Missing You : David

Missing You : David
39 Maaf


__ADS_3

"Makasih ya Vin."


"Sama sama Ze, aku pulang dulu ya."


"Iya hati hati ya."


Gavin melajukan motornya meninggalkan rumah Zea. Ibu melihat dari dalam rumah sontak kaget. Siapa lelaki yang mengantarkan anaknya pulang, wajahnya bukan David.


"Itu siapa Ze?"


"Gavin bu, temannya Zea."


"Owalah, kenapa bisa bareng pulang? Kayaknya bukan anak sini?"


"Tadi nggak ada bus makanya pulang bareng Gavin soalnya dia juga mau ke daerah sini."


"Tapi kok ibu ngerasa anak itu aneh ya Ze."


"Kenapa Bu?"


"Nganterin kamu pulang cuma sampai gerbang depan doang."


"Owalah buru biru mungkin Bu."


"Masa sih Ze? Sekedar nyapa aja nggak sempat padahal ibu jelas di sini kelihatan."


"Zea nggak tahu juga Bu."


"Ya udah kamu mandi aja sana."


***********


Seminggu berlalu, Zea masih belum bertemu dengan David lagi. Mereka memang rutin mengirimkan kabar bahkan ketika diantar pulang oleh Gavin , Zea bercerita tetapi entah kenapa David masih juga belum berani jujur kepada Zea.


"Bu, Fadlan akan menikah dengan Desi," ucap Fadlan.


"Ibu tidak salah dengar kan nak?" tanya ibu.


Zea dan Aslan yang mendengar perbincangan tersebut langsung berlari ke dapur.


"Mas yakin mau nikah? Nanti bohongan?" tanya Aslan.


"Jangan bercanda as, mas serius mau nikah."


"Ikut senang kalau begitu," ucap Zea.


"Benar nak, ibu juga ikut senang jika memang mau menikah."


"Terimakasih Bu," sama sama nak.


"Iya Bu, Fadlan sudah berbicara dengan bapak dan pernikahan nya akan dilaksanakan secepatnya Bu."


"Kok buru buru mas?" tanya Aslan.


"Iya kak, kok buru buru," tambah Zea.


"Nggak buru buru toh Fadlan kenal Desi sudah lama."


"Syukurlah ibu dukung niat baikmu untuk menikah ini. Baiknya kita bicarakan tanggal dan keperluannya."


"Fadlan akan menikah dua hari lagi Bu di masjid," ucap bapak dari kejauhan.


"Kenapa buru buru sekali pak ibu tidak tahu kapan persiapannya," ucap ibu kaget.


"Lalu keluarga mba Desi bagaimana pak?" tanya Zea.


"Bapak dan kakakmu tadi dari sana dan mereka sudah setuju, lebih baik Akad nikah segera dilaksanakan dulu."

__ADS_1


"Untuk resepsinya bagaimana pak?" tanya Aslan.


"Dilaksanakan hari itu juga, bapak sudah minta bantuan Tejo dan Dimas untuk dekor dan katering kamu dan Zea sebaiknya temui mereka di luar untuk membahas dekor. Bapak mau bicara dengan ibu dan Fadlan."


"Baik pak, ayo dik," Jak Aslan menyeret tangan Zea.


Zea yang polos hanya menurut saja berbeda dengan Aslan yang berpikir keras apa yang sebenarnya terjadi.


"Halo mas Dimas," ucap Zea.


"Halo dik mes, sini bantuin kita urusin dekor sama katering kamu pilih yang mana."


"Emang tamunya berapa?" tanya Zea.


Dimas dan Tejo yang bingung hanya saling menatap dan menoleh ke arah Zea bingung.


"Kenapa diam?" tanya Aslan.


"Kita nggak tahu berapa tamunya yang diundang," ucap Dimas.


Zea hanya menepuk jidat heran sambil menggelengkan kepalanya.


"Kok bisa gimana sih kak Fadlan bentar aku tanya," ucap Zea sambil beranjak.


Tangan Aslan seraya mencegah langkah Zea.


"Jangan dik, nanti dipikir aja gampang sekarang dekor sama budgetnya aja dulu buat nanti katering sesuai tamu bisa nyusul kita pilih menunya aja dulu," ucap Aslan beralasan agar Zea tidak pergi ke dapur.


"Oke kak siap."


Mereka berempat berbincang di ruang tamu. Kebetulan sudah tersedia air minum mineral dan beberapa makanan ringan sehingga Zea tidak ada alasan untuk pergi ke dapur.


**********


Di Dapur


Bapak hanya duduk menahan air mata mendengar pengakuan Fadlan.


Ibu yang bingung menyuruh Fadlan untuk berdiri.


"Kenapa to nak? Coba sini duduk dan jelaskan kepada ibu?"


"Maaf Bu," ucap Fadlan lagi.


"Iya kenapa?"


"Fadlan sudah merusak Desi Bu."


Deg Deg


Hati Mima hancur dia sedih mendengar pengakuan putra sulungnya itu. Dia hanya memeluk dan menenangkan Fadlan yang sedari tadi masih menangis.


"Sudah terlanjur nak, lebih baik kalian segera menikah. Sejujurnya ibu kecewa tapi dengan menikahi Desi adalah bagian dari tanggung jawab mu sebagai seorang laki laki."


"Maafkan Fadlan Pak, Bu. Fadlan tidak bisa menjaga amanah Bapak dan Ibu. Fadlan sudah gagal."


Bapak menepuk pundak Fadlan menenangkan putranya itu. Begitu juga ibu yang memeluk Fadlan. Hatinya hancur mendengar pengakuan putra sulungnya itu. Mima memang sangat percaya terhadap Fadlan terlebih dia seorang dosen, berpendidikan dan berpengalaman. Tetapi siapa tahu jika hal tersebut terjadi kepada putranya.


"Sudah nak tenang, coba jelaskan kepada ibu bagaimana kejadiannya?"


"Maaf Bu," ucap Fadlan.


"Ya sudah jangan dipaksakan. Sekarang cuci muka dan bantu persiapan pernikahan mu. Walaupun tergesa gesa jangan sampai Desi kecewa."


"Baik Bu."


Fadlan pergi ke kamar untuk mencuci muka dan berganti pakaian. Karena dia mengenakan baju batik dan sepatu.

__ADS_1


Bapak datang kemudian memeluk ibu yang menangis sesenggukan.


"Sabar Bu, pasti ada jalan bagaimana pun itu Fadlan putra kita. Keputusannya untuk jujur dan menikahi Desi sudah benar. Mungkin jalannya memang salah tapi kita sebagai orang tua harus membantu Fadlan kembali ke jalan yang benar Bu."


"Maafkan ibu pak, Ibu sudah gagal."


"Tidak Bu, tidak ada kata gagal. Ibu sudah berusaha keras mendidik ketiga anak kita dengan baik dan benar. Belum berhasil bukan berarti gagal, Fadlan memang melakukan kesalahan tapi dia sukses menjadi orang berpendidikan dan membantu keluarga hingga sekarang. Ibu tidak gagal Bu."


Mendengar ucapan bapak, Mima menangis semakin keras di pelukan Bapak.


***********


Di Kamar Fadlan


Fadlan mengutuk dirinya yang tidak menjaga kekasihnya hingga waktunya tiba.


"Maafkan aku ya Allah, aku sudah berbuat dosa besar dengan melakukan hal ini ampuni aku.


Fadlan menangis di tepi kasur sembari mengingat kejadian kemarin malam.


Bermula dari Seminar di salah satu hotel besar di pinggir pantai. Seminar ini diadakan oleh dinas pariwisata dengan Fadlan sebagai salah satu narasumber. Desi tadinya berniat untuk menemani Fadlan ke acara tersebut dan Fadlan mengiyakan permintaan tersebut.


Semua baik baik saja hingga akhirnya, mereka berdua bertemu dengan teman teman Desi termasuk mantan kekasihnya dulu, Diki.


Desi nampak akrab dengan Diki bahkan mereka berbincang di dekat kolam renang selama Fadlan sedang mengisi seminar. Ketika selesai di acara tersebut, Fadlan menghubungi Desi karena sudah cukup malam.Fadlan menelpon Desi dan hanya berdering saja.


"Kenapa tidak diangkat," tanya Fadlan pada diri sendiri.


Sementara itu, di kamar Desi tidak ada di kamar Fadlan juga tidak ada. Fadlan mencari keluar dan bertanya kepada resepsionis. Rupanya mereka sempat melihat Desi di kolam renang.


Fadlan yang merasa ada yang tidak beres langsung berlari ke arah kolam renang. Benar rupanya, Desi bersama dengan Diki dan rombongan. Diki datang bersama beberapa perempuan dan laki laki mungkin mereka berpasangan.


"Des," panggil Fadlan dari kejauhan.


"Iya," jawab Desi dengan nada mabuk.


Fadlan langsung berlari menghampiri Desi yang duduk di dekat Diki.


"Kau beri apa kekasihku?" tanya Fadlan.


"Weh sabar dong, gua nggak ngasih apa apa dia bilang haus ya udah gue kasih minum."


"Kamu udah gila ya, Desi nggak pernah minum."


"Lhu karena nggak pernah nyoba makanya sini aku ajarin," ucap Diki dengan nada cengengesan.


"Panas, panas dik," ucap Desi.


"Gimana baby?" tanya diki dengan nada cengengesan.


Fadlan merasakan ada hal yang aneh, sepertinya Desi sudah meminum obat perangsang.


"Biadap," caci Fadlan sambil memukul Diki.


Diki tersungkur ke lantai dengan lebam di pipi.


"Jangan emosi dong bro, minggir gue mau bantuin mantan gue tercinta," ucap Diki berdiri sambil menepis tangan Fadlan.


Fadlan yang kalap kembali memukul Diki. Tidak satupun teman Diki berani membantu karena memang peraturan siapa yang memulai dia yang mengakhiri.


"Panas," ucap Desi sembari hendak membuka bajunya.


Melihat itu Fadlan langsung berhenti memukul Diki dan pergi ke arah Desi.


"Jangan Des," ucapnya.


"Bawa ke kamar saja kak lalu di guyur air," saran salah satu teman Diki."

__ADS_1


Fadlan menganggukkan kepalanya dan membopong Desi. Jas yang digunakan dilepas untuk menutupi tubuh Desi.


__ADS_2