
“Bisa tidak? Jangan menganggu di malam hari!.”
Zea keluar dengan mengenakan baju tidur, dia enggan mengganti pakaian dan hanya memilih mengambil jaket saja.
“Aku membawakan makanan untuk kamu,” kata David kemudian mengeluarkan makanan yang dia tentang tadi.
“Aku sudah makan,” kata Zea.
“Ini bisa kamu makan besok, lagipula ini hanya buah dan beberapa minum saja.”
“Kamu bisa membawanya pulang,” kata Zea.
David terdiam, dengan masih memegang tas belanja berisikan makanan dan minuman yang dia beli tadi.
“Dav,” panggil Zea.
“Iya,” jawab David.
Zea menghela nafas kemudian mengulurkan tangan, bermaksud agar David memberikan makanan itu. David yang paham langsung mengulurkannya dan berkata. “Terima kasih.”
“Aku harap ini terakhir ya, aku benar-benar tidak ingin berhubungan dengan kamu lagi.”
Kalimat yang dilontarkan Zea cukup membuat David terkejut. Dia kaget bukan main, bagaimana mungkin hal ini terjadi. Dia mengira wajar Zea enggan melihatnya, tapi kalau ini yang terakhir maka tidak mungkin baginya untuk kembali.
“David,” panggil Zea yang membuyarkan lamunan David akan pikiran kalutnya.
“Ada apa?.”
“Bisakah kamu mengiyakan permintaan ku tadi?.”
“Maaf Zea, aku masih berharap kita bisa kembali seperti sebelumnya.”
Zea langsung menghela nafas berat dan terdiam menatap David.
“Aku tahu ini berat, tapi aku akan berusaha menunjukkan kepada mu apa yang bisa aku lakukan untuk membuat semuanya membaik lagi.”
“Terserah, lakukan semau mu,” jawab Zea enggan.
David tersenyum walaupun dia tahu jawaban itu tidak memiliki keikhlasan sama sekali, tapi dia senang.
“Tapi,” kata Zea tiba-tiba.
“Apa?” tanya David.
“Jangan datang di jam istirahat, jangan datang di jam kerja dan upayakan agar kita tidak saling mengenal di tempat kerja apabila kita berpapasan atau bertemu dalam satu acara.”
“Akan aku upayakan.”
“Baiklah kalau begitu, kamu bisa pulang. Ini sudah malam, David.”
“Baik Zeze, aku pulang dulu.”
Zea hanya mengangguk dan David berjalan menuju kearah mobilnya. Setelah David masuk ke mobil, dia masuk ke dalam rumah. Mengunci pintu dan menaruh belanjaan tadi di atas meja dapur.
“Menyebalkan sekali,” ucapnya kemudian mematikan televisi dan pergi naik ke kamar.
Saat David melihat lampu di lantai dua menyala, dia baru menyalakan mesin mobil dan pergi. Sementara itu, dari atas kamarnya Zea melihat David baru saja pergi.
Entah kenapa, dia merasa hatinya berdebar dan rasanya pipinya mulai panas.
__ADS_1
“Jangan goyah, Ze,” pikir Zea kemudian tidur dan menyelimuti seluruh tubuhnya.
**
Keesokan harinya, Zea berangkat kerja dan bertemu dengan Emily di lift. Keduanya tidak saling menyapa sama sekali.
Zea turun lebih dulu, dan menoleh kearah dalam lift dan melihat Emily tidak menatap dirinya sama sekali. Dia merasakan sangat sedih dan sesak saat harus mengahadapi posisi ini.
“Kita dekat, tapi kenapa rasanya sangat jauh, Lily,” batin Zea, sedetik sebelum pintu lift tertutup.
Sesampainya di ruangan, dia menaruh barang bawaan dan mulai berdandan. Membaca naskah hari ini dan memahami alurnya. Robert terlihat tidak menyapa Zea kecuali ada pekerjaan semenjak hari itu, dia hanya berbicara masalah pekerjaan saja.
“Ze, fokus,” pinta Denny yang merupakan kamemarem.
“Baik,” jawab Zea kemudian kembali fokus.
Hari berlalu dengan cepat, dan Zea memilih pulang tepat waktu hari ini. Dia mendapat pesan bahwa Harry mengajak pulang bersama, hanya saja Zea harus menunggu 30 menit lagi. Zea hanya membaca pesan itu tanpa membalas dan pulang lebih dulu.
**
30 menit kemudian, Harry berdiri di depan kantor Zea.
“Bye, Emily,” sapa Tasya dan beberapa teman lainnya yang baru saja pulang bersama dengan Emily.
“Apa yang kamu tunggu, Harry?” tanya Emily.
“Zea, apakah kamu melihatnya?.”
“Tidak, setahuku kantor mereka sudah sepi sejak 30 menit yang lalu. Mereka pulang tepat waktu karena besuk harus melakukan syuting di tempat lain.”
“Oh begitu rupanya,” jawab Harry kecewa.
“Apa kalian bertengkar?” tanya Emily.
Emily terdiam, dia merasa senang tapi entah kenapa ada rasa mengajal di dadanya. Rasanya dia sedih dan entah kenapa ingin sekali menjumpai Zea waktu itu juga. Tapi, dia berpikir kembali. Sudah sejauh ini, untuk apa berpikir kembali ke posisi itu.
“Oh bagus, semoga hubungan kalian segera selesai,” kata Emily tegas kemudian pergi menuju ke sedan mewah yang sudah menjemputnya.
“Hmm,” keluh Harry.
Dia bingung dan kesal dalam waktu bersamaan. Jika dipikirkan kembali, dia memang lebih awal bertemu dengan Emily. Tapi, hati tidak bisa memilih. Bagaimana dia bisa tahu, jika hatinya akan jatuh kepada Zea. Tapi, melihat Emily menjadi jahat seperti ini bukanlah hal yang dia harapkan tentunya.
Drtt
Ponsel Harry berbunyi, pesan itu dari Zea rupanya.
“Maaf, Harry. Aku sudah pulang,” balas Zea.
Rupanya Zea membalas setelah mendapatkan pesan dari nomor tidak dikenal yang mengirimkan foto Harry berdiri di depan kantor di jam yang sudah lebih dari waktu seharusnya dia menunggu Zea.
“Maafkan aku, Harry,” kata Zea dengan air mata mengalir tipis.
**
Keesokan harinya, Harry menunggu di depan rumah Zea tanpa mengetuk pintu ataupun menekan bel.
“Aduh, aku hamper telat,” kata Zea yang baru saja keluar dengan menenteng banyak barang bawaan dan menggendong tas.
“Good morning, Ze,” sapa Harry.
__ADS_1
Zea kaget, tapi dia memilih menahan ekspresinya senatural mungkin.
“Good morning,” sapa Zea juga.
“Aku bawakan kopi dan sarapan.”
“Terima kasih, tapi aku buru-buru.”
“Aku antarkan ya,” ajak Harry sembari menawarkan bantuan membawa barang Zea.
Zea sempat terdiam, ingin menolak. Tapi, dia bisa telat jika naik bus sekarang.
“Boleh,” jawab Zea lantang.
Harry tersenyum kemudian membantu membawakan barang bawaan Zea. Keduanya lantas berangkat ke lokasi yang sudah ditentukan.
“Sarapan dulu,” pinta Harry.
“Terima kasih, kamu tidak kerja?” tanya Zea.
“Hari ini jatahku libur.”
“Oh begitu, tapi memangnya tidak masalah mengantarkan ku keluar kota?.”
“Tidak apa-apa.”
Zea hanya mengangguk dan memakan roti isi yang dibelikan Harry dan menikmati kopi miliknya sepanjang perjalanan
Sesampainya disana, Zea langsung turun di lapangan dan berbaur bersama rekan kerjanya. Sementara itu, Harry menonton dan tidak langsung pulang. Dia berniat menunggu Zea dan pulang bersama.
**
“Hari ini adalah kegiatan amal, usahakan kalian bekerja semaksimal mungkin,” perintah Robert.
Semuanya mengangguk dan mulai membagikan barang-barang. Zea juga terlihat sangat berbaur dengan lingkungan. Bukan hal yang sulit untuk berbaur, terlebih dia lahir dan besar di desa. Sehingga mudah untuk beradaptasi.
“Kakak, anda cantik sekali,” puji seorang anak kecil saat menerima tas dan makanan dari Zea.
“Terima kasih,” balas Zea.
****POV penampilan Zea***.
Pekerjaan sukarela ini selesai tepat pada jam makan siang. Zea melihat masih ada mobil Harry, tapi tidak menemukan keberadaan Harry.
“Kemana dia?” pikirnya kemudian berpamitan kepada teman satu tim untuk makan siang di tempat lain.
Zea lantas berjalan ke arah danau kecil di sekitar situ masih sekaligus mencari keberadaan Harry.
“Harry,” panggil Zea.
Tidak ada jawaban, Zea menoleh ke kanan kiri dan terus berjalan mencari Harry.
“Ada apa?” jawab sebuah suara dari pojok belakang. Zea menoleh dan melihat seseorang tersenyum ke arahnya.
Sedetik Zea membisu dan merasakan bahwa Harry sangat tampan, “rupanya dia sangat tampan,” pikirnya dalam hati.
__ADS_1
“Ze,” panggil Harry lagi.
“Ha?” jawab Zea kaget.