Missing You : David

Missing You : David
15 Mengenal Lebih Jauh


__ADS_3

Zea bingung harus berkata apa. Sesaat kemudian David bertanya kembali.


"Ze?"


"Anu kak," Zea terdiam kembali.


"Ya udah, ngga usah dipikirin. Ayo kita kembali."


David berdiri mengajak Zea kembali ke resort. Tapi Zea menghentikan langkah kaki David.


"Kak tunggu," pinta Zea menggapai tangan David.


"Ada apa?"


"Aku juga suka dengan kak David."


"Heem ngga usah dibahas ayo balik ke kamar."


"Aku serius kak, aku suka kak David. Orang yang aku suka itu kak David," ucap Zea.


David senang mendengar jawaban Zea, tapi raut wajah Zea aneh seperti tidak senang.


"Suka sebagai seorang kakak kelas?"


"Suka sebagai seseorang. Aku menyukai mu kak dari awal kita bertemu. Semenjak itu kita terus bertemu tanpa sengaja dan rasaku mulai tumbuh terus menerus kak."


"Lalu kenapa muka mu sedih? Jelas jelas aku juga menyukai mu," ucap David.


"Karena aku tidak tahu kak, apa boleh jika benar aku menyukai mu. Apakah tidak salah kak?"


"Tidak ada yang menyalahkan perasaan seseorang, aku menyukai mu dan itu benar adanya."


"Tapi aku tidak cantik kak tidak pandai malahan biasa saja terlebih lagi...,"


Belum selesai Zea berbicara David memotong pembicaraan Zea.


"Tidak masalah, kita semua sama. Sama sama manusia biasa, jangan menghawatirkan hal yang tidak perlu Ze," ucap David.


"Kak David yakin?"


"Sangat yakin, lalu bagaimana sekarang?"


"Maksud kak David?"


"Kan kita sama sama suka lalu bagaimana?"


"Bagaimana jika kita mengenal lebih jauh satu sama lain. Dengan begitu kita akan semakin yakin dengan perasaan kita kak."


"Baiklah jika itu maumu, memang lebih baik kita mendekatkan diri satu sama lain terlebih dahulu."


"Betul sekali, mendekatkan yang jauh," ucap Zea.


Mereka berdua berbincang hingga matahari terbenam. Setelah itu, mereka kembali ke kamar untuk makan malam dna bersiap untuk acara nanti malam.


****

__ADS_1


David sangat senang mengetahui bahwa apa yang dia rasakan ternyata sama dengan yang Zea rasakan.


Malam harinya


Pukul 19.00


Semua anggota berkumpul di dalam ruang rapat kecil milik resort yang sengaja dipesan. Disana Zea duduk di sudut bersama dengan Elen. Zea menyisakan satu kursi kosong untuk David. Bahkan ketika Fahsan hendak duduk di situ, Zea melarangnya.


"Ze, aku duduk disini ya," ucap Fahsan.


"No, ngga boleh."


"Lah kenapa? Disini kan kosong Ze?"


"Disana juga kosong sebelah sana juga kosong. Masih banyak itu yang kosong jadi sana pindah."


"Huh galak banget, tumben Ze kamu gitu."


"Udah ngga usah ngomel-ngomel mending buru kesana nanti kursinya dipakai yang lain."


"Iya iya bawel."


Fahsan pasrah meninggalkan Zea yang sedang duduk dan menutupi kursi kosong disampingnya dengan kedua tangannya. Jelas Zea berlaku bergitu, karena tadi ketika pulang dari pantai menuju resort. David meminta Zea untuk menyisakan satu kursi kosong di sampingnya.


"Jangan harap duduk di sini, ini untuk kak David," gumam Zea dalam hati.


David datang bersama Kelson. Kelson kemudian duduk di dekat Eka di ujung selatan. Sedangkan David berjalan ke arah Zea. David tersenyum ke arah Zea.


"Sini kak," ucap Zea pelan lebih terdengar seperti berbisik.


Elen merasa aneh dengan tingkat Zea.


"Ngga kok bukan apa apa hihi."


"Oh ya udah, eh Zee lihat kak David jalan kesini," ucap Elen salah tingkah.


Zea tidak merespon ucapan Elen. Ia justru fokus menatap David yang kini duduk manis di samping.


Mulut Elen terbuka lebar melihat tingkah kedua orang di sampingnya itu. Seperti dunia milik berdua, Zea tersenyum lebar memperhatikan David sementara itu David hanya duduk tenang sesekali tersenyum kearah Zea. Elen heran bukan main dengan mereka berdua, Elen mungkin tidak sekritis Zea, tetapi setidaknya Elen paham jika Zea dan David sepertinya sedang dekat.


"Ehemm," suara Elen menyadarkan Zea.


Zea kemudian mencubit pinggang Elen untuk memintanya berhenti mengganggu.


"Aww sakit Ze,"


"Kenapa?"


"Ngga usah pura pura tadi kamu nyubit aku Zeana," ucap Elen dengan sedikit penekanan.


"Oh iya po?" jawab Zea acuh.


"Iya deh iya yang lagi kasmaran," goda Elen berbisik di telinga Zea.


Zea yang kaget dan malu refleks berteriak.

__ADS_1


"Ngga!"


Seluruh orang di ruangan pun tersentak dengan suara Zea yang berteriak.


"Kamu ngga papa Ze?" tanya David.


"Ngga kak gapapa kok," jelas Zea dan menunduk malu karena ulahnya.


"Sudah sudah, semuanya silahkan duduk manis," pinta Bu Anne yang baru saja datang bersama para pembina lainnya.


Andre selaku pelatih dari klur Memanah SMA FIX masuk bersama Pak Denis dan rombongan.


"Terimakasih, sebelum acara kita mulai. Mari terlebih dahulu kita berdoa. Berdoa mulai," ucap Bu Anne membuka rapat malam itu.


Setelah berdoa kemudian di buka oleh pembina kesiswaan dan dilanjutkan oleh pembina klub Memanah dan terakhir yaitu inti dari pertemuan malam itu adalah penyampaian siapa wakil sekolah dalam lomba memanah tahun ini.


Andre menyampaikan beberapa nama yang akan mewakili sekolah.


"Baik terimakasih atas kepercayaan dan kesempatan yang telah diberikan dari pihak sekolah kepada saya. Teruntuk semua anggota, saya yakin kalian kuat, kalian bisa, kalian adalah juara. Setiap individu lahir dengan berkat masing masing. Hari ini bukanlah akhir dari perjuangan kalian, penentuan siapa yang mewakili bukanlah hal yang terpenting tapi kalian semua harus dan sudah berusaha yang terbaik untuk diri sendiri. Maka dari itu, saya pribadi memohon dengan amat sangat siapapun nama yang terpilih jangan sombong kalian masih harus berusaha lebih keras. Sementara yang belum beruntung, saya mohon untuk tetap semangat dan terus berusaha. Kalian tetap bisa berkarya tapi karena lomba hari ini memiliki batas peserta jadi kalian tidak boleh patah semangat. Mengerti?"


"Siap pak," jawab seluruh anggota serempak.


"Baiklah akan saya bacakan. Untuk kategori pria yang akan mewakili adalah David Zhien Soetardjho, Eka Budi Santoso, dan Kelson Haryono. Sedangkan untuk kategori putri akna diwakili oleh Zeana Mufshin, Saraswati Liem, Bunga Susanti. Untuk nama yang belum disebutkan saya mohon untuk tetap semangat dan terus berlatih."


"Baik pak."


Setelah rapat selesai, murid yang terpilih diminta untuk tinggal sebentar di ruang rapat.


Pak Denis menyampaikan satu dua patah kata semangat dan dorongan agar anggota yang terpilih terus berusaha dan tetap berlatih demi nama baik sekolahan.


"Sebelum bapak meminta maaf karena meminta waktu istirahat kalian yang berharga. Mungkin apa yang akan keluar dari mulut Bapak tidak akan menjadi penting jika kalian tidak memahaminya dengan baik. Menjadi wakil sekolah merupakan sebuah kebanggaan sekaligus tanggung jawab yang besar. Maka dari dengan amat sangat bapak memohon agar kalian terus berusaha dan berlatih dengan setulus hati dan bersungguh-sungguh. Bapak yakin kalian bisa, jadikan budaya menang sekolah kita terus menggelora di seluruh negeri untuk terus mengibarkan bendera sekolah kita. Bapak memohon atas nama sekolah agar kalian terus berusaha menjadi juara selanjutnya. Atas nama bapak pribadi, saya memohon agar kalian berupaya sekuat tenaga dan setulus hati agar usaha kalian di lapangan membuahkan hasil. Mengerti?"


"Mengerti pak," jawab mereka serempak.


"Bagus, untuk SMA FIX JAYA."


"Jaya!"


"Jaya!"


Seluruh suara bersemangat setiap anggota menggemparkan ruang itu. Semangat yang menggebu-gebu dan suara lantang yang menggemaa.


Setelah Pak Denis membubarkan diri untuk beristirahat. Zea menuju kamar bersama dengan David. David berjalan di samping Zea sepanjang koridor. Mereka tidak banyak berbincang karena sepertinya Zea sudah mengantuk.


Sesampainya di depan pintu kamar Zea. David mengucapkan selamat tidur.


"Terimakasih kak sampai jumpa besuk," ucap Zea.


"Tunggu," ucap David menghentikan langkah kaki Zea.


Zea menoleh dan menatap tajam mata David.


"Selamat malam Zeana Mufshin," ucap David sambil tersenyum manis.


"Uhhh melting hatiku kak," batin Zea

__ADS_1


"Terimakasih kak, selamat beristirahat."


Mereka kemudian masuk ke kamar masing masing.


__ADS_2