
Fakta
***
“Kenapa?” tanya David.
“Jangan dibuang, biar ku bawa pulang saja,” jawab Zea seraya berdiri untuk memunggut gulungan kertas kecil yang berserakan.
“Iya iya, duduk saja nanti setelah pecahan kaca dipisahkan kau bisa membawa pulang gulungan kertas itu,” jelas David.
Zea menoleh kearah David dengan tatapan tidak percaya, sorot mata Zea menatap David serius dengan tatapan menelisik.
“Aku janji,” ucap David sambil menarik Zea untuk duduk kembali.
Setelah mendengarkan jawaban David, Zea duduk kembali ke kursi.
“Sudah makan Ze, biarkan pelayan membersihkan pecahan kaca yang ada.”
“Ya.”
Seorang pelayan datang membawakan makanan yang dipesan oleh David. Sebuah steak daging bersama dengan kue strobery kesukaan Zea. Seorang pelayan lainnya datang sambil membawakan kantong plastik untuk menarik gulungan kertas yang dipungut tadi.
“Ayo makan, ini semua makanan kesukaan mu,” pinta David.
“Aku tidak lapar,” jawab Zea.
Namun, siapa sangka perut Zea justru memberontak dan mengeluarkan suara lantang pertanda dirinya sedang kelaparan.
Kruyukk
“Hihi,” tawa David sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya untuk menutupu tawanya agar Zea tidak marah.
“Kenapa kamu ketawa? Itu bukan suara perutku,” jawab Zea sambil memalingkan wajah.
“Iya iya, sudah ayo makan, temani makan karena aku sangat lapar,” bujuk David agar Zea mau diajak makan.
Zea kemudian luluh dengan bujukan dari David itu.
“Hm yaya kalau kamu memaksa,” jawab Zea.
“Sipp cantik sekali, ayo cepat makan kalau begitu cantik.”
Mereka berdua kemudian makan dengan lahap. David sudah memotongkan steak untuk David sehingga Zea lebih mudah dengan langsung memakan steak tersebut. Seusai makan, Zea duduk diam sementara David sudah sedari dulu duduk di mengamati wajah Zea. Rindu yang dipendam selama berminggu-minggu lebih. Perasaan curiga dan khawatir tentang apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya dan Zea, juga tentang apa yang diucapkan oleh Denis tempo hari.
“Kenapa melihatku seperti itu?” tanya Zea.
“Indah,” jawab David sambil tersenyum.
“Cih, ucapnya indah tapi masih sempat melirik wanita lain,” keluh Zea dalam hati.
__ADS_1
“Aku paham maksud dari ekspresimu itu,” ucap David.
“Pelayan,” panggil David.
Beberapa pelayan datang membersihkan makanan di meja mereka dan membawa makanan penutup berupa buah dan beberapa dessert lainnya. David kemudian meletakkan kotak kado yang tadinya jatuh bersama dengan kantong plastik berisi gulungan kertas tersebut di kursi samping kiri Zea.
“Ini untuk dirimu, beberapa hal menjadi alasan aku terlambat datang tapi setidaknya aku tetap datang,” ucap David.
Zea kurang paham karena David mengatakan kalimat tersebut dengan cepat, sementara dirinya sedikit bingung karena tidak begitu memperhatikan.
“Buka sisanya nanti di asrama saja,” ucap David.
“Bagaimana kamu tahu aku tinggal di asrama.”
“Aku tahu dari seorang teman.”
Zea kemudian berpikir keras kira-kira siapa yang memberitahu keberadaannya di kota Yin ini. Sejenak kemudian dirinya teringat akan bertemu dengan Jordan, namun justru David yang datang. Zea bertanya kepada David siapa temannya dengan menebak,” Jordan?”
“Benar,” jawab David.
“Jadi, selama ini Jordan bersikap baik ada kaitannya dengan dirimu? Aku kira dengan pergi kemari aku tidak perlu bertemu dengan dirimu lagi. Namun, ternyata dengan mudahnya dirimu menemukanku di sini dengan bantuan temanmu.”
“Tunggu Ze, jangan berpikir terlalu banyak, aku memang meminta tolong Jordan untuk mengawasi mu dan menjaga mu tapi terlepas dari tulusnya Jordan berteman dengan dirimu itu memang sikap Jordan. Aku bisa meminta tolong tapi tidak memaksa orang untuk peduli. Kepedulian Jordan kepada mu karena dia memang menganggapmu temannya,” jelas David.
Zea terdiam mengingat bahwa Jordan adalah laki-laki pertama yang bersikap baik kepada dirinya di kota ini. Selain Wendi dan Valerie dia tidak memiliki teman yang begitu dekat dan peduli dengan dirinya. Namun, jika benar Jordan baik hanya karena David maka dia akan kehilangan sosok Jordan yang selama ini dia kenal karena itu semua hanya permintaan David. Padahal Zea sudah dekat dengan Jordan, dirinya nyaman dengan Jordan yang baik, namun cuek itu. Rasanya penjelasan David hanya sia-sia karena pikiran negative sudah memenuhi persepsi dari Zea akan sikap David.
“Ze,” panggil David.
“Sedang memikirkan apa?” tanya David.
Zea tidak menjawab justru melotot dengan wajah melotot kearah David dengan mulut manyun dan tangan sedekap.
“Ada apa lagi?” tanya David.
Zea tidak menjawab justru mengangkat kedua bahunya ke atas masih dengan posisi tangan sedekap kearah David.
David tersenyum dengan tingkah Zea. Tiba-tiba dia teringat foto yang dimaksud Zea. David berkata, “untuk foto itu, aku tidak pergi sebagai pasangan dari Maya kita pergi bersama-sama dengan banyak temanku lainnya, orang yang mengambil foto itu adalah teman laki-laki Maya.”
Zea masih tidak percaya, bisa saja david hanya berbohong agar dirinya bisa memaafkannya kali ini. “Tidak semudah itu aku akan percaya,” gumam Zea pada dirinya sendiri.
“Ze,” panggil David.
“Kenapa? Aku tidak percaya toh paling itu hanya akal-akalanmu saja,” jawabnya masih dengan muka marah dan manyun.
“Kalau tidak percaya kita bisa langsung tanyakan ke teman laki-laki Maya waktu itu Jasson,” ajak David.
“Silakan, toh bisa saja kamu mengada ada atau meminta Jasson untuk berbohong.”
“Astaga, pusing kepala ku. Harus bagaimana agar kamu percaya?” tanya David.
__ADS_1
“Aku tidak percaya, sudah aku mau pulang saja.”
“Tunggu,” pinta David sambil memegang pergelangan tangan Zea agar tidak pergi menjauh.
“Apa lagi?” tanya Zea kesal.
“Kita telpon Maya saja dan bertanya kepada teman ku yang ada di foto itu.”
Zea sempat ragu dengan ajakan David, namun tidak ada salahnya mencoba mencari tahu.
“Oke setuju.”
Mereka berdua kemudian melakukan panggilan video kepada beberapa teman laki-laki David. Dimulai dari Martin, Martin menjawab bahwasanya benar mereka, tema tim e-sport dan beberapa orang dari tim lain mengajak untuk berlibur di pantai dekat rumah David pada hari Minggu. Mereka berangkat hari Sabtu dari markas menuju tempat itu, disana Maya juga sedang berlibur bersama dengan teman laki-lakinya meminta untuk bergabung dan teman-teman David menyetujuinya.
“Benar kan kata ku,” ucap David kepada Zea.
“Itu kan baru dari Martin belum dari yang lainnya.
“Oke, kita bertanya kepada yang lainnya.”
Mereka berdua kemudian melakukan panggilan video ke beberapa teman laki-laki satu tim David dan hasilnya sama hanya diutarakan menurut gaya bahasa masing-masing. Zea yang masih tidak percaya menantang untuk bertanya kepada Maya. David yang menyetujui kemudian melakukan panggilan video kepada Maya.
“Halo Dav,” panggil Maya.
“Maya aku ingin bertanya, apakah kau masih ingat ketika kita berlibur dengan kapal pesiar waktu itu?”
“Oh iya, aku masih ingat hari itu cuacanya sangat indah dan kita akhirnya bertemu setelah sekian lama tidak berjumpa,” jawab Maya.
Zea yang dibelakang layar nampak manyun dengan ucapan Maya yang sok manis baginya.
“Iya, waktu itu kamu berlibur dengan Jasson justru bergabung dengan kapalku.”
“Oh, bisa tidak jangan bahas Jasson lagi.”
“Kenapa begitu May, jelas-jelas kalian berdua terlihat bahagia bersama,” jawab David memancing jawaban dari Maya.
“Hanya yang terlihat saja, setelah liburan waktu itu kami berpisah dan Jasson sudah mendapatkan pengganti ku.”
Zea langsung menoleh kearah David dengan tatapan kaget. Zea yang berdiri di depan David, tepat di belakang kamera ponsel David agar dapat mendengar jelas suara dalam panggilan itu terkaget-kaget mendengar jawaban dari Maya.
Tanpa aba-aba, David mematikan panggilan video tersebut dan berdiri mengecup bibir Zea.
Cup
Zea yang kaget tidak bisa merespon hal itu. Matanya terbelalak kaget merespon sikap David yang tiba-tiba itu.
****
Bersambung>>>>>
__ADS_1
“Jantungku seperti mau meletup,” gumam Zea dalam hati sambil menyentuh bibirnya dengan jari telunjuk tangan kanannya.