Missing You : David

Missing You : David
27 Cemburu


__ADS_3

Sampai di rumah Zea memikirkan bagaimana menyisihkan uang atau bekerja untuk mengembalikan biaya rumah sakit milik Aslan yang dibayarkan oleh David. Zea tidak mungkin memberitahu bapak bahwa David yang lebih dulu membayar tagihan rumah sakit milik Aslan. Zea takut jika bapak nantinya justru memandang David sebagai seseorang yang memanfaatkan kekayaan dan kekuasaan untuk mendapatkan Zea. Padahal Zea bersama David karena suka bukan karena hutang.


"Aku harus bagaimana ya? Oh iya penghasilan dari channel YouT*be ku. Aku bisa menggunakan itu walaupun nantinya tidak banyak setidaknya akan membantu."


Seseorang mengetuk pintu kamar Zea.


"Zea," panggil Aslan.


"Iya kak?"


"Dik kakak boleh masuk?"


"Boleh masuk aja."


"Tumben pulang jam segini biasanya main sama David pulang jam 5 an atau malam."


"Kenapa sih kak, orang juga pulang jam 2 apa salahnya."


"Ngga salah tapi mungkin ada masalah apa gitu?" tanya Aslan meyakinkan.


Deg deg


Jantung Zea berdegup kencang dia takut jika nanti dia keceplosan di depan Aslan.


"Ngga ada masalah tu," ucap Zea berbohong.


"Yakin?" tanya Aslan meyakinkan.


"Yakin banget," jawab Zea sekali lagi berbohong.


"Oh ya udah kalau gitu. Tadi David tanya apa kamu udah sampai rumah belum makannya aku nanya."


"Owalah dia wa gitu. Aku baik baik aja kok kak kita ngga lagi berantem."


"Ya udah deh. Tapi kalau sampai kalian berantem ya ngomong aja biar kakak yang maju."


"Ih apaan emang David bakal ngapain sampai harus kakak maju segala?"


"Kita ngga tahu dik, tapi yang namanya pacaran yang gitu ada pasang surutnya."


"Memang semenjak putus dari mbak Lista kak Aslan ada punya pacar? Ngga kan?" tanya Zea dengan sedikit nada mengejek.


"Hm ya belum."


"Ya udah sih, ngga usah terlalu mikirin aku sama David. Kita baik baik aja kok kak."


"Hm yadeh yang susah dikasih tahu. Walaupun kakak sekarang singel tapi kakak dulu fuc*k boy jaman SMA jadi udah banyak makan garam dik," jawab Aslan sombong.


Memang benar jika Aslan memiliki postur dan wajah yang tampan. Dulu ketika SMA dia memang memiliki kekasih. Terkadang setiap semester Aslan berganti pacar. Zea sering di belikan mainan dan makanan oleh kekasih Aslan. Terkadang ketika akhir pekan dia datang ke rumah dengan alasan mengunjungi Zea padahal untuk bertemu dengan Aslan.


"Fuc*k tapi kok jomblo huh," ejek Zea.


"Bukan jomblo tapi single."


"Single apaan jomblo ngenes juga iya haha."


"Terserah deh, yang penting adikku ngga boleh nangis apalagi masalah cowok. Nanti aku yang maju."


"Terserah," jawab Zea acuh.


"Dasar nakal," ucap Aslan mengelus rambut Zea.


Aslan pergi meninggalkan kamar Zea. Sementara di kamar Zea kembali memikirkan cara menghasilkan uang.


*****


Sebulan kemudian, Zea mengikuti acara perlombaan bermain game yang diadakan ikatan mahasiswa program studi Ilmu Komunikasi Universitas G sebagai pemain solo. Sebelum bermain, dia sempat memikirkan apakah benar jika dia datang bermain akan menang. Tetapi setelah berlatih bersama David dengan bersungguh-sungguh Zea yakin akan mendaftarkan diri mengikuti perlombaan tersebut.


Pendaftaran tersebut dibayar oleh Fadlan yang mengetahui jika Zea ingin mengikuti perlombaan tersebut.


Di Ruang Makan

__ADS_1


"Bapak, ibu doakan adik ya," ucap Zea di ruang makan.


"Tentu saja nak, semoga dilancarkan urusan mu dan semoga mendapatkan hasil yang baik," ucap bapak.


"Aamiin," jawab ibu.


"Nanti bareng kakak aja," pinta Aslan.


"Kamu mau kemana as?" tanya ibu.


"Ke kampus Bu lihat adik main."


"Lha tumben sekali biasanya kamu ngerjain tugas kalau hari Sabtu."


"Hari ini skip Bu, aku dah kerjain kemarin siang."


"Owalah ya bagus, ibu malah jadi yakin kalau gitu."


"Iyalah kerja cerdas hihi," jawab Aslan sombong.


Zea datang diantarkan oleh Aslan. Sesampainya di kampus beberapa mahasiswa teman Aslan memperhatikan langkah mereka. Mereka mengira Aslan berpacaran dengan anak SMA.


"Dah kakak anter sampai sini aja ya dik," ucap Aslan sambil menunjuk tempat registrasi ulang peserta.


"Iya kak," jawab Zea sambil menganggukkan kepalanya dan tersenyum.


Seseorang datang menghampiri mereka ketika Zea hendak meninggalkan Aslan.


"As, dia siapa?" tanya wanita itu dengan raut wajah marah.


"Kenapa memang? Apa peduli mu?" tanya Aslan.


Zea bingung melihat apa yang terjadi memilih terdiam saja melihat kejadian di depannya.


"Mungkin kekasih kakak," batinnya dalam hati.


"Aku bertanya. Siapa dia?" tanya wanita itu sambil membentak.


Zea mengangguk dan meninggalkan mereka berdua.


"No. Jangan pergi ya," cegah wanita itu sambil menggenggam tangan Zea keras.


Aslan mendidih dibuatnya.


"Lepas!" pinta Aslan kepada wanita tersebut.


Melihat raut wajah Aslan yang marah, wanita tersebut melepaskan genggaman tangan Zea


"Sudah kamu pergi saja," ucap Aslan lembut.


Zea pergi berjalan sedikit cepat menuju meja registrasi ulang peserta.


"Siapa dia? Kamu bermain dengan anak kecil? Aslan aku tidak menyangka selera mu seperti itu," ucap wanita itu mencaci.


"Aku tidak peduli dengan pendapat mu. Tetapi yang aku tahu kamu tidak berhak atas hidup ku lagi. Jangan pura pura peduli dengan bertanya apapun lagi kepadaku."


"Aku masih kekasih mu," jawab wanita itu tidak tahu malu.


"Kekasih? Setelah apa yang kau lakukan bersama Fandi kamu bilang kekasih? Apa dia sudah membuang mu Sella? Hingga kamu mau datang kembali kepada ku."


"Jaga ya omongan mu. Tidak ada satu pun lelaki yang pernah membuang ku."


"Bagus kalau begitu. Pergi dari hidupku dan kembali kepada Fandi. Kamu bukan siapa siapa lagi bagiku."


"Tidak Aslan. Aku salah maafkan aku."


"Cih, buaya wanita. Aku ada urusan jangan menganggu ku.


Aslan pergi meninggalkan Zea menghampiri teman temannya. Zea sudah di dalam gedung untuk bertanding.


Putaran pertama, Zea mendapatkan ranking tertinggi. Putaran Kedua dia lolos masuk ke babak final. Pertandingan final di tunda selama 1 jam sebagai waktu istirahat makan siang.

__ADS_1


Zea keluar gedung untuk mencari makanan. Semula Aslan mengirimkan pesan jika dia menunggu di kos tempat temannya.


"Maafkan aku kak," ucap seorang anak laki laki yang menabrak Zea yang tengah berdiri.



"Lain kali kalau jalan hati hati ya," pinta Zea pada adik kecil tersebut sambil tersenyum.


"Baik kak."


Anak yang menabraknya tadi lalu pergi berlari mengejar temannya setelah meminta maaf kepada Zea.


"Ze," panggil David dari kejauhan.


"Dav."


"Kenapa anak tadi?"


"Oh tadi jatuh nabrak aku pas lagi lari."


"Terus kamu gimana? Ada yang luka? Ada yang sakit?"


"Baik baik aja kok masih utuh hehe."


"Ya syukur," ucap David sambil mengelus elus rambut Zea.


"Kenapa kamu bisa ada disini Dav? Bukanya kamu ada acara di S*lo? tanya Zea.


"Acaranya sudah selesai. Aku datang untuk mengamankan kekasih ku," jawab David percaya diri.


David langsung memegang tangan Zea dan mengulurkan kantor berisi makanan dan camilan.


"Makan dulu cantik," ucap David.


"Terimakasih sudah repot membawa makanan untuk ku."


"Tidak repot sama sekali."


Revan dan Justin berhenti di belakang melihat kemesraan Zea dan David. Semula mereka berniat mengajak Zea makan siang tetapi sudah ada pawang yang datang mengamankan Zea. πŸ˜‚


Mereka makan di kursi panjang di dalam koridor yang sepi.


"Kenapa kamu bisa tahu aku pas ada di situ?" tanya Zea.


"Ada deh, aku tidak suka kamu dikerubungi seperti gula."


"Ha?" tanya Zea tidak percaya.


Flashback


Setelah bertengkar dengan Sella, Aslan memilih pergi meninggalkan kampus menuju kamar kos milik temannya. Seorang teman mengirimkan pesan gambar kepada dirinya bahwa adiknya menjadi sangat populer di kalangan pemain dan panitia lomba. Banyak yang menghampiri Zea.


Aslan mempunyai ide yang bagus untuk menjaga adiknya tanpa harus turun tangan langsung ke sana. Dia tidak ingin bertemu lagi dengan Sella.


Aslan meneruskan gambar tersebut ke pada nomor Wh*tsApp milik David.


πŸ“±: "Kau lihat gula yang sangat manis itu sedang dikerumuni oleh buaya dan semut nakal. Kau yakin tidak akan mengamankannya?" isi pesan Aslan kepada David.


David tengah duduk di dalam mobil bersama teman temannya akan pulang ke kos. Hatinya terbakar api cemburu melihat Zea.


David memilih menancap gas mobilnya cepat menuju kampus.


"Vid pelan pelan aja," ajak Alvin.


"Bentar gue ada urusan basmi hama."


"What?" tanya seisi mobil yang kaget dengan pernyataan David.


Off


"Bukan apa apa Zeze cantik.Sudah lanjutkan makanmu."

__ADS_1


Zea menurut dengan menghabiskan makanan yang dibawakan oleh David tanpa sungkan.


__ADS_2