
"Panas, panas banget," ucap Desi sambil sesekali ingin membuka baju yang dikenakan.
Fadlan yang membopong Desi kesusahan untuk menghentikan gerakan Desi sesekali dia meminta Desi untuk berhenti.
"Jangan Des, jangan begitu," ucap Fadlan.
"Mbak minta tolong," ucap Fadlan kepada salah satu karyawan hotel.
"Iya ada yang bisa saya bantu."
"Tolong bantu saya membuka pintu mbak, kuncinya di saku jas saya."
"Baik pak."
Perempuan tadi mengambil kartu kamar dan membuka pintu kamar Desi untuk Fadlan.
"Silahkan pak."
"Terimakasih mbak," ucap Fadlan.
Fadlan masuk dan menutup pintu kebetulan perempuan tadi sudah mendapatkan kartu kamar dan menghidupkan lampu.
Fadlan merebahkan tubuh Desi di kasur namun Desi terus menggeliat dan hendak membuka bajunya.
"Panas, aku udah nggak kuat," ucap Desi sambil membuka kancing kemeja yang dia kenakan.
"Jangan Des, kumohon jangan."
"Aku udah nggak kuat," ucap Desi dengan muka merah.
Srak
Desi menarik kancing bajunya hingga sobek sebagian dan kancingnya terlepas. Fadlan semakin tidak bisa mengendalikan diri dan juga Desi. Tetapi dia tiba tiba teringat pesan seorang teman Diki.
"Ayo Des," ajak Fadlan membawa Desi ke kamar mandi.
Fadlan meletakkan Desi di bathtub dan mengguyurnya dengan sedikit air. Benar dia tidak tega melakukan itu tapi tidak ada cara lain.
Namun siapa sangka, bukanya sadar Desi justru menarik tubuh Fadlan mendekat.
*****
Cup
Desi meng*cup bibir Fadlan. Kec*pan itu berubah menjadi ci*man yang lebih dalam. Seperti terlatih, Desi melu*** bibir Fadlan tanpa sisa.
Basah sudah baju Desi tidak dipedulikan. Dia masih sibuk dengan kegiatannya tadi. Perlahan Fadlan larut dalam permainan Desi. Sedetik kemudian dia membalas ciuman Desi dengan lebih ganas akal sehat Fadlan turun drastis dalam kondisi itu. Desi masih belum sadarkan diri sementara itu Fadlan justru mulai menggila. Entah apa yang dipikirkannya dia justru mengikuti permintaan Desi.
"Panas by," ucap Desi.
"Bentar".
"Bantuin, udah nggak kuat," ucap Desi.
__ADS_1
Pikiran Fadlan kalut bayangannya terbang kemana mana. Desi yang sedari tadi meminta bantuan darinya sementara gejolak panas dari dalam dirinya mendorongnya untuk melakukan hal yang tidak seharusnya terjadi.
Entah apa yang Fadlan pikirkan, dia menarik Desi keluar dari bathub dan membawanya menuju kasur. Desi sudah basah dengan air tapi Fadlan justru mulai tersulut api ***** yang dikobarkan Desi. Sebagian baju Desi sudah tersingkap, terekspos jelas lekuk tubuh Desi di depan Fadlan terlebih lagi basah karena air di bathtub tadi. Fadlan sudah kehilangan pikiran sehingga dia memilih untuk diam dan meneruskan aksinya. Dia menci*m bibir Desi, berubah jadi ******* dalam hingga mereka kehabisan nafas. Fadlan melepaskan diri dari Desi dan mendorong Desi menunju sudut kasur. Di sana Fadlan mulai sadar dan memilih berhenti melakukan itu. Tapi tidak dengan Desi, dia yang sudah setengah sadar justru merelakan dirinya dengan mengambil niat mencium Fadlan kembali.
"Uh," ucap Fadlan melepaskan ciuman Desi.
"Jangan Des, kamu akan menyesal nanti."
"Tidak, aku akan menyesal jika bukan kamu orangnya. Apa kamu tidak mau bertanggung jawab?" tanya Desi yang sudah mulai kembali sadar.
"Aku akan bertanggung jawab, bahkan setelah kejadian ini tapi mari berhenti sebelum terlanjur."
"Kenapa? Kamu tidak menyukai ku?"
"Aku sangat mencintaimu Des, itu kenapa aku tidak ingin merusak mu sebelum menjadi milikku."
"Tapi kamu tidak mau melakukan itu dengan ku."
"Belum waktunya Des," jawab Fadlan sambil duduk di tepi kasur.
"Baiklah," ucap Desi sambil tidur memunggungi Fadlan.
"Sebaiknya kamu berganti baju dulu agar tidak masuk angin."
"Iya, tapi kamu jangan pergi," pinta Desi.
"Aku tidak akan pergi, aku akan duduk disini."
Desi kemudian bangkit dan mengganti bajunya yang basah. Fadlan memalingkan wajahnya menatap ke luar jendela. Dia merasakan kegagalan dalam dirinya. Betapa bodohnya dia melakukan hal yang tidak seharusnya terjadi.
Desi mengenakan piyama tipis yang membalut tubuhnya. Terekspos jelas lekuk tubuh Desi meskipun tertutup piyama.
"Ada yang ingin kutanyakan?" ucap Fadlan.
"Apa?" tanya Desi dengan raut wajah aneh.
"Jika aku tidak datang dan mantan kekasih mu yang membawa mu apa kamu akan melakukannya?" tanya Fadlan.
Desi tertunduk, hatinya pilu mendengarkan pertanyaan Fadlan seperti itu. Dalam posisinya tadi memang tidak ada pilihan, tapi dadanya sesak. Dia merasakan bahwa Fadlan mulai mencurigainya mungkin rasa percayanya akan hilang dan bisa jadi Fadlan akan meninggalkan Desi begitu yang dipikirkan Desi.
Desi menangis tanpa suara sementara itu Fadlan tertegun menatap Desi yang masih menangis.
"Maafkan aku jika pertanyaan ku menyakiti mu," ucap Fadlan mengelus rambut Desi.
"Tidak, aku yang salah seharusnya aku tidak berada disana. Maaf, jika kamu ragu kamu boleh meninggalkan ku," ucap Desi dengan air mata yang terus mengalir di pipi dia tidak mengeluarkan suara ketika menangis.
Dada Fadlan sesak melihat kekasihnya menangis seperti itu di depan matanya.
"Maafkan aku," ucap Fadlan.
"Ti.tidak, aku yang salah. Kamu ragu dengan ku makanya kamu tidak mau menyentuh ku, maafkan aku Fadlan. Tinggal aku sendiri," ucap Desi dengan suara serak.
Dada Fadlan sesak mendengar ucapan Desi. Mana ada dia ragu dengan Desi, dia yakin bahwa Desi adalah wanita yang mampu menjaga kehormatannya. Tetapi seperti ditantang pembuktian, raganya tersulut napsu dan emosi.
__ADS_1
"Aku tidak pernah ragu dengan dirimu atau apapun itu darimu, dan aku juga tidak pernah tidak mau untuk menyentuh mu. Kamu berharga, itu mengapa aku tidak menyentuh mu sebelum waktunya. Tapi mari kita lakukan dan aku akan bertanggung jawab," ucap Fadlan dengan nada tegas.
Desi hanya mendengarkan dan tidak menyahut akan ucapan Fadlan.
Fadlan mencium bibir Desi dengan lembut, menyentuh tengkuk Desi. Ciuman itu berubah menjadi semakin dalam, dalam dan dalam. Fadlan mengecup, *******, mengecap bibir Desi dan seisinya.
Desi yang sedari tadi menangis mulai diam dan terbawa suasana. Desi tidak terlihat membalas ciuman Fadlan. Namun dia kemudian mengalungkan tangannya ke leher Fadlan. Fadlan yang merasakan isyarat Desi memperbolehkan melepaskan ciuman itu.
"Boleh?" tanya Fadlan.
Desi hanya mengangguk menjawab pertanyaan Fadlan.
Dengan segera Fadlan merangkul Desi yang menggendongnya menuju kasur. Fadlan menatap sekilas wajah Desi, Desi yang malu malu terlihat dari wajahnya yang memerah.
Fadlan kemudian menci*m kening Desi, turun ke hidung, bibir pipi, dan leher jenjang Desi. Semakin ganas dan panas ciuman itu menyisakan satu agenda penting. Lagi lagi Fadlan menanyakan apakah boleh dia melakukannya. Desi kembali mengangguk mengiyakan permintaan tersebut.
Begitulah perang panas tersebut terjadi.
Ketika bangun tidur, Fadlan menangis diatas sajadah. Dia merasakan telah melakukan dosa besar yang sangat sangat besar. Dia memohon ampunan dalam sujud nya. Desi yang mendengar merasa bersalah, karena dia mengambil peran yang terus menekan Fadlan untuk melakukan hal tersebut.
"Maafkan aku," ucap Desi ketika bangun tidur dengan air mata yang mengalir di pipi.
"Tidak, sudah terjadi sekarang kita harus bertanggung jawab," ucap Fadlan.
Desi mengangguk.
"Pergi mandi dan ambil wudhu untuk solat. Setelah itu kita akan pulang menemui kedua orang tua mu."
Desi mengiyakan dan hendak berpindah dari kasur dengan menutup dirinya dengan selimut.
"Akhh," ucap Desi kesakitan merasakan nyeri di area bawahnya.
"Kenapa?" tanya Fadlan.
"Tidak apa apa," ucap Desi yang kembali mencoba berdiri.
Fadlan yang menyadari hal tersebut beranjak berdiri menggendong Desi menuju kamar mandi.
"Terimakasih," ucap Desi.
"Cepat mandi dan solat, aku ada urusan sebentar."
"Baik, tapi urusan apa?"
"Nanti kalau sudah beres aku akan memberitahu mu. Sekarang cepat mandi sebelum waktu subuh habis."
Desi mengangguk sementara Fadlan pergi meninggalkan kamar mandi dan kamar Desi.
____________
Bersambung.....
Author meminta maaf yang sebesar-besarnya karena terkendala dan baru bisa update sekarang π
__ADS_1
Selamat membaca dan silahkan bijak dalam membaca.
Kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan π