
Selama talkshow berlangsung, Zea terlihat gugup di awal. Namun, mulai menguasai suasana dengan baik. Bahkan dia mendapatkan pujian dari staff dan kru syuting. Syuting talkshow juga lebih lama dari biasanya. Jika, syuting berita tidak sampai 1-2 jam, karena dia hanya khusus di jam tertentu. Kecuali ada berita exclusive yang mengharuskan Zea tampil di waktu dan lokasi syuting yang ditentukan. Maka, bisa jadi hanya beberapa menit saja. Sesuai dengan momen dan suasana yang akan di liput.
Namun, dalam talkshow ini. Zea menempuh waktu 3 jam. Ada sela dari beberapa scen. Hanya saja, setiap harinya biasa jadi bintang tamu yang diundang 3 atau lebih. Jadi, pada pelaksanaannya cukup lama. Belum lagi dipotong iklan yang lama. Sehingga, Zea cukup kelelahan kali ini. Dia juga mengantuk di 15 menit terakhir, karena semalam tidur cukup larut.
“Bagus Zea, untuk penampilan pertama mu kali ini cukup bagus,” puji Robert.
“Terima kasih,” kata Zea kemudian menundukkan kepala dan pamit. Dia pergi ke ruangan kerja nya setelah berganti pakaian yang semula dia pakai. Hari pertama yang dadakan ini, dia berganti pakaian yang dia siapkan di loker miliknya. Karena, semula dia berangkat dengan pakaian formal dan jas. Sementara tema talkshow yang casual mengharuskan dia berganti pakaian.
“Zea,” panggil Tasya yang terlihat mengintip dari pintu ruangan Zea.
“Masuk, kamu tidak pergi makan Tasya,” tanya Zea.
“Aku ingin makan bersama mu. Mari kita makan bersama.”
Zea tersenyum dan setuju. Mereka memilih makan siang bersama di luar. Tasya mengajak Zea makan sushi. Tasya juga kebetulan membawa mobil, sehingga mereka bisa naik mobil menuju restoran itu. Sepanjang jalan, Tasya terdiam. Dia terlihat sesekali memperhatikan Zea. Hingga sampai di restoran itu, mereka memesan dan duduk menunggu sushinya datang.
“Ze, bagaimana pekerjaanmu di tempat baru?.”
“Sejauh ini baik-baik saja. Aku sudah menyelesaikan pekerjaan ku hari ini, hanya saja ini melelahkan.”
“Kasihan sekali kamu,” ceplos Tasya tanpa sadar.
“Heh? Aku baik-baik saja kok, kamu tidak perlu khawatir,” kata Zea menenangkan.
“Ze, ada yang ingin aku tunjukkan,” kata Tasya.
Tasya langsung mengeluarkan ponselnya dari dalam tas miliknya. Dia membuka sebuah video yang dia record tadi siang ketika di kamar mandi.
“Dengarkan ini.”
*Video itu menunjukkan pintu kamar mandi dan ada suara wanita di dalamnya.
“Apa ini?” tanya Zea bingung.
“Dengarkan saja,” pinta Tasya.
Zea diam dan mendengarkan. Samar-samar suara yang tadinya tidak begitu keras itu mulai terdengar.
*POV suara sesuai di video.
Sebuah suara wanita: “Hah? Kenapa dia masih berangkat kerja hari ini? Mama bilang dia bisa dipecat! Kenapa masih kerja?.”
Dia diam sejenak, mungkin wanita itu menunggu jawaban dari seseorang yang menelponnya.
__ADS_1
“Iyaaa!. Emmy tahu, jika kemungkinan terburuk dia tetap bekerja tapi di pindah di divisi yang susah dan berat. Tapi, bu disana dia tetap bisa melakukan pekerjaan dengan baik. Dia bahkan dipuji.”
“Anak emas apa, Zea hanya anak orang miskin yang memanfaatkan paras cantiknya untuk menggoda atasan agar bekerja,” kata wanita itu lagi.
Sedetik kemudian hening lagi, hingga wanita itu kembali berkata*\,* “Ya sudah\, aku akan mengurus sisanya. Sudah dulu ya\, Ma.”
*Videonya sudah selesai.
Tasya kemudian menyimpan ponselnya dan menatap ke arah Zea yang tercengang.
“Ze, aku tahu ini berat. Aku juga tidak menyangka dia bisa berbuat begitu. Saranku, kamu harus berhati-hati mulai sekarang,” pinta Tasya baik, dia juga tidak ingin Zea yang merupakan teman kerja sekaligus wanita yang menurutnya baik dan tidak ambisius bekerja di bidang ini. Zea tidak pernah menghalalkan segala cara untuk bertahan bekerja, dia justru bekerja paling keras untuk bertahan di dunia kerja yang keras ini.
Zea masih diam, dia menelan ludah keras dan berkata, “Aku tidak mengira, Lily berbuat seperti ini. Aku juga tidak tahu jika dia yang membuatku pindah divisi. Tapi, aku bahkan tidak tahu siapa Lily dan latar belakang dia rupanya,” kata Zea kemudian.
“Sudahlah, banyak yang ingin berteman dengan mu. Jangan khawatirkan itu.”
Zea mengangguk walaupun hatinya sedih dan keduanya mulai makan saat pesanan mereka tiba.
Setelah makan siang, keduanya kembali bekerja. Zea kembali ke kantor dan mengerjakan 7 rancangan tim dan konsep talkshow untuk minggu depan yang harus dipresentasikan akhir minggu di hari Jumat dan Sabtu dalam rapat mingguan.
Setelah jam menunjukkan pukul 17.00, Zea yang sudah bekerja keras memilih untuk tidak lembur dan bergegas pulang setelah mematikan laptop miliknya. Dia turun dan mendapati Harry sudah menunggu di depan. Harry berada di depan kantor dengan pakaian rapi, menunggu Zea turun.
“Kenapa wajahmu lesu?” tanya Harry.
“Boleh?” tanya Harry.
“Ya tentu saja, aku akan mengenalkan mu sebagai teman ku.”
Harry terdiam, dia kecewa Zea ingin mengenalkannya sebagai kenalan. Tapi, apa boleh buat keduanya memang belum berpacaran.
“Kenapa diam?” tanya Zea saat mereka hampir tiba di mobil Harry.
“Aku suka, kita pergi ke supermarket dulu baru pulang kerumah.”
Zea mengangguk sambil tersenyum.
***
Di supermarket, pada jam pulang kerja ini cukup ramai. Pasangan suami istri, ibu rumah tangga dan muda-mudi yang berbelanja kebutuhan hidup mengantri di kasir.
“Kamu ingin beli apa?” tanya Zea.
“Sesuatu, mari,” ajak Harry sembari menuntun troli dan Zea mengekor di belakang.
__ADS_1
Keduanya bercanda dan bercerita sembari memilih barang. Zea sangat senang berbelanja bersama Harry. Harry cukup penurut dan tidak pemilih. Bahkan, ketika dipilihkan Zea. Dia menerima dengan senang hati.
“Wah, bau apa ini, enak sekali,” kata Zea kemudian berlari mencari sumber bau, dan meninggalkan Harry sendiri.
Ckk ckk
Kata Harry berdecak kagum dengan tingkah Zea. Dia lantas mendorong troli mengikuti Zea.
“Ini apa bibi?” tanya Zea berhenti di depan stan makanan yang bisa di coba.
“Kimchi lobak dan sayur, cobalah ini enak,” kata bibi penjaga stan itu.
Zea mencoba satu dan mengangguk, “Enak.”
“Harry, coba ini,” perintah Zea sembari mengambilkan untuk Harry dengan alat makan baru. Harry mengangguk sambil tersenyum.
“Enak?” tanya Zea.
“Enak,” jawab Harry.
“Belilah anak muda, suamimu sepertinya suka. Ini juga bisa disimpan di kulkas dan dipanasi ketika ingin makan,” kata bibi itu, bibi penjaga stan ini salah paham mengira mereka berdua adalah pasangan suami istri.
Zea merasa malu, dan pipinya memerah. Dia setuju mengambil dua bungkus dan pergi dari sana, setelah menaruhnya di troli.
“Terima kasih,” kata Harry kemudian berjalan ingin mengejar Zea.
Harry juga senang, Zea tidak menyanggah hanya malu dan pergi. Dia merasa Zea mulai menerima kehadiran dirinya.
***
1 jam kemudian, setelah mengantri di kasir dan perjalanan pulang. Mereka tiba di rumah Zea.
Tting
Pintu rumah terbuka.
“Itu pasti Zeze, pak,” kata Mima.
Adam dan Mima bangkit dari duduknya di ruang tamu dan mendapati anaknya masuk bersama laki-laki dengan barang belanjaan penuh di tangannya.
“Selamat malam, Paman, Bibi,” sapa Harry.
“Oh, ada tamu rupanya, silahkan masuk,” kata Mima menyambut dengan senang.
__ADS_1
Berbeda dengan Adam yang tampak biasa saja dan sedikit berhati-hati.