Missing You : David

Missing You : David
32 Martabak Manis


__ADS_3

David tiba di rumah Zea tiga puluh menit kemudian dengan membawa martabak manis dan telor.


"Assalamualaikum," ucap David di ambang pintu rumah Zea.


"Waaalaikumsalam," jawab Bapak keluar membukakan pintu.


"Oh nak David, mari masuk," ajak Bapak.


David masuk ke dalam rumah mengekor di belakang bapak. Nampak di ruang tamu ada Fadlan dan Ibu yang tengah duduk berbincang.


"Lhu tumben nak David main malam malam?" tanya Ibu.


"Iya Bu, kebetulan pengen main ke rumah sudah lama nggak mampir."


"Owalah sini duduk, Ibu panggil Zea dulu."


"Terimakasih Bu, maaf merepotkan."


"Sini Vid duduk," ucap Fadlan.


"Terimakasih kak."


"Iya santai aja, sini duduk."


"Ini Pak, saya bawa martabak manis masih anget," ucap David sambil menyodorkan makanan yang dibawanya.


"Repot repot nak David, besuk main kesini ya main saja," jawab Bapak.


"Tidak repot sama sekali Pak."


"Syukurlah."


"Gimana Vid masuk kuliah mu?" tanya Fadlan.


"Alhamdulillah lancar kak, aku lewat jaluk nilai raport."


"Owalah syukur, prodi apa?"


"Ilmu Komputer kak."


"Wih anak gaming masuk prodi itu udah sejalan Vid."


"Semoga saja kak," jawab David.


"Aamiin," jawab Fadlan.


Ibu turun dari tangga bersama dengan Aslan. Fadlan dan David menoleh ke arah anak tangga tetapi Zea tak kunjung nampak.


"Hai bro," sapa Aslan menepuk pundak David.


"Halo kak," jawab David.


Ibu pergi ke arah dapur.


"Zea mana tanya Fadlan?"


"Masih di atas katanya bentar lagi turun."


"Owalah."


David hanya manggut manggut mendengar jawaban Aslan.


"Teh nak David, Ibu tidak punya jus kebetulan di kulkas," ucap Ibu sambil menyodorkan cangkir berisi teh untuk David dan Aslan.


"Terimakasih Bu, maaf merepotkan datang malam malam."


"Tidak merepotkan sama sekali nak."


Drt


"Hp mu bunyi Pak," ucap Ibu.


"Benar Bu sebentar."


Bapak pergi ke belakang untuk menjawab telepon.


"Bapak kenapa Bu?" tanya Zea yang bertemu bapak ketika turun dari tangga.


"Ada telepon, dah Ibu masuk dulu ya."


"Oh iya," jawab Zea.

__ADS_1


Zea datang dan duduk di samping Aslan menghadap David.


"Ada apa kak, tumben malam malam?"


"Muka mu kenapa?" tanya David yang melihat mata Zea seperti berkaca kaca.


"Nggak papa."


"Oh iya, aku masih ada urusan. Aku masuk duluan ya," ucap Fadlan yang pergi meninggalkan mereka.


"Lah bukannya besuk libur bang?" tanya Aslan.


"Dah anak kecil mana tahu urusan orang gede."


"Dih iya deh bang iya," jawab Aslan.


"Bapak pergi dulu," ucap Bapak.


"Kemana Pak?" tanya Zea.


"Ronda Ze, mau ikut Bapak?" tanya Bapak nyeleneh.


"Tidak pak," jawab Zea sopan.


"Ya sudah, nak David di minum tehnya. Ze itu David bawa martabak di buka taruh piring."


"Oh iya Pak."


Bapak pergi setelah mendapat telepon dari Pak Rebo untuk jaga ronda malam berganti.


"Sebentar ya," ucap Zea ke dapur membawa kantong plastik berisikan martabak dan camilan tersebut.


"Heem," jawab David mengangguk.


"Zea nangis ya kak?" tanya David ke Aslan.


"Tanya aja langsung Zea nya."


"Hm yadeh," jawab David.


"Makasih ya repot repot bawa makanan ke rumah," ucap Zea sambil menyodorkan piring berisi martabak dan makanan ringan lainnya.


"Nggak repot kok, aku mau nanya Ze."


"Martabak nya manis Vid, beli dimana?" tanya Aslan memotong pembicaraan.


"Perempatan dekat Pasar Buah kak."


"Owalah enak, besuk kesana lah beli."


"Iya iya kak," potong Zea dengan nada kesal.


"Haha, ya udah Kakak tungguin di teras ya dik."


"Lha ngapain di teras kak?" tanya David.


"Nggak papa, dah kalian ngobrol dulu."


"Disini aja kak," ucap Zea.


"Kasihan David Ze, kesini bawa makanan."


"Ha?" tanya Zea dengan muka heran.


"Apa hubungannya kak?" tanya Zea.


"Ikan hiu makan pangsit, dah jangan banyak tanya sist," jawab Aslan sambil tertawa cekikikan.


Zea hanya menggelengkan kepalanya heran dengan tingkah kakaknya yang satu itu. Dia peka dengan memberi ruang untuk David dan Zea berbicara.


Aslan keluar dengan membawa piring berisi martabak dan separuh makanan ringan.


"Kamu habis nangis ya?" tanya David.


Zea terdiam mendengar pertanyaan David. Ruangan itu sunyi hanya terdengar suara televisi yang dinyalakan sedari tadi oleh Bapak.


"Kenapa nggak dijawab?" tanya David lagi.


"Iya," jawab Zea jujur.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Aku rasa kita mulai jauh, kamu jarang kasih kabar ke aku."


"Ze, kamu tu pacar ku. Semua orang juga tahu itu, kalaupun satu jam aku nggak kasih kabar artinya aku belum sempat."


"Iya, kita publish hubungan kita ke semua orang. Tapi emang wajar keluar nggak kasih kabar?"


"Kamu marah karena aku keluar tadi?"


"Aku nggak marah Dav," jawab Zea dengan nada sedikit meninggi.


"Aku nggak ngerti Ze, tapi apa yang bikin kamu marah."


"Aku nggak marah David, aku cemburu."


"Kamu nggak manggil sayang dan manggil nama aku artinya kamu marah Ze," potong David.


"Aku nggak suka kamu keluar sama temen cewek dan nggak kasih kabar. Udah itu aja."


"Owalah, karena aku keluar sama Sela, Angel gitu kamu cemburu?"


"Aku nggak nuduh kamu selingkuh ya Dav, tapi kamu beda dan kamu sering keluar tanpa kabar."


"Aku cuma kumpul sama teman SMA sebelum kita sama sama sibuk karena kuliah."


"Iya, tapi aku siapa? Pernah kamu bayangin aku seharian nunggu chat aku dibales tapi kamu nggak bales dan nyatanya kamu main sama mereka."


David terdiam mendengar ucapan Zea dengan nada marah. Mata Zea sayup pilu, pemandangan yang menyesakkan dada.


"Kamu bayangin perasaan ku?" tanya Zea.


"Maaf," jawab David.


Zea terdiam menunduk dengan air mata di pelupuk penuh. Entah siapa yang menaruh bawang di bawah mata Zea tapi itu terasa sangat pedih.


"Maaf sayang," ucap David sambil memegang tangan Zea.


Zea merasakan David tulus berbicara.


"I..iya," jawab Zea serak.


"Jangan nangis lagi, nanti dikira Ibu sama kak Aslan aku jahatin kamu."


"Emang bener kamu jahat," jawab Zea ketus. Niatnya bercanda jatuhnya David minder beneran.


"Maaf ya, bareng aku kamu sakit hati."


"Nggak sakit tuh, biasa aja."


"Halah bohong, dah cup jangan cengeng."


David mengusap air mata Zea yang tersisa di pipi dan menggenggam tangan Zea erat.


"Besuk main yuk," ajak David.


"Mana sempat, bentar lagi ujian Dav," jawab Zea.


"Kok Dav?"


Zea menoleh dengan raut wajah bersalah karena terlihat jelas bahwa David kecewa mendengar Zea memanggil namanya.


"Maaf sayang, main habis ujian aja ya."


David mengangguk sambil tersenyum.


"Martabak nya enak katanya kak Aslan, nih cobain," ucap David sambil menyuapi Zea.


"Enak nggak?" tanya David.


"Enak kok, manis kaya aku."


"Iya manis banget kaya kamu."


Mereka berdua berbincang sebentar hingga akhirnya sudah hampir pukul 10 lewat 15. David berpamitan kepada Aslan dan Fadlan. Ibu sudah tidur sehingga tidak dibangunkan.


"Hati hati Vid," ucap Aslan ketika motor David meninggalkan halaman rumah mereka.


"Udah kangen nya?" tanya Aslan.


"Harusnya udah As," jawab Fadlan.


"Ih kalian apaan sih kak godain aku. Sana tidur."

__ADS_1


Zea pergi untuk membereskan sisa makanan dan piring kotor. Sedangkan kedua kakaknya duduk di ruang tamu menonton televisi.


"Tadi pas aku mau buka What**pp kenapa nggak boleh ya?" batin Zea heran dengan tingkah David yang aneh ketika dia hendak membuka aplikasi Whats**pp di ponsel David.


__ADS_2