
"Ini apa Dav? Kenapa seperti warnet?" tanya Zea.
"Bukan warnet, mulai tahun ini aku akan tinggal disini. Aku akan tinggal bersama beberapa teman bermain game ku. Aku ingin bersama sama mereka untuk berlatih menjadi seorang ahli di dalam bermain."
"Seperti squad?"
"Betul."
"Lalu siapa yang akan membiayai ini semua?"tanya Zea.
"Bangunan ini milikku, kalau untuk makan aku yang akan menanggung sementara. Mereka akan tinggal disini bersama ku. Lagu pula mereka sepakat untuk tinggal bersama masalah makanan jangan khawatir."
"Apa kamu punya perencanaan yang matang untuk mendirikan sebuah squad sendiri? Seperti pemain yang handal dan terpercaya?"
"Aku punya teman bermain dan mereka setuju. Aku dan Alvin ditambah beberapa anggota lainnya. Mereka rata rata adalah mahasiswa jadi untuk izin orang tua tidak masalah."
"Aku mendukungmu, apapun itu."
"Terimakasih," ucap David sambil mendaratkan ciuman di pipi Zea.
Cup
Muka Zea memerah seperti seseorang yang kepedasan setelah makan. Pipi Zea merona seperti di beri banyak sapuan blush on.
Deg deg
"Aku tidak bisa mengendalikan detak jantung ku," batin Zea dalam hati.
David gemas melihat reaksi Zea. Sebenarnya bagi David itu merupakan pengalaman pertama kali. Dia belum pernah memiliki kekasih tetapi Zea tidak mengetahui hal itu.
David adalah laki laki tampan idaman semua murid. Tingkah cool dan bergaya David menjadikan David terlihat seperti seorang f*ck boy. Tetapi siapa sangka jika dia adalah pria yang belum pernah memiliki kekasih sampai sekarang. Zea adalah wanita pertama yang meluluhkan hati David.
Zea malu malu melihat David. David yang menyadari akhirnya mengajak Zea untuk bermain game untuk membunuh kecanggungan yang ada.
"Mau main game?" tanya David.
"Iya," jawab Zea tersenyum polos.
Mereka bermain sejenak di depan komputer yang tersedia di tengah gedung itu. Hingga akhirnya Zea mengatakan jika dia lapar.
"Laper," ucap Zea polos dengan ekspresi memelas.
"Owalah iya maaf ya. Ayo makan cantik."
Zea mengangguk dan mengikuti David keluar gedung. Mereka keluar untuk makan bakso di dekat pom bensin Gayam. Setelah makan David mengantarkan Zea pulang.
*****
Hari Minggu
Libur akhir pekan tiba. Zea berniat untuk memberikan kejutan kepada David untuk datang berkunjung ke rumah tempat tinggal David yang baru.
Sudah sebulan lebih David tinggal di sana bersama teman temannya. Zea juga jadi jarang bertemu karena awal masuk sekolah Zea sibuk untuk beradaptasi dengan pelajaran baru dan guru baru.
Dia datang sendiri tetapi hujan tiba tiba turun ketika Zea turun di halte bus. Dia berlari ke swalayan di seberang jalan untuk membeli jas hujan dan payung.
"Wah siapa itu cantik sekali," ucap Gavin yang tengah memandang ke luar jendela.
David datang dan menghampiri Gavin yang tengah memuji seseorang di luar sana.
__ADS_1
"Kau sedang apa bukanya berlatih atau mengerjakan tugas," ucap David.
"Lihatlah gadis cantik itu," sambil menunjuk ke luar jendela.
"Itu sepertinya kekasihku," ucap David dari jendela lantai 2.
David turun menghampiri Zea yang tengah berjalan dibawah rintik hujan.
"Ha? Kekasih?" tanya Gavin heran sejak kapan David memiliki seorang kekasih.
"Zea!" panggil David.
"Iya?" jawab Zea sambil menoleh ke arah sumber suara.
Rupanya kekasihnya tengah berdiri tegap di belakang dirinya.
"Kenapa kamu berdiri di bawah air hujan sayang? Kemari lah," ajak David sambil mengulurkan tangan.
Zea berlari kecil menghampiri David. Mereka berlari kecil berteduh di bawah teras gedung tersebut.
"Bajumu basah. Ayo dikeringkan aku ambilkan handuk dulu."
"Tapi," ucap Zea ragu ragu.
"Tapi apa?"
"Surprise nya gagal. Kamu tahu aku datang," jawabnya sambil cemberut.
"Astaga, kamu datang untuk itu?"
"Terimakasih," ucap David.
"Untuk apa?"
"Untuk datang kesini," ucap David.
"Bukan hal yang susah karena aku juga ingin bertemu."
"Cie kangen cie."
"Jelas lah jarang ketemu jarang keluar," jelas Zea sambil melepaskan jas hujan yang dikenakannya.
"Maaf ya cantik jarang ada waktu," ucap David bersamaan mengelus elus rambut Zea.
"Bukan masalah kok. Ini jadi di ajak masuk ngga?"
"Jadi cantik ku. Ayo masuk dulu.
David mengajak Zea masuk ke dalam gedung. Di dalam gedung terdapat beberapa lelaki yang tengah duduk didepan layar komputer. Mereka lumayan tampan bahkan beberapa sangat tampan.
Meraka berwajah putih bersih tanpa ada jerawat di wajah mereka. Benar benar tidak seperti seseorang yang menghabiskan waktu berjam jam di depan layar komputer.
"Siapa dia Vid?" tanya Kana.
"Zea," jawab David tenang.
"Oh hai Ze," sapa Alvin.
__ADS_1
"Halo kak," jawab Zea.
David menoleh ke arah Zea mengisyaratkan bahwa dia meminta Zea mengikuti dirinya. David membawa Zea menuju kamar di loteng.
Sebenarnya David membuat sebuah kamar khusus yang digunakan untuk beristirahat dan memikirkan ide. Disana dia menaruh beberapa pakaian dan kasur kecil.
David membawa Zea ke kamar tersebut untuk mengeringkan baju dan rambutnya yang sedikit basah akibat air hujan
"Sini masuk," ajak David.
"Tapi ini kan kamar kak."
"Janji ngga nakal cuma ambilin handuk doang. Disini bukan kamar buat tidur aku kok tenang aja toh digedung ini ada bibi Farah yang beresin rumah setiap hari jadi tenang aja Ze."
"Okedeh aku masuk."
"Duduk sebentar di sini. Aku ambilin handuk sebentar ya."
"Makasih Dav."
"Iya cantik."
David datang membawa sebuah handuk di tangan kanannya. Dia kemudian menyodorkan handuk tersebut kepada Zea.
"Di keringkan dulu rambut mu," pinta David."
"Iya Dav. Oh iya selama disini makannya gimana?"
"Makan kadang bibi Farah yang buat makanan kadang juga cuma nasi kotak."
"Owalah tapi kamu kurus."
"Ngga tuh sama kaya kemarin."
"Ngga! Kurus," jawab Zea tegas.
"Iya deh iya," David mengalah.
"Aku buatkan suus hangat ya sebentar."
"Ngga perlu repot repot."
"Ngga repot. Udah duduk manis disini dulu ya."
"Ya udah iya," jawab Zea pasrah.
David pergi mengambilkan minuman hangat untuk Zea. Selama menunggu Zea bosan dan melihat lihat seisi ruangan kamar David.
Ruangan itu terdiri atas kasur sedang dipojok. Kemudian sebuah kasur di atas dengan anak tangga naik ke atas menggunakan kayu. Terdapat sebuah komputer di atas meja. Sebuah almari pakaian dan sofa di sudut ruangan menghadap ke jendela.
Zea berjalan ke arah meja komputer. Di dinding terdapat beberapa foto dan penanda mungkin agenda David. Disebelah komputer terdapat sebuah note mungkin catatan agenda milik David.
Zea membuka buku tersebut namun sebuah kertas jatuh dari buku tersebut.
"Kok ini ada bukti pembayaran biaya rumah sakit kak Aslan?" tanya Zea heran.
David datang dengan membawakan bekal nasi kotak dan susu hangat untuk Zea.
"Jujur sama aku ini punya siapa?" tanya Zea tegas.
__ADS_1
David terdiam. Dia lupa bahwa dia menaruh beberapa barang pribadi miliknya di kamar loteng dan sayangnya hari itu pertama kalinya Zea datang dan melihat sesuatu yang tidak seharusnya.