Missing You : David

Missing You : David
75. Fakta baru


__ADS_3

Zea merasa ragu apakah keputusan dia tepat. Dia merasa bersalah atas Emily. Dia gagal menjadi teman yang mengerti dan baik, bahkan untuk sahabatnya sendiri.


Harry kaget mendengarkan kalimat yang terucap dari bibir Zea.


“Kenapa? Aku salah apa?” tanya Harry.


Zea menggelengkan kepala dan menjawab bahwa Harry tidak salah.


Harry menatap lekat ke arah Zea dan berkata, “Mari kita cari jalan keluarnya bersama, aku mohon,” pinta Harry agar Zea tidak meninggalkan dirinya. Tapi, kejadian hari ini cukup membuat Zea terkejut. Sahabatnya mendapatkan banyak tekanan, tapi dia sendiri sibuk berbahagia dengan laki-laki yang dicintai sahabatnya.


“Zea, aku mohon jangan mundur. Kita cari solusi bersama, aku yakin Lily akan baik-baik saja bahkan jika itu tanpa aku.”


Zea mengangguk dan keduanya kembali ke rumah Harry untuk mengambil barang Zea dan pergi pulang.


***


Keesokan harinya, Zea berangkat kerja dan melakukan aktivitas seperti biasanya. Dia sudah terbiasa bekerja menjadi host. Sehingga sudah tidak ada lagi rasa canggung dan takut seperti dulu


“Zea, apa kabar,” sapa Tasya ketika mereka bertemu di ruangan make up.


“Hai, aku baik-baik saja. Kemarin kan kita baru saja bertemu, Tasya,” kata Zea berterus terang.


Tasya tersenyum dan beberapa orang yang tadinya disana pergi meninggalkan mereka berdua di ruang make up itu.


Tasya mendekat ke arah Zea, “Ze, ada yang ingin aku bicarakan.”


“Apa?” tanya Zea penasaran.


Tasya mendekat dan menunjukkan sebuah foto di ponselnya.


“Apa ini?” tanya Zea yang tidak tahu apa-apa.


“Dia ibu Emily, jadi selama ini Emily putri dari menteri Keuangan sekaligus direktur dari perusahaan kita.”


Mata Zea terbelalak mendengarkan penjelasan dari Tasya.


“Berita buruknya, banyak yang bilang pemindahan mu dan pengangkatan Emily di posisi sekarang karena pengaruh ibunya.”


Zea terdiam, dia memang mengira hal itu mungkin. Tapi, siapa ibu Emily dan identitas yang sebenarnya dia tidak tahu sama sekali.


“Lalu, Ze kamu harus tahu ini. Emily menjadi tidak punya teman, semua orang di kantor menatap dia dengan tatapan merendahkan.”


Zea terkejut mendengarkan kata-kata Tasya. Dia menjadi khawatir dan ingin menemui Emily saat itu juga. Tapi, dia tiba-tiba dipanggil Robert karena acara akan segera dimulai.


“Ze, kita mulai sebentar lagi ya,” kata Robert.


Zea hanya bisa mengiyakan dan bergegas pergi ke studio.


"Aku akan menemui mu di jam makan siang ya, tunggu aku pulang," jelas Zea kemudian kepada Tasya.


Zea memulai tampil dengan percaya diri, hanya saja pikirannya ada pada Emily. Dia merasa bahwa dia harus segera menemui Emily secepat mungkin.

__ADS_1


Di jam makan siang, Tasya pergi makan bersama rekan kerja nya. Sehingga mereka berdua tidak bisa bercerita masalah tadi lagi. Sehingga, Zea mencari di kantor Emily dan mendapati Emily pergi dari jam 10 dan belum kembali ke kantor lagi.


“Aku dibawah, mari makan siang bersama,” tulis Harry dalam pesan yang dikirimkan ke Zea.


Zea setuju dan bergegas turun, dia juga ingin membagikan cerita itu kepada Harry.


**


Harry menunggu di taman dekat kantor Zea, di kursi dibawah pohon dengan bekal makan siang yang sengaja dia siapkan.


“Zeze,” panggil Harry ketika dia melihat Zea berjalan dan berdiri mematung sambil celingukan mencari ke kanan dan ke kiri.


"Kamu sudah menunggu lama?" tanya Zea.


"Tidak, baru saja kok."


"Sini duduk," ajak Harry sembari menunjukkan ke arah kursi di sampingnya.


Zea hanya mengangguk dan berkata, “Ada yang ingin aku katakan.”


“Boleh, setelah kita makan ya.”


“Baiklah.”


Keduanya setuju untuk makan dulu dan berbicara setelahnya. Setelah selesai makan, Harry memberikan buah untuk Zea sebagai pencuci mulut.


“Makan ini, manis” kata Harry sekaligus menusukkan buah nanas madu di tusuk buah yang dia berikan untuk Zea.


“Ada apa?” tanya Harry.


“Kata Tasya, teman kantornya mengucilkan Lily, dan berita buruknya mereka menghujat kenaikan Lily sebagai penyiar berita sekarang hasil dari bantuan ibunya.”


Selesai satu masalah, masalah ketidakpercayaan Zea. Kini mereka harus dihadapkan pada perasaan sedih dan iba ketika temannya ditempatkan pada posisi yang buruk. Harry dan Zea tahu sekali bahwa Emily sering dibuli karena sifatnya yang kurang percaya diri. Zea tahu sekali bahwa Emily merasa bahwa ada hal yang tidak bisa dihadapi Emily sendiri, yaitu perasaan kacau karena dibully. Mental Emily memang lemah, dulu dia yang tidak percaya diri karena bentuk tubuh yang menurut dia kurang sempurna, dia yang tomboy, hingga ketidakpercayaan diri yang semakin kuat melekat pada dirinya karena tingginya perundingan yang dia terima dulu.


"Mau temui Emily bersama?" ajak Harry.


Zea mengangguk setuju, keduanya akan pergi ketika sudah pulang kerja. Sebenarnya Zea tidak tahu dimana lokasi rumah Emily. Hanya saja, Harry tahu karena mereka kenal lebih dulu. Bahkan, Harry tidak kaget dengan fakta bahwa Emily anak orang kaya dan orang penting. Hal yang membuat khawatir Harry adalah fakta bahwa Emily mendapatkan perundungan lagi.


***


Sepulang kerja, Zea menunggu Harry di pinggir jalan. Setelah keluar kerja, Harry bergegas menyetir menghampiri Zea.


"Masuk," ajak Harry ketika sudah berada di dekat Harry.


"Kita hampiri dia di rumahnya saja ya," ajak Harry.


"Bukanya dia tingga di apartemen dekat mu?."


"Aku jarang melihatnya Zea, bahkan hampir tidak pernah."


Kalimat dari Harry itu membuat Zea semakin yakin, jika Emily mendapatkan banyak tekanan jika tinggal bersama ibunya. Sebab, setahu Zea sedari dulu. Emily tidak pernah ingin tinggal bersama ibunya, bahkan keluar dari rumah adalah pilihan yang dia inginkan sedari dulu. Jauh dari ibu yang dia kira rumah, tapi nyatanya bukan.

__ADS_1


**


Sesampainya di depan kompleks rumah Emily. Harry mencoba berbicara kepada satpam, meminta izin untuk diperkenankan pulang.


Hanya saja, dia tidak di izinkan walaupun sudah berbincang lama selama lebih dari 20 menit.


"Bagaimana?" tanya Zea ketika menunggu Harry kembali ke mobil.


"Kata ibu Lily, siapapun tidak diperkenankan masuk. Tapi, kata satpamnya Lily sudah keluar dari pagi dan belum kembali."


"Kemana ya kira-kira dia?" pikir Zea.


"Mau cari di tempat biasa dia main?" ajak Harry.


"Boleh," jawab Zea.


Keduanya langsung pergi ke taman tempat biasa Zea dan Emily olahraga, duduk dan makan siang. Restoran dan beberapa tempat. Tapi, nihil. Sampai pukul 20.00, keduanya tidak bisa menemukan keberadaan Emily dan akhirnya memutuskan pulang.


Di depan rumah Zea, Harry melihat ada mobil yang terparkir di sana. Seorang perempuan juga berdiri di depan pintu rumah.


“Bukankah itu, Lily,” ucap Harry.


Zea yang tengah melepaskan seat belt menoleh ke arah rumah dan benar, ada Emily disana. Tanpa aba-aba, Zea langsung turun dan berlari ke arah Emily.


“Lily, kamu baik-baik saja?” tanya Zea.


Emily yang tadi duduk di depan pintu berdiri dan menatap ke arah Zea dengan mata sayu dan sedih. Harry juga menyusul dan berdiri di belakang melihat interaksi keduanya.


“Maafkan aku,” kata Emily.


Zea menggelengkan kepala dan langsung memeluk Emily. Tangis keduanya pecah dan tak terbendung.


Setelah puas menangis, Zea mengajak emily masuk. Harry yang paham situasi, memilih berpamitan pulang agar keduanya memiliki waktu untuk berdua berbincang.


"Zea, maafkan aku," ucap Emily lagi.


Zea yang berada di dapur, membawakan teh susu hangat untuk Emily.


"Kamu tidak perlu meminta maaf, aku sudah memaafkanmua."


"Bagaimana keadaan mu?" tanya Emily.


"Seperti biasanya, kamu sendiri? Tadi aku datang kerumah mu tapi kamu tidak ada."


"Aku tadi bolos kerja, tapi tidak kembali kerumah."


Zea terdiam dan tidak menjawab, dia menatap Emily yang bercerita menunduk menatap ke arah cangkir teh di tangannya.


"Apa kamu ingin tinggal disini bersama ku Lily?" tanya Zea menawarkan.


Emily tersenyum dan menggelengkan kepala, "Besok aku harus pulang, dan pergi untuk yang lama. Jadi, aku tidak bisa memenuhi permintaanmu itu."

__ADS_1


__ADS_2