih untuk istirahat sebentar, tapi ketika aku mengirimkan pesan dia sudah memblokir kontakku kak. Aku ingin tahu bagaimana keadaan Zea dan dari awal kita sepakat hanya untuk berhenti sementara bukan berpisah. Bisa kau sampaikan kepada Zea kak aku mencarinya.”
Aslan terdiam dan memikirkan apa yang harus dia ucapkan karena adik perempuan miliknya meminta untuk tidak menyampaikan kepada David apa pun tentang dia. Tapi, dari nada suara David sepertinya dia sedang resah dan khawatir. Aslan bukanlah tipe yang suka ikut campur, tapi dia tahu pasti bahwa adik perempuannya itu masih sangat menyayangi Zea.
Dengan banyak pertimbangan akhirnya Aslan mengatakan hal yang ingin dia katakana.
“Maaf Dav, aku tidak bisa membantu masalah itu tapi satu yang pasti Zea akan pergi ke luar negeri. Dia berangkat hari ini dan jadwal penerbangannya pukul 11 siang.”
“Apa?Zea pergi keluar negeri kak?”
__ADS_1
“Iya Dav, kalau kamu mau ketemu mungkin sekarang masih sempat. Zea melarangku untuk mengatakan ini kepada mu tapi aku rasa lebih baik jika kalian menyelesaikan itu semua secara baik-baik.”
“Terima kasih kak, Zea penerbangan kemana kak?”
“Ini rahasia Dav, coba kamu pikirkan tempat yang ingin dia tuju.”
********
Tanpa menunggu lama, David langsung menghidupakan mesin mobil miliknya dan berkendara menuju bandara. Seperti sedang kerasukan pembalap mobil, David melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju bandara. Melewati jalan raya yang penuh dengan mobil lalu lalang.
“Zea tunggu sebentar aku datang,” gumam David pada dirinya sendiri.
Sesampainya di bandara David kebingungan untuk mencari dimana lokasi Zea, sementara sekarang sudah menunjukkan pukul 10.34. David berhenti sejenak sambil mengacak-acak rambutnya kebingungan dimana dia harus mencari Zea. Seketika dia teringat, jika Zea mendapatkan kesempatan dia sangat ingin melanjutkan kuliah di Universitas Teknik Internasional.
“Benar, pasti Negara Yin.”
Setelah mengingat tujuan yang mungkin akan dipilih Zea, David mencari tahu maskapai dengan penerbangan ke Negara Yin pukul 11.00. Setelah menemukan tujuan dimana dia akan menemukan Zea, David segera bergegas pergi menghampiri Zea. Berlari kencang seperti sedang mengikuti lomba lari cepat. David berlari dengan harapan masih dapat berjumpa dengan Zea.
Namun, sayang pukul 10:54 David hanya bertemu dengan kedua orang tua Zea yang berdiri di depan gerbang.
“Bapak, ibu Zeze mana?” tanya David dengan tatapan kosong dan wajah lelah karena berlari.
“Loh nak David, Zeze baru saja masuk. Kamu kenapa sepertinya habis lari-lari.”
“Saya terlambat rupanya, Zeze terlanjur pergi,” ucap David dengan wajah lesu dan sedih.
Bapak menepuk pundak David memberikan sinyal agar dirinya bersemangat seraya mengatakan, “ Zea hanya pergi kuliah dia pasti pulang.”
David hanya mengangguk mengiyakan ucapan Bapak Zea. Tapi rasanya hatinya tidak baik-baik saja. Ada pikiran panik dan perasaan campur aduk dalam diri Zea. Bagaimana tidak, gadis yang dicintai pergi tanpa berpamitan, memutuskan komunikasi dengan dirinya. Jika benar Zea pergi untuk menuntut ilmu kenapa harus menghindari David. Entah dia pergi untuk kuliah atau memang sengaja juga untuk menjauh dari David.
********************
Bersambung................
__ADS_1